LiputanIndonesia.co.id, Dunia -- Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma memutuskan tidak ada kenaikan
Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) untuk tahun akademik 2016 menyusul
protes nasional selama lebih dari seminggu.
Keputusan diambil pada Jumat (23/10) setelah digelar perundingan dengan para pemimpin mahasiswa dan perguruan tinggi.
Kubu mahasiswa menolak plafon kenaikan uang kuliah 6% yang ditetapkan pemerintah, lebih rendah dibanding kenaikan 10-12% yang diusulkan manajemen perguruan tinggi. Pengelola perguruan tinggi menyatakan kenaikan ini penting dilakukan untuk meningkatkan standar pendidikan, sedangkan subdisi pemerintah mengalami pemotongan.
"Kami sepakat tidak akan kenaikan uang kuliah tahun 2016," tegas Jacob Zuma.
"Dalam jangka panjang, ada serangkaian masalah yang kami bahas dalam pertemuan dan perlu ditindaklanjuti - termasuk pendidikan gratis, otonomi kelembagaan dan rasisme."
Sebelum dicapai kesepakatan, berbagai unjuk rasa digelar di seluruh negeri. Sejumlah perguruan tinggi bergengsi bahkan terpaksa ditutup karena protes ini.
Di ibu kota Pretoria, polisi menggunakan meriam air dan granat kejut untuk membubarkan mahasiswa yang hendak menerobos garis polisi di sekitar kantor presiden.
Gelombang protes ini tercatat sebagai unjuk rasa mahasiswa terbesar yang melanda negara itu sejak apartheid berakhir pada 1994.(BBC)
Keputusan diambil pada Jumat (23/10) setelah digelar perundingan dengan para pemimpin mahasiswa dan perguruan tinggi.
Kubu mahasiswa menolak plafon kenaikan uang kuliah 6% yang ditetapkan pemerintah, lebih rendah dibanding kenaikan 10-12% yang diusulkan manajemen perguruan tinggi. Pengelola perguruan tinggi menyatakan kenaikan ini penting dilakukan untuk meningkatkan standar pendidikan, sedangkan subdisi pemerintah mengalami pemotongan.
"Kami sepakat tidak akan kenaikan uang kuliah tahun 2016," tegas Jacob Zuma.
"Dalam jangka panjang, ada serangkaian masalah yang kami bahas dalam pertemuan dan perlu ditindaklanjuti - termasuk pendidikan gratis, otonomi kelembagaan dan rasisme."
Sebelum dicapai kesepakatan, berbagai unjuk rasa digelar di seluruh negeri. Sejumlah perguruan tinggi bergengsi bahkan terpaksa ditutup karena protes ini.
Di ibu kota Pretoria, polisi menggunakan meriam air dan granat kejut untuk membubarkan mahasiswa yang hendak menerobos garis polisi di sekitar kantor presiden.
Gelombang protes ini tercatat sebagai unjuk rasa mahasiswa terbesar yang melanda negara itu sejak apartheid berakhir pada 1994.(BBC)








Media Liputan Indonesia
DIATUR OLEH UNDANG - UNDANG PERS
No. 40 Thn. 1999 Tentang Pers
HAK JAWAB- HAK KOREKSI-HAK TOLAK
Kirim via:
WhatsApps / SMS:08170226556 / 08123636556
Email Redaksi:
NewsLiputanIndonesia@gmail.com
PT. LINDO SAHABAT MANDIRI
Tunduk & Patuh Pada UU PERS.
Komentar