Menu
Media Liputan Indonesia - Mengemban Tugas Social Control Masyarakat, Bekerja Berdasarkan UUD No: 40 Thn 1999 Tentang PERS | Wartawan kami di TKP dilengkapi Kartu Tugas dan ID Card PERS, Jika ada Wartawan kami menerima Suap / Imbalan terhadap narasumber harap laporkan ke Redaksi (Klik Disini) atau 08170226556 & 081259764162, kami butuh Dukungan Saran serta Kritik Anda. Kami ada untuk Anda. Info Keberangkatan Jamaah Haji Hari Ini

Slider

LIPUTAN_TERKINI_by_liputanindonesia.co.id
LIPUTAN_TERKINI_by_liputanindonesia.co.id
    Kabar Hari Ini - Berita Harian,  #1 Terkini, Terbaru dan Populer, Berita Indonesia,terkini,liputan indonesia,ekonomi,bisinis,Gaya Hidup,HuKum,kriminal,Info Haji,PILKADA,PILKADES,pilwali,Kesehatan,Kuliner,Laporan Masyarakat,Liputan Hari ini,Liputan Investigasi,liputan khusus,Liputan regional, Liputan Dunia,Liputan Indonesia,Liputan Regional,Liputan UTAMA,Movies,Music, olahraga,Opini Rakyat,otomotif,Pendidikan,Peristiwa,politik,Religi,sejarah, Selebritis,Seni Budaya,Batu Akik Permata,Technology,Tips Trick,Tour Wisata

    HuKrim

    politik

    Peristiwa

    Gaya Hidup

    ShowBiz

    Ekonomi dan Bisinis


    Surabaya, Liputan Indonesia - Persidangan Lanjutan Tabrak Lari dan Perampasan Kamera kembali digelar di pengadilan Negri Surabaya, kali ini dihadirkan Slamet maula (32) adalah saksi korban untuk memberikan keterangan dalam sidang lanjutan perampasan kamera dan tabrak lari yang di lakukan irene madalena (40) di Pengadilan Negeri Surabaya, senin  (26/9/2016) di ruang sidang cakra.

    Dalam kesaksiannya slamet mengatakan, dirinya pada saat pulang dari liputan kerja di tengah perjalan melihat kejadian tabrak lari, yang mengakibatkan seseorang meninggal dunia.

    " Dalam Peristiwa tabrak lari itu di lakukan oleh irene, saya kejar untuk mengambil moment gambar pelaku tabrak lari, kemudian irene dengan secara kasar dan paksa merampas kamera saya dan mengeluarkan kata nada kotor yakni,'saya tidak nabrak orang, saya nabrak bok kamu itu wartawan jancok," terang slamet kepada majelis hakim yang turut dihadiri terdakwa Irene Madalena.

    Masih, irene sempat berulang kali ke rumah saya dengan menawarkan untuk mengganti kamera saya yang rusak lantaran di rampas oleh dia, dengan memberikan saya uang 10jt rupiah untuk mencabut perkara tersebut," kata  slamet kepada efran basuning

    Tapi pihak slamet tidak mau menerima uang 10jt rupiah karena irene merasa tidak mau meminta maaf kepada saya,"imbuh nya di hadapan ketua majelis hakim

    Selain itu, slamet mengaku trauma atas kejadian tersebut.
    "Iya masih terbayangki sampai sekarang," ujarnya. Kepada Efran Basuning

    Saat dakwaan sebelumnya, ketua mejelis hakim Efran Basuning sempat dibuat kesal oleh terdakwa Irine. Saat itu usai membacakan dakwaannya, hakim Efran bertanya kepada terdakwa Irene apakah dirinya mengajukan eksepsi (bantahan atas dakwaan) atau tidak. Namun terdakwa Irene terlihat bingung atas pertanyaan hakim Efran. “Makanya jadi wanita itu jangan cuman cantik, tapi juga harus smart atau pandai juga,” ketus hakim Efran kepada terdakwa Irine.

