Sejarah Patih Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit

0
Dibaca: 143203 Kali
Ilustrasi: istana kerajaan majapahit
BENARKAH GAJAH MADA ORANG SUMATERA?

Majapahit mengalami kejayaan saat jabatan Mahapatih dipegang oleh Gajah Mada, dan Majapahit mengalami kemunduran setelah ditinggal oleh Gajah Mada Apalagi setelah wafatnya Raja Hayam wuruk. Kehebatan Gajah Mada meninggalkan misteri tentang sejarah dirinya.

Dalam Nagarakretagama dan Pararaton tidak ada yang mengungkapkan tentang sejarah diri Gajah Mada. Misteri itu mulai ungkapkan dikalangan tertentu.

Seperti diungkapkan oleh sebagian masyarakat Melayu yang mengatakan bahwa Gajah Mada merupakan anak dari Dara Petak.

[1]. Cerita tersebut belum terlalu kuat kebenarannya.

Menurut kepercayaan masyarakat Bali yang tertulis dalam kitab Usana Djawa, Gajah Mada dilahirkan di pulau Bali Agung dan pada suatu ketika berpindah ke Majapahit. Gajah Mada tidak mempunyai Ibu dan Ayah, melainkan terpancar dari dalam buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hiang Narajana ke atas dunia.

[2]. Menurut Mohammad Yamin, menduga bahwa Gajah Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna.

[3]. Cerita rakyat Lamongan mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah anak kelahiran Desa Mada (sekarang Kecamatan Modo, Lamongan) Di wilayah Lamongan bernama Pamotan.

gajahmada

[4]. Siapa sebenarnya Gajah Mada?  Pada tahun 1285 raja Kertanegara mengirimkan utusan ke Kerajaan Sriwijaya dibawah pimpinan Kebo Anabrang dan Mahapatih Singosari Adityawarman membawa piagam Amoghapaca dan menawarkan (melamar) pernikahan kepada kepada dua putri kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan sebutan Pamalayu, karena hadiah tersebut Sri Maharaja srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dan segenap rakyat Sriwijaya sangat gembira.

Chu-fan-chi yang disusun pada masa dinasti Sung (960 – 1279) menyebutkan wilayah kekuasaan Kemaharajaan Melayu  yang pusat kekuasaannya di Dharmasraya terdiri :

1)  Pong-fong (Pahang)

2)  Tong-ya-nong (Terengganu)

3)  Ling-ya-si-kia (Langkasuka)

4)  Ki-lan-tan (Kelantan)

5)  Fo-lo-an (Selangor Selatan)

6)  Ji-lo-ting (Jelotong)

7)  Ts’ien-mai (Seumawe)

8)  Pa-t’a (Batak)

9)  Tan-ma-ling (Tamralingga)

10) Kia-lo-hi (Grahi)

11) Pa-lin-fong (Palembang)

12) Sin-to (Sunda)

13) Kien-pi (kampai)

14) Lan-mu-li (Lamuri)[5]

Kemudian para utusan dari Kerajaan Singosari kembali ke tanah Jawa dengan membawa dua orang putri Melayu yakni Dara Petak dan Dara Jingga yang merupakan putri-putri dari Maharaja Sriwijaya Trailokya Maulibhusanawarmadewa. Perjalanan ke Jawa sangat jauh dan berbahaya apalagi dua putri Maharaja tersebut dibawa oleh orang-orang yang belum dikenal dengan baik oleh mereka. Maharaja memerintahkan beberapa orang prajurit tangguh untuk mengawal kedua putri tersebut diantaranya adalah Gajah Mada yang masih masih berusia muda.

Gajah Mada bukan nama yang sebenarnya, itu hanya sebuah julukan atau gelar yang diberikan kerajaan. Dahulu Maharaja Melayu selalu memberi julukan atau nama kehormatan untuk para prajurit-parajurit terbaik mereka dan selalu menggunakan nama-nama binatang seperti Harimau Campo, Kucing, Kambing Hutan, Anjing Mualim, Gajah Tongga Ada juga dengan dengan sebutan si Binuang, Sigumarang, Si Kinantan, Si Kumbang dan banyak lainnya.[6] Pemberian gelar tersebut masih dilaksanakan sampai saat ini bagi orang-orang yang berjasa untuk Negara. Nama-nama kehormatan itu selalu mempunyai arti dan makna begitu juga dengan sebutan Gajah Mada. Mada dalam bahasa Melayu dialek Minangkabau diartikan sebagai Bandel atau tidak bisa diatur, Jadi Gajah Mada itu maksudnya binatang yang berbadan besar yang tidak bisa diatur atau Gajah Bandel. Ketangguhan dan kesetiaan Gajah Mada dan rekan-rekannya terhadap kerajaan sudah diakui sehingga mereka mendapat kepercayaan untuk mengawal putri-putri  kerajaan ke Tanah Jawa.

