Sidang Lanjutan Digelar, Terkait Perampasan Kamera Wartawan dan Tabrak Lari

Dibaca: 159 kali
0
Situs+Berita+Indonesia+Dunia+Liputan+Indonesia


Surabaya, Liputan Indonesia – Persidangan Lanjutan Tabrak Lari dan Perampasan Kamera kembali digelar di pengadilan Negri Surabaya, Dengan perkara terkait UUD Pers di Pengadilan Negeri Surabaya semakin memanas dengan terdakwa Irine Madalena yang pada saat itu menghalangi wartawan dalam melakukan peliputan  tragedi tabrak lari hingga korban tewas  memasuki agenda keterangan saksi korban, Senin (26/9).

Terdakwa diancam pidana pasal 18 ayat 1 UU RI Nomor 40 tahun 1999 tentang pers dengan hukuman selama 2 tahun penjara atau denda Rp 500 juta.

Akan tetapi Hakim Agung Efran Basuning SH MH dari Pengadilan Negeri (PN) Surabaya tidak melakukan penahanan terhadap terdakwa.
Dipersidangan, Slamet Maulana saksi korban menceritakan, bahwa aksi perampasan kamera itu terjadi pada Oktober 2012 silam, saat dirinya dalam perjalanan pulang usai melakukan tugas jurnalistiknya di beberapa tempat hiburan malam yang ada di kota Surabaya.

Saat melintas di jalan HR Muhammad, saksi dicegat oleh salah seorang satpam dan diberitahukan ada kejadian tabrak lari, pelaku tabrak lari adalah mobil Toyota Wish yang melaju kencang meuju ke arah diskotik M-One Mall PTC Pakuwon City.

“ Selesai mendengar penjelasan itu, saya langsung meluncur kelokasi yang diberitahukan oleh Satpam tadi, ketika dirinya sampai di lokasi diskotik M-One, dia lantas mencoba menemui pelaku tabrak lari dan mewawancarai serta memotretnya. Saya sempat memperkenalkan diri sebagai wartawan yang tengah meliput kejadian laka lantas yang dilakukan terdakwa, merasa terganggu terdakwa lantas merampas kamera yang saya pegang” aku saksi Slamet.

Tidak terima dengan perlakuan tersebut, saksi lantas melaporkan kejadian itu ke petugas laka lantas yang menjadi penengah di tempat kejadian perkara. Anehnya, setelah perlakuan kasar itu dilaporkan ke polisi, bukan nya Irine memberikan kamera justru malah memaki dan membentak petugas polisi yang saat itu akan mengaman kan Irine untuk dibawa kekantor poliai, seketika itu juga kamera wartawan itu dikembalikan oleh orang lain kepada Slamet yang pada posisi Irine 20 meter jaraknya

Baca juga:  Dukungan Kampanye Di Pilkada Bolmong Ke MMS Bergema DiMedsos

“ Kamera milik wartawan yang dirampas dikembalikan, tapi bukan dia yang menyerahkan melainkan kamera itu diserahkan oleh orang lain, anehnya isi data dalam memori kamera dihapus, padahal data tersebut sangat mahal bagi wartawan. mengingat sulitnya mencari data ” papar saksi Slamet.

Saat kameranya diserahkan, saksi sontak memeriksa hasil liputannya tadi malam, ternyata memori kameranya hilang. Saksipun mempertanyakan hilangnya memori kamera itu pada terdakwa tapi oleh terdakwa dijawab tidak tahu, Namun untungnya beberapa foto yang berkaitan dengan peristiwa laka lantas tersebut ternyata masih bisa diselamatkan pungkas saksi.

setelah mendengar keterangan saksi, Irene Madalena terdakwa perampasan kamera wartawan membantah keterangan saksi korban, bahkan wanita terdakwa yang tinggal di jalan Siodoyoso Surabaya tersebut menantang untuk dikonfrontir dengan saksi lainnya dari anggota Polantas Polrestabes Surabaya untuk mengkuatkan bantahan di sidang selanjutnya.

“ Keterangan saksi bohong Pak, saya berani dikonfrontir,” kata terdakwa Irene kepada majelis hakim yang dipimpin Efran Basuning.

Seperti diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ferry Rahman dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya akhirnya mendudukkan Irine Madalena (45) di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya.

Paska setelah usai sidang slamet maulana bergegas meninggalkan ruang sidang berkumpul sesama rekan wartawan di warkop samping pengadilan tragedi terjadi  tiba tiba datang seorang dengan nada mengancam kalau tidak damai saya bunuh kamu sambil membawa garpu dengan disakasikan rekan wartawan lainya, tak mau slamet terancam nyawa nya bergegas pergi untuk menyelamatkan dirinya.

” Entah orang suruan siapa orang tak di kenal dan di tanya bahwa perkara sama irene madalena harus bisa damai klau tidak bisa damai akan di bunuh,” ucap slamet dengan nada takut karena orang tak dikenal membawa 4 Garpu yang mau menusuk perutnya (tim).

Baca juga:  Tampil memukau "AYUN" sabet juara 2 lomba burung perkutut tingkat Nasional
ca-pub-2508178839453084