Tuntut Penghapusan Kriminalisasi Pers, Ribuan Wartawan Gelar Aksi di Dewan Pers

Dibaca: 11516 kali

JAKARTA – Ribuan Wartawan dari berbagai pelosok Tanah Air, menggelar aksi damai solidaritas jurnalist sebagai bentuk penolakan atas pemasungan kemerdekaan pers oleh lembaga Dewan Pers dan Kepolisian Republik Indonesia, dengan tema ‘Tolak Kriminalisasi Jurnalis Indonesia’.

“Salah satunya, aksi ini digelar atas tewasnya ‘Wartawan Sinar Pagi Baru’ atas nama Muhammad Yusuf di Lapas Kelas 11B Kotabaru, Kalimantan Selatan, padu 10 Juni 2018 lalu, Dan penangkapan wartawan Slamet Maulana alias Ade media Berita Rakyat yang dilakukan Polresta Sidoarjo ” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke kepada wartawan, Rabu, (4/7/2018).

Foto: Gedung Dewan Pers di demo wartawan se Indonesia

Wilson mengatakan aksi damai Solidaritas Jurnalis yang akan digelar esok hari diikuti ribuan wartawan yang tergabung dalam puluhan organisasi pers di Tanah Air. Aksi damai solidaritas Jurnalist ini akan berlangsung di dua tempat.

Foto: Peci Hitam Wilson Lalengke S.Pd, M.Sc, MA selaku saksi ahli pers yang juga sebagai DPN PPWI, dan Guru besar Hukum Administrasi FH Ubhara Surabaya, Prof Dr Sadjijono SH MHum selaku saksi ahli hukum pidana, saat menjadi saksi ahli kasus kriminalisasi jurnalis Salmet Maulana alias Ade yang ditangkap Polresta Sidoarjo.

“Aksi Solidaritas Jurnalis ini berlangsung didua tempat yaitu mulai pukul 08.00 -10.00 WIB aksi digelar di Gedung Dewan Pers Lantai II. kebun Sirih No. 32-34 Jakpus, yang kemudian pada Pukul 10.00 – 14.00 WIB aksi kembali dilanjutkan di PN Jakarta Pusat Jl Blugur Raya, Gunung Sahari, Jakpus pengadilan Negeri Jakarta Pusat,” terang Wilson.

Dalam Aksi damai solidaritas jurnalis, para peserta aksi mengelar aksinya dengan menutup mulut (dilakbhan) dan pembacaan tuntutan serta tabur bunga sebagai duka cita atas kematian wartawan Sinar Pagi Baru atas nama Muhammad Yusuf.

“Dalam aksi ini para peserta ikut dikoordinir oleh Feri Rusiono selaku koordinator lapangan. Para peserta juga ikut membawa alat peraga seperti Keranda Mayat, Papan Bunga, Spanduk, Bendera Merah Putih dan Bendera organisasi serta alat pengeras suara,” demikian terang Wilson. [JML/Red]