    Terpisah, terdakwa irene membantah keras bahwa tidak pernah merampas kamera milik slamet maulana, entah siapa yang merampas kamera karena di depan discoutiq M1 banyak orang yang melihat termasuk polisi," ujar irene

    Ketika setelah usai sidang slamet maulana di tanya orang tak di kenal dan di tanya bahwa perkara sama irene madalena harus bisa damai klau tidak bisa damai akan di bunuh," ucap slamet dengan nada takut karena orang tak dikenal membawa 4 Garpu yang mau menusuk perutnya. (tim/red)

    - - - - -



    Surabaya, Liputan Indonesia - Satuan Reskrim Polrestabes Surabaya berhasil melakukan pengungkapan dengan menembak mati satu tersangka yang memang selama ini sangat dicari oleh satuan Reskrim Polrestabes, Karena keterlibatannya dalam tindak pidana serangkaian puluhan pencurian kendaraan bermotor jenis L300. Minggu, (25/9/16).

    Petugas telah mengincar Gembong pencurian kendaraan bermotor jenis L300 ini sudah berbulan bulan, pada akhirnya petugas berhasil menyergap para pelaku, diantara nya Muhammad Abdurrahman Shaleh alias Muhammad Soleh alias kobayashi alias shading alis durahman dan Azis serta Selvi warga Jetis Timur.


    Hal ini terjadi, tidak hanya di wilayah timur tangkil di Mulyorejo Sawahan dan beberapa TKP lainnya pengungkapan dilakukan pada 00:30WIB tepat di belakang Polsek Simokerto, Kampung Cantian Tengah, saat itu pelaku terpaksa diberikan tindakan tegas oleh penyelidik karena membahayakan petugas dengan dua bilah pedang penghabisan yang sudah diayunkan, dan digunakan bahkan telah menganiaya satu anggota atas nama Iptu kasum terkena sabitan pedang pada bagian tangan kanan dan luka pada bawah ulu hati sebanyak 20 jahitan. 


    " Sampai saat ini memang kita tidak memperoleh bukti tentang penggunaan senpi namun yang berhasil kita kembangkan bersama dengan teman-teman Brimob detasemen A Medaeng dengan menyentuh langsung tempat tinggal tersangka di desa jaddih Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan.

    Kita mengamankan berbagai jenis senjata tajam 9 STNK L300 dari berbagai TKP kemudian satu unit motor plat nomor S yang kita duga menjadi sarana untuk para tersangka melakukan aksi di Surabaya juga beberapa kunci “ L “yang memang sudah dimodifikasi Lancip pada ujungnya Aku ini adalah pelaku yang memang melakukan aksi tembak-menembak saat akan disekap oleh anggota Resmob Polrestabes pada sekitar Agustus lalu di Jembatan Suramadu.


    Dua pelaku lainnya atas nama Azis dan Selvi warga Jetis Timur kami akan kejar sampai kemana pun yang bersangkutan dan Kami menghimbau  agar segera menyerahkan diri, cenderung kalau sudah berjalan maka ada Tim penyapu 1 dan 2 yang masing-masing mengendarai satu kendaraan bermotor ,  untuk memastikan bahwa di depan tidak ada halangan termasuk operasi dari pihak kepolisian. " Tutur ABKP Shinto Silitonga selaku Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya. 





    " Pelaku yang ditembak mati ini adalah Kapten organisatoris (Otak Pelaku) orang yang merekrut pelaku-pelaku lainnya menggerakkan pelaku-pelaku lainnya untuk sama-sama mencuri L300 dan saat ini ketika ditangkap di kampung cantik dia berhasil merekrut 1 tersangka lainnya, yang kami temukan adalah lakon baru. penangkapannya jadi wajah baru tidak menggunakan personil yang lama, jadi kami yakinkan bahwa pelaku yang ditembak mati ini adalah pelaku yang menjadi organisatoris dari kelompok surat-surat Immortal 300 ini. 