Baca juga:  Subhanalloh,.!! Daging Sapi Rumah Makan Leces Berlafadz

Sampai di tanah Jawa mereka tidak menemukan lagi Kerajaan Singosari dan Kertanegarapun telah meninggal dunia. Pada saat itu telah berdiri kerajaan baru yang bernama Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya (Kertajasa Jayawardhana). Raden Wijaya memperistrikan Dara Petak yang kemudian melahirkan Raja Majapahit berikutnya yakni Jayanegara dan Dara Petak mendapatkan posisi sebagai Permainsuri kerajaan Majapahit, sedangkan Dara Jingga diperistri oleh Mahapatih  Dyah Adwayabhrahma yang melahirkan Adityawarman yang kelak menjadi Maharaja tanah Melayu. Semasa Dara Petak menjadi Permaisuri dan Jayanegara sebagai putra Mahkota Majapahit, Gajah Mada dipercaya sebagai prajurit istana (Bhayangkara) yang mengawal mereka. Dahulu seorang prajurit istana atau pengawal keluarga kerajaan merupakan orang terdekat dan bisa dipercaya. Dikarenakan Gajah Mada yang sejak awal sudah dipercaya oleh Kerajaan Melayu/Sriwijaya untuk mengawal putri Dara Petak hingga pada masa di Majapahit dipercaya untuk memimpin prajurit Bayangkara yang mengawal Dara Petak beserta putranya.

Pada tahun 1309, Raja Kertajasa Jayawardhana meninggal dunia, yang kemudian posisi Raja digantikan oleh Jayanegara. Naiknya Jayanegara dapat pertentangan dari berbagai kalangan di Istana Majapahit termasuk patih Nambi dan Wiraraja dikarenakan Jayanegara adalah keturunan Melayu dan bukan keturunan asli Singosari. Maka terjadilah pemberontakan keduanya, yang akhirnya dapat dipadamkan. Ketidakpuasan didalam istana berlanjut, terjadi pemberontakan Kuti dan Semi. Bermula dari peristiwa inilah, Karir Gajah Mada naik setelah dia berhasil menyelamatkan Raja Jayanegara dari serangan Kuti dan Semi. Kemudian Gajah Mada juga berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Atas jasanya itu, Gajah Mada di angkat menjadi Patih Kahuripan dan dua tahun kemudian dipercaya sebagai Patih Kediri.

Baca juga:  Polsek Tambak Sari, Tempat Paling Aman Pesta Miras

Terjadi suatu peristiwa pembunuhan Raja Jayanegara oleh tabib Kerajaan yang bernama Tanca. Pada saat Raja sedang mengalami sakit bisul seperti biasa Tanca dipanggil untuk mengobatinya tapi ternyata dibalik itu ada maksud untuk menyingkirkan Raja Jayanegara. Dalam Penjagaan oleh Gajah Mada tanpa curiga akhirnya Tanca berhasil membunuh Raja Jayanegara. Dengan sangat terkejut, Gajah Mada Spontan menarik kerisnya dan menancapkan ketubuh Tanca hingga tewas.  Peristiwa Tanca ini merupakan bagian dari pertentangan dan ketidaksenangan dalam istana kepada Raja Jayanegara. Sepeninggal Jayanegara, terjadi kekosongan kekuasaan.

Akhirnya Gajah Mada mengangkat Putri  Tribuanatunggadewi sebagai Ratu Majapahit dan bersama saudarinya Rajadewi memerintah Majapahit bersama-sama. Pengangkatan seorang wanita sebagai pemimpin Majapahit tidak masalah bagi Gajah Mada, dikarenakan dikampung halamannya seorang wanita atau ibu sangat dihormati (Bundo Kanduang). Karir Gajah Mada makin meningkat, setelah berhasil menaklukkan pemberontakan Keta dan Sadeng. Akhirnya Gajah Mada diangkat sebagai Patih Majapahit. Kemudian didepan Ratu Tribuanatunggadewi, Gajah Mada bersumpah untuk menaklukan Nusantara dibawah Kerajaan Majapahit dan sumpah tersebut dikenal dengan Sumpah Palapa.

Tonggak Gajah Mada

(Tonggak Gajak Mada). Konon saat mengucapkan Sumpah Palapa, Gajah Mada Menancapkan Tonggak ini.

Bersama dengan Adityawarman dan rekan-rekan lainnya, Gajah mada berhasil menaklukan Nusantara seperti Palembang, Tumasik (Singapura), Pulau Bintan, Aru/Barumun, Tanjung Pura, Pahang, dan sebagainya. Pada masa Hayam Wuruk, Gajah Mada memperluas taklukan seperti Pulau Seram, Bima, ambon, Buton, Sumba, Timor, Makasar dan sebaginya. Keberhasilan ini membuat Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Ada beberapa kerajaan yang belum takluk dalam kekuasaan Majapahit yakni Kesultanan Samudera/Pasai dan Kerajaan Sunda Galuh. Kerajaan terakhir ini, yang membuat karir Gajah Mada jatuh.

