Liputan Indonesia || Surabaya – Keluarga besar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo akan menggelar Umbul Dungo yang dirangkai dengan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro pada Rabu (15/7/2026) mulai pukul 15.30 WIB di kawasan Simo Kalangan, Surabaya.
Kegiatan ini merupakan doa bersama yang dipersembahkan untuk almarhum sekaligus menjadi ajang mempererat tali silaturahmi keluarga besar, sanak saudara, sahabat, dan masyarakat.
Meski menghadirkan tabuhan tayuban, rangkaian acara ini bukan sekadar pertunjukan seni. Bagi keluarga, Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro memiliki makna mendalam sebagai tenger atau pengingat atas kecintaan almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo terhadap musik tayuban semasa hidupnya. Sementara inti dari seluruh rangkaian kegiatan adalah Umbul Dungo, yakni doa bersama yang dipanjatkan untuk almarhum.
Salah satu cucu almarhum, Agus Mulyo, S.H., menjelaskan bahwa doa bersama menjadi tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah Umbul Dungo, yakni memanjatkan doa bersama untuk almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semasa hidup, Mbah Roekoen sangat menyukai musik tayuban.
"Karena itu, keluarga menghadirkan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro sebagai tenger atau pengingat akan kecintaan beliau terhadap seni tayuban. Namun yang paling utama adalah Umbul Dungo, yaitu doa yang kami persembahkan untuk almarhum," ujar Agus.
Menurut Agus, keluarga berharap doa-doa yang dipanjatkan dapat menjadi amal yang terus mengalir bagi almarhum. Mereka juga memohon agar Allah SWT mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bentuk bakti keluarga dalam mengenang sosok Mbah Roekoen Rekso Mulyo yang semasa hidup dikenal dekat dengan keluarga sekaligus memiliki kecintaan yang besar terhadap kesenian tradisional Jawa.
"Melalui kegiatan ini kami ingin mengenang beliau dengan cara yang beliau sukai semasa hidup. Tabuhan tayuban menjadi simbol kenangan, sedangkan Umbul Dungo menjadi doa yang kami panjatkan bersama. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kerukunan serta keberkahan," tuturnya.
Selain menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum, kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan para leluhur. Momentum datangnya bulan Suro dimaknai sebagai waktu untuk merenung, mempererat persaudaraan, sekaligus mengingat pentingnya melestarikan budaya lokal.
Keluarga besar Mbah Roekoen Rekso Mulyo pun mengundang masyarakat yang berkenan hadir untuk mengikuti rangkaian Umbul Dungo dan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum sekaligus mempererat silaturahmi.
Penulis : Tok
_Dalam segala situasi, LiputanIndonesia.co.id berkomitmen memberikan fakta jernih dari TKP. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme._
Penulis : Tok
Baca juga:
"Berita Terbaru Lainnya"
"Berita Terbaru Lainnya"








Media Liputan Indonesia
DIATUR OLEH UNDANG - UNDANG PERS
No. 40 Thn. 1999 Tentang Pers
HAK JAWAB- HAK KOREKSI-HAK TOLAK
Kirim via:
WhatsApps / SMS:08170226556 / 08123636556
Email Redaksi:
NewsLiputanIndonesia@gmail.com
PT. LINDO SAHABAT MANDIRI
Tunduk & Patuh Pada UU PERS.
Komentar