    Mereka dikenal sebagai pemakai narkoba dan sebelum Mereka mencuri L300 biasanya menggunakan narkoba di salah satu diskotik di Surabaya. sampai dengan pukul 04.00 dini hari dan keluar dari diskotik tersebut kemudian mencari sasaran baik di wilayah timur maupun sambil berjalan arah pulang ke Madura, jadi sasaran mereka memang selektif pada apa yang dilihat dan memberikan peluang atau kesempatan untuk diambil kelompok ini. 

    Satu tersangkanya sudah ditangkap pada April lalu oleh Polsek Bubutan dan kemudian berdasarkan hasil nama masing-masing pelaku ini satu Muhammad Abdurrahman Shaleh alias Muhammad Soleh alias kobayashi alias shading alis durahman ini sudah muncul dp-nya di Polsek Bubutan kemudian satu lagi atas nama shaalih. " Tambah ABKP Shinto Silitonga.

    Dalam Kasus ini Kepolisian Polrestabes Surabaya membuktikan bahwa pengintaian dan perburuan tersangka menuai hasil yang bagus, walaupun belum semua anggota kelompok pencurian kendaraan bermotor ini tertangkap semua, sesuai harapan masyarakat agar kedepan kota Surabaya lebih aman dari pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor. (ishak)
     

    - - - - - - - -



    Surabaya, Liputan Indonesia - Itikad baik dari pihak Polisi Polrestabes Surabaya, terkait kasus salah  tembak sasaran oleh anggota Polrestabes yang pada saat melakukan pengejaran para pelaku pencurian mobil box bernopol L 8248 GJ di jembatan Suramadu (26 Agustus 2016), Tukang sapu Alfi Nuril Fitrah 34th warga Gedung Cowek Surabaya menjadi korban salah sasaran tembak  peluru ‘Polisi’ dan disertai permintaan Maaf langsung dari Polrestabes Surabaya atas kasus kecelakaan salah tembak itu.

    Keluarga korban tidak akan menuntut jalur Hukum Perdata maupun Pidana karena pihak Kepolisian dan keluarga sudah menyepakati melalui surat pernyataan yang dibuat oleh Polisi, Sampai saat ini, pihak kepolisian Polrestabes Surabaya tidak melanjutkan kasus salah tembak yang berakibat meninggalnya sang tukang sapu Tol Suramadu itu. Hal ini disampaikan pihak keluarga korban salah tembak (alm) Alfi melalui kakak kandung Nurlaila (52). 

     Saya selaku kakak korban Kasus salah tembak yang berakibat adik saya (Alfi) meninggal dunia, saya orang beragama Islam, ikhlas dengan Takdir mas, atas kematian adik saya (alm) Alfi sekalipun pihak polisi tidak mengungkap kebenaran kasus itu, sebab itu adalah musibah dan itu adalah unsur kecelakaan serta sudah Takdir Ilahi . Walaupun dari kepolisian tidak mengakui proyektil peluru yang bersarang diperut Alfi itu miliknya Saya ikhlas dengan takdir, bukti pihak polisi menyodorkan surat pernyataan yang isinya tidak melakukan otopsi serta tidak menuntut secara pidana maupun perdata dikemudian hari,” ungkap Nurlaila.

    “ Kita sepakat sekeluarga menandatangani surat pernyataan yang dibuat pihak kepolisian. Dengan  santunan yang diberikan kepada keluarga yaitu mendapat Rp10 juta dari Pak Shinto dan Rp10 juta dari Pak Agung. Ya kita terima saja sebab kasihan yang meninggal, agar Alfi tenang disana, Keikhlasan saya dan keluarga tidak melihat uangnya yang hanya RP20 juta, akan tetapi saya menghargai niat baik dari pihak kepolisian dan saya Pasrah kepada Tuhan Y.M.E saja mas “ tegas Nurlaila.

    Kakak Korban  (alm) Alfi Nurlaila mengatakan, pihak Propam Polda  juga pernah mendatangi rumah saya dengan maksud menanyakan kronologis kejadian salah tembak  dan latar belakang adik saya Alfi.