Pada tahun 1357,  Hayam Wuruk yang telah menggantikan ibunya sebagai penguasa Majapahit, ada keinginan untuk berusaha menundukan kerajaan Sunda Galuh dengan cara perkawinan. Hayam Wuruk melamar putri dari Maharaja kerajaan Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka. Pada saat acara lamaran berlangsung, Gajah Mada mempunyai keinginan kerajaan Sunda Galuh menggabungkan diri dan menjadi kerajaan bawahan Majapahit. Gajah Mada telah banyak belajar dari sejarah Majapahit, seperti yang dilakukan Kerajaan Melayu/Sriwijaya yang telah menerima lamaran raja Kertanegara dari Singosari dan mengizinkan salah satu putrinya menjadi istri raja Kertanegara walaupun akhirnya putri Dara Petak menikah dengan Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Kertanegara yang merupakan pendiri Kerajaan Majapahit yang mengaku sebagai penerus Kerajaan Singosari.

Baca juga:  Kapolrestabes Surabaya Mengapresiasi Tim 7, Hari Ke 7 Tuntas Tangkap 7 Tahanan Kabur

Keinginan Gajah Mada tidak disambut dengan baik pihak Kerajaan Sunda Galuh, hingga terjadi perang bubat yang mengakibatkan tewasnya rombongan pengantin termasuk Maharaja Sunda Galuh dan akibatnya lagi, putri Dyah Pitaloka yang mengetahui kejadian ini akhirnya bunuh diri. Hayam Wuruk marah dan memecat Gajah Mada sebagai Mahapatih, kejadian itu berlangsung selama dua tahun. Tidak ada yang bisa mengantikan kepiawaian Gajah Mada dalam memimpin kepatihan Majapahit dan akhirnya Gajah diangkat kembali walaupun kekuasaannya sudah dibatasi.

Pada tahun 1364, keinginan Gajah Mada pulang ke kampung halaman untuk menghabiskan sisa hidupnya sangat besar, apalagi Adityawarman telah menjadi Maharaja Suwarnabhumi. Seperti pepatah Melayu mengatakan Hujan Emas di negeri orang, Hujan Batu di negeri sendiri yang maksudnya seenek-enaknya hidup dinegeri lain lebih enak lagi menghabiskan hidup dinegeri sendiri. Penemuan kuburan yang diduga makam Mahapatih Gajah Mada di Bengkulu Utara memperkuat asal usulnya sebagai orang Melayu. Penemuan ini merupakan suatu bukti sejarah yang sangat berharga.[7]Sejarah Gajah Mada yang disamar-samarkan menjadi jelas.

Sepeninggal Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada, terjadi pergolakan untuk memperebutkan tahta Raja. Tahta Raja Majapahit berikutnya dikuasai oleh Wikramawardhana yang merupakan keponakan dari Hayam Wuruk, sedangkan putra Hayam Wuruk yang bernama Wirabumi merasa berhak mendapatkan kedudukannya sebagai raja Majapahit. Pada tahun 1400, Wikramawardhana menyatakan mundur sebagai raja dan memberikan kekuasaan kepada anaknya Ratu Sugita. Hal ini membuat Wirabumi makin tidak senang, terjadilah pemberontakan selama bertahun-tahun. Untuk membantu putrinya memadamkan pemberontakan, Wikramawrdhana kembali dari pertapaannya yang akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dan menewaskan Wirabumi. Sejak saat itu, Majapahit kehilangan kewibawaannya dimata kerajaan bawahannya. Sehingga beberapa raja-raja bawahan menyatakan kemerdekaannya dari Majapahit.

Jakarta, Fadly Rahman

Sumber :

[1] Basril Basyar dan Ampera Salim, Prosesi Penobatan SBY Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam, Website Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, 22 September 2006, Hal 4

[2] Muhammad Yamin, Gajah Mada Pahlawan Nusantara, Penerbit Balai Pustaka, tahun 1953

[3] www.igardu.com, Wied, Peradaban Nusantara, Gajah Mada, dari mana asalmu?, 17 Nopember  2007

[4] Sujatmiko,  Asal-usul Patih Gajah Mada asli Lamongan Diteliti, www.tempointeraktif.com, 22 juni 2009

[5] Prof. DR. Slamet Muljana, Sriwijaya, Penerbit LKIS, Tahun 2006

[6] Ampera Salim, Sejarah yang tercecer, Nagari tertua di Ranah Minang, http://www.sumbarprov.go.id, Hal 1

[7]http://www.sinarharapan.co.id/berita/01017/23nus09.html, Diduga Makam Gaja Mada, Sinar Harapan, Senin 23 Juli 2001