Sepeninggal Sosok Habib Ali (Abuya) Surabaya

Dibaca: 176 kali
0
Situs+Berita+Indonesia+Dunia+Liputan+Indonesia
 

Habib Ali Jalan Kalimas Udik Surabaya 
Dikenal sebagai tokoh familiar tanpa membeda-bedakan status sosial.

SURABAYA, LiputanIndonesia.co.id – Seorang tokoh agama yang berasal dari Jalan Kalimas Udik II/32 Surabaya dikenal sebagai sosok yang Familiar. Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari selasa 9 september 2014, masyarakat digemparkan dengan kabar bahwa sang tokoh pergi meninggalkan alam dunianya. Tak hanya masyarakat sekitar, petinggi-petinggi negeri juga merasa kehilangan dengan perginya sang tokoh itu. Nampak hadir saat pemakaman berlangsung, Walikota Surabaya, Jajaran Korem, Polda Jatim dan Polrestabes Surabaya. 
Habib Ali bin Husain Al-Haddad, kelahiran Surabaya, 29 September 1935, mayarakat menyebutnya “Abuya” yang artinya adalah sang Guru. Keseharian beliau selalu diisi dengan hal-hal positif, mulai dari berdagang, mengajar dan selalu mengisi ceramah agama di Majelis taklim. Tuffah Ali Al-haddad, putri bungsu dari Habib Ali mengatakan pihaknya sangat merasa kehilangan dengan sosok ayahnya yang selama ini dikenal sebagai panutan bagi dirinya, saudara dan masyarakat disana. Selama berada dirumah, ayahnya selalu memberikan pesan-pesan moral kepada anak-anaknya, terutama soal agama dan sosial. Tidak membeda-bedakan dari mana status sosialnya. “Abah selalu mengingatkan, kita semua ini sama, baik dari suku ini dan itu, semuanya saudara, bahkan beda agama pun kita harus saling menghargai,”ucapnya, kamis (11/9) menirukan pesan-pesan ayahnya. 
 Semenjak kecil abuya selalu belajar kepada ayahnya yang bernama Habib Husain bin Ahmad, SD hingga SMA beliau belajar di Yayasan Al-Khairiyah Surabaya, hingga dirinya meneruskan pekerjaan ayahnya untuk berdagang. Yakni membuka toko sarung dan busana muslim di Pasar Turi Surabaya. “setelah ada kebakaran di pasar turi,  akhirnya pindah ke pasar Bong untuk membuka usahanya disana,”lanjut Tuffah.
Tahun 1980 abuya sudah tak lagi berdagang karena digantikan anaknya. Semenjak itulah dirinya menjadi Imam di Masjid Serang Surabaya, di kediamannya, seolah tak pernah sepi dari tamu yang sedang mengunjunginya. Bahkan, sempat ada kabar, ketika saat pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang saat ini masih menjabat sebagai Presiden RI mengunjungi rumah abuya dan meminta untuk mendoakan dirinya, “Sebelum Pilpres dulu, setelah pak SBY jadi, juga pernah mengundang abuya untuk datang ke kediamannya di Istana Negara,”ucapnya. 
Tak hanya SBY, Habib Umar bin Hafidz, seorang ulama muda yang berasal dari Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama. Putera dari salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam, yakni Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim juga pernah mengunjungi rumah Abuya di Jalan Kalimas Udik II/32 Surabaya
Sosok Abuya dikenal dengan kearifanya, tanpa membeda-bedakan letak status sosialnya, Tuffah menceritakan, pernah ada kejadian, ada dua orang yang sedang membutuhkan habib ali untuk mengisi acara-acara yang sifatnya keagamaan. Datang seorang laki-laki muda bermaksud untuk mengundang di acaranya, diketahui dia warga sekitar dan terkesan sederhana. Setelah beberapa jam kemudian datang lagi juga seorang laki-laki muda dari kalangan konglomerat dengan tujuan yang sama untuk mengundang Abuya. “seketika itu abuya meminta maaf kepada orang yang kedua bahwa dirinya tidak bisa menghadiri undangannya. Meskipun orang pertama ini biasa-biasa saja, abuya tidak mau mengecewakanyya, dan itu memang sudah menjadi prinsip beliau, tak peduli dari kalangan mana saja,”tuturnya. 
Semenjak kepergiannya, kini, tak hanya sanak familynya yang merasa kehilangan, masyarakat pun juga merasa berat ditinggal sosok abuya. Sebelum meninggal, Abuya tidak meninggalkan harta benda yang dimilikinya, melainkan mewariskan kepada anak-anaknya agar selalu menjalankan sholat lima waktu, selalu rukun terhadap saudara-saudaranya dan peduli kepada sesama. “sebenarnya sudah lama beliau mengalami penyakit jantung, sekitar 28 tahun yang lalu, cuma saja abuya masih kuat. Waktu di ruang ICU, abuya bisa duduk dengan santai. Padahal kalau di ruang ICU pasien diharuskan berbaring. Dan saat detik-detik terakhir abuya meninggal dunia, bau wewangian menyelimuti ruangan rumah sakit. Entah, Saat ini masih belum ada yang bisa gantikan beliau, tak hanya kita, masyarakat juga merasa kehilangan dengan kepergiannya,”pungkasnya.[ihul]
Baca juga:  ' Tikus goreng ' Menu KFC ternyata ayam
ca-pub-2508178839453084