     “ Sejak awal Polres dan keluarga tidak ada persepsi mas, dan kita hanya memberikan santunan supaya bisa meringankan beban keluarganya ” pungkas singkat Saat dikonfirmasi melalui telepon seluler Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga atas santunan dan surat pernyataan kepada pihak keluarga  Korban, Selasa (20/9).

    Himbauan dari, Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji saat kedatangan Kapolri lalu di Mapolda Jatim kepada sejumlah wartawan mengatakan, untuk kasus salah tembak di jembatan Suramadu agar Kapolrestabes segera menyelesaikan kasus tersebut, agar pihak keluarga korban tenang.

    - - - - - - -


    Surabaya, Liputan Indonesia - Penangkapan Sapto Peristiawan Yudho Nugroho berdasarkan Sprin-Kap Nomor: SP Kap/87/IX/2016/Reskrim Polsek Bubutan, Pria remaja berusia 20 Tahun yang beralamat dijalan Babadan Rukun Surabaya diduga cacat hukum (salah tangkap), penetapan tersangka terhadap Sapto Yuho Nugroho tidak didasari oleh alat bukti dan Barang Bukti (BB) yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP, tidak adanya saksi yang kuat dalam menentukan status tersangka dan melakukan penangkapan serta penahanan. Tidak adanya Surat Pemberitahuan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang disampaikan kepada keluarga hingga saat ini. Terlebih korban (Jaka) beralamat jalan Krembangan barat Surabaya yang melaporkan kepada pihak Kepolisian salah menyebut nama tersangka (Sapto Peristiawan Yudho Nugroho) dengan nama Nur sebagai orang yang dituduh merampas kendaraan bermotor milik korban (Jaka).

    Selain itu, berdasarkan hasil investigasi Pimred Media Liputan Indonesia penangkapan ini terkesan salah tangkap dan melanggar HAM, juga masih memakai cara-cara Orde Baru, memaksa mengakui serta menyiksa tersangka (Sapto Peristiawan Yudho Nugroho). Dengan adanya penyiksaan, pemukulan serta disuruh mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya, dan juga menandatangani sejumlah berkas dibawah tekanan polisi untuk mengakui perbuatan yang tidak dilakukan oleh Sapto dengan tuduhan melakukan penipuan, penggelapan, pemerasan sebagaimana datur dalam Pasal 378 jo Pasal 372 jo Pasal 368 KUHPidana. Hal dimksud sangat menciderai dan bertentangan jelas dengan Asas Praduga Tidak Bersalah dan Asas Kedudukan yang sama dimuka Hukum karena dalam proses pemeriksaan tidak didampingi oleh kuasa hukum.

    “ Penangkapan ini saya nilai salah kaprah mas, Sapto ditangkap dengan kasus yang tidak mungkin dilakukan oleh Sapto karena Sapto sendiri mempunyai sepeda motor yang atas nama Sapto sendiri, dapat dibuktikan dengan STNK atas nama Sapto Peristiawan Yudho Nugroho. Saat kami menjenguk, Sapto menuturkan jika dirinya  di siksa, dipukul sama selang air, kepala dibungkus tas kantong plastik hitam dan di kepruk dengan kursi dibagian kepala, disetrum,  serta dipukul lututnya dengan palu dan dipaksa mengakui kasus Penipuan, Penggelapan, Pemerasan dengan menandatangani surat pernyataan pengakuan oleh Reserse Polsek Bubutan Surabaya, alibi polisi hanya berdasarkan massa yang diduga sudah direncanakan “ Ungkap keluarga  Sapto Peristiawan Yudho Nugroho.

    Di hari dan waktu yang berbeda Minggu, 25/9/2016 Kuasa Hukumnya menjenguk serta menjelaskan " Penetapan tersangaka tidak didahului dengan proses penyelidikan dan alat bukti yang sah, selain itu sejak dilakukan upaya paksa penangkapan dan penahanan, hingga saat ini tidak ada Surat Pemberitahuan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang disampaikan kepada keluarga Sapto, dan ketika pengacara korban meminta hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersangka kepada pihak Kepolisian tidak diberikan, padahal hal dimaksud merupakan hak-hak tersangka untuk kepentingan pembelaan yang diatur dalam Pasal 72 KUHAP, Perkap No 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan dan atau Perkara No 3 Tahun 2014 tentang SOP Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana  " Tutur Bagus Teguh Santoso,SH.,MH selaku Ketua Tim Kuasa Hukum keluarga Sapto.

    Menurut  laporan penelusuran tim  LSM Indonesia Social Control ( ISC ) yang dipimpin oleh saudara M.Rafik selaku koordinator  penerima aduan patut diduga adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia kepada awak Media Liputan Indonesia menyatakan " Saudara Sapto Peristiawan Yudho Nugroho tidak mengenal korban perampasan sepeda Honda Beat Nopol L 2880 RO dan saat terjadinya kehilangan sepeda motor itu saudara Sapto berada dirumahnya sesuai dengan informasi keluarga dan sejumlah tetangganya. Menurut info yang didapat Kanit Serse Polsek Bubutan AKP Budi Walujo,SH.,M.Hum sepeda motor tersebut raib pada hari rabu pukul 17:00 wib sore namun fakta yang didapat dari warga sekitar kediaman, saudara Sapto hari rabu pukul 16:00wib sedang berada di gapura kampung dekat rumah bersama beberapa warga dan pukul 17:00 wib sore sampai 19:30 wib saudara Sapto berada di rumah temannya sekampung  dan sekitar pukul 19:31 wib diajak temannya tersebut pergi ke Giant Rajawali. “ Ujar M.Rafik kepada awak media Liputan Indonesia.


    Oleh sebab itu kami selaku dari LSM ISC butuh mendalami lebih lanjut terkait fakta-fakta yang kami dapatkan perihal langkah-langkah apa yang akan kami tempuh, termasuk apakah perlu melanjutkan pengaduan masyarakat ini kepada KOMNAS HAM, KOMPOLNAS dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta tidak lupa kami akan meminta perlindungan hukum kepada Bapak Kapolda Jawa Timur.” Tambah M.Rafik (tim/one).

    - - - - - - - - - -



    Manado, LiputanIndonesia.co.id - Saat rapat Paripurna HUT Provinsi Sulawesi Utara ke-52 jumat 23 September 2016 meninggalkan kesan kurang baik untuk pemerintahan Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Sulut Steven Kandouw dimana Wartawan Metrotv diusir keluar. Sabtu,(24/9/16).

    Wartawan Metrotv manado diperlakukan tidak adil dimana saat paripurna berlangsung diusir dari ruangan.

    Kejadian bermulah saat Wartawan Metrotv Aldrin Salendu menolak keluar dari ruangan paripurna DPRD Sulut disaat Gubernur Sulut Olly Dondokambey menyampaikan pidato. Alasan menolak keluar ruangan disebkan membutuhkan gambar yang dilengkapi suara audio yang jelas.

    "Saya diminta keluar ruangan mengambil posisi di balcon. dan kalau tidak segera keluar, si bapak akan menahan suratnya. Surat? Surat apa pak?! Saya bukan media kontrak pak," ungkap Aldrin Salendu dengan nada kesal.

    Sementara itu dugaan orang yang dengan berani mengusir wartawan metrotv manado adalah sehari - harinya bekerja sebagai pengawai keuangan DPRD Sulut.

    Wakil pimpinan dewan DPRD Sulut Wenny Lumentut mengatakan, pihaknya tidak pernah memberi petunjuk seperti itu pada staff dewan DPRD Sulut.(Kifli)

    - - - - -


    Probolinggo, Liputan Indonesia - Akhirnya Pengasuh Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi,  pelaku bernama Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ditangkap polisi, Diduga terlibat Kasus Penipuan dan Pembunuhan terhadap dua orang, Kamis (22/9/2016).

    Pelaku saat berada di Padepokan Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur,  Polisi Polda Jatim dan dibantu Polisi setempat langsung melakukan penggerebekan yang melibatkan sekitar 2.000 personel gabungan polisi dan TNI.

    Murid santri berupaya mencegah penangkapan gurunya itu polisi. Namun polisi bersikap tegas. Polisi lalu mendobrak pintu rumah Kanjeng. Polisi tak menemukan Kanjeng.


    Setelah melakukan pencarian, Kanjeng yang mengenakan kaos ungu ditemukan di sekitar masjid padepokan. Kanjeng digelandang ke mobil barakuda dan dibawa ke Markas Polda Jatim di Surabaya.

    " Dimas Kanjeng dijemput paksa lantaran dipanggil tiga kali selalu mangkir. Dan sekarang resmi menjadi tersangka kasus pembunuhan, diduga menjadi otak pelaku. Juga termasuk DPO Polda Jatim."  Ungkap Kabid Humas Polda Jatim Kombes Argo Yuwono.


    “ Terpaksa kami jemput paksa. Karena Dimas Kanjeng diduga menjadi otak pembunuhan Abdul Gani, warga Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Dan Ismail, warga Kabupaten Situbondo. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara dan bisa juga hukuman mati. Abdul Gani dan Ismail pernah jadi santri padepokan, polisi fokus pada kasus pembunuhan. Terkait laporan penipuan dan laporan lainnya, polisi melakukan pengembangan.”  Tambah Argo Yuwono.


    Kanjeng dikenal mampu mendatangkan uang secara gaib. Ditanya mengenai banyaknya personel yang diterjunkan, Argo menjelaskan bahwa penggerebekan dengan mengerahkan banyak personel berdasarkan perkiraan intelijen. Polisi berupaya agar penggerebekan dan penjemputan paksa berlangsung aman terkendali.(cal/ishak).

    - - - - - - -


    Surabaya, Liputan Indonesia - Kejahatan yang berada di Kota Surabaya memang tidak bisa diprediksi. Namun, tak dapat dibenarkan perbuatan yang dilakukan pria yang berkerja sebagai karyawan Bank Swasta di daerah Perak Surabaya ini.

    SA (26) nekat membawa pisau sepanjang kurang lebih 20 cm. Berdalih untuk menjaga keselamatannya dari tindak kejahatan,Warga jalan Mulyorejo Pertanian Nomor 22 ini harus berurusan dengan pihak berwajib.

    Kejadian itu bermula saat bapak satu anak ini hendak pulang ke rumahnya dan melintasi Jalan Simokerto. Dan saat itu pelaku tidak mengetahui jika di depan sedang digelar operasi Sikat Semeru oleh Mapolsek Simokerto sekitar pukul 22.30 wib.

    Karena curiga akan gerak gerik dari SA, Akhirnya dihentikan oleh anggota dan langsung di geledah,Penggeladahanpun tak sia sia karena menemukan sebilah sangkur yang diselipkan dipinggang tersangka”,
    Hal ini di benarkan oleh Kapolsek Simokerto,Akp.M.Harris,Sh.Sik.Mik.

    Menurut Kapolsek, perbuatan pelaku ini melanggar hukum dalam pasal Undang-Undang Darurat Nomor 12. Meskipun, Ditengarai pisau tersebut untuk dipakai berjaga-jaga dari tindak kejahatan.

    Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku belum terbukti memakai pisau itu untuk tindak kejahatan. Namun perbuatan mempersenjatai dengan sajam dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan”, tambah Harris.

    Sedangkan pelaku SA mengaku tetap bersikukuh jika pisau itu hanya dipakai untuk berjaga-jaga dan terhindar dari aksi kejahatan jalanan. Sebab, menurutnya pisau itu selalu dimasukkan ke dalam sarung dan tidak pernah dipakai.

    Pisau itu diberi teman anggota TNI. Biasanya, pisau itu saya bawa. Namun rencananya, sajam tersebut akan saya berikan ke ibu saya”, Jawab SA sa'at di interogasi.(rhm/awr)

    - - -