Ratusan Ikan Paus Terdampar dan Mati, Selandia Baru: “Tidak akan pernah Melupakan Tangisan Mereka”

0
Dibaca: 1260 Kali

“Itu adalah malam terburuk dalam hidup saya.” Seperti itulah Liz Carlson menggambarkan momen saat dia menemukan 145 ekor paus terdampar dan sekarat di pantai terpencil di Selandia Baru. 

Penulis blog travelling asal AS itu tengah menjelajahi Rakiura alias Pulau Stewart dalam perjalanan selama lima hari bersama temannya ketika dia melihat kejadian tragis tersebut.

Pantai indah nan sepi yang terbentang panjang itu berubah menjadi medan hidup dan mati bagi paus-paus yang terdampar itu.

“Momen itu sangat mengejutkan,” ujarnya kepada wartawan. “Kami datang ke sana saat matahari terbenam dan melihat sesuatu di sekitar pantai.

“Saat kami sadar bahwa itu semua adalah paus, kami langsung menjatuhkan semua bawaan kami dan berlari ke sana.”

Liz pernah melihat paus di alam liar sebelumnya, tapi menurutnya, “ini sesuatu yang tidak kamu duga, benar-benar mengerikan.”

‘Ketidakberdayaan adalah bagian terburuknya’ Liz dan temannya langsung mencoba mencari cara untuk mendorong paus-paus itu kembali ke perairan dalam.

“Tapi lalu kamu sadar bahwa tak ada yang bisa kamu lakukan. Mereka terlalu besar.

“Ketidakberdayaan adalah bagian terburuknya,” ungkapnya. “Mereka [paus-paus] menjerit satu sama lain, berbicara, dan bersuara, tapi tak ada apapun yang bisa kami lakukan untuk membantu mereka.”

Tak berdaya, mereka kemudian panik mencari cara lain untuk menolong.

Baca juga:  Racuni Anak Dengan Snack Berbahan Mie Expired, Produsennya Divonis Percobaan

Pulau Stewart adalah pulau yang sangat terpencil dan terpisah dari South Island Selandia Baru. Lebih dari itu, pantai yang sedang mereka jelajahi adalah tempat yang jauh lebih terpencil.

Selama dua hari terakhir, keduanya belum berpapasan dengan siapapun. Namun, mereka tahu bahwa 15 km dari sana, terdapat sebuah pondok di mana sejumlah petugas konservasi bekerja.

Tak ada sinyal telepon, keduanya berharap ada jaringan radio di pondok tersebut. Maka, teman Liz – Julian Ripoll – pun, langsung berlari menuju pondok itu.

Hatiku sangat hancur’

Liz ditinggal sendirian di pantai itu, di tengah paus-paus yang sekarat di sepanjang pantai.

“Saya tak akan pernah melupakan tangisan mereka, cara mereka menatapku saat aku terduduk bersama mereka di pantai, susah payahnya mereka mencoba berenang, namun justru terperangkap semakin dalam di pasir karena beban tubuh mereka,” ungkapnya di Instagram.

“Hatiku sangat hancur.”

Whales stranded in the surfLIZ CARLSON

 

Penulis berusia 30 tahun itu lalu melihat seekor bayi paus dan mencoba mengembalikannya ke laut. Meski mustahil mendorong paus dewasa, ternyata Liz berhasil mendorong bayi paus itu ke laut.

“Saya mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong bayi paus itu kembali ke air, namun dia justru terus mencoba kembali ke pantai,” ujarnya kepada wartawan. “Setelah Julian pergi, saya hanya bisa duduk di sana dengan bayi paus itu.

Baca juga:  Polres Bangkalan rilis penangkapan 17 tersangka Narkoba

“Kamu bisa merasakan ketakutan mereka, paus-paus itu menatapmu. Mereka melihatmu dengan mata mereka yang mirip kita.”

Pilot whales strewn along the beach on Stewart Island

 

Selama beberapa jam berikutnya, tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu.

“Saya tahu pada akhirnya mereka pasti akan mati,” tulis Liz di Instagram. “Saya membenamkan lutut di pasir, berteriak frustasi dan menangis, dengan latar suara lusinan paus yang sekarat di belakang saya, benar-benar sendirian.”

‘Air mata di mata mereka’

Beberapa jam kemudian, Julian kembali dengan sekelompok petugas jagawana. Mereka tahu apa yang harus dilakukan, namun karena kondisi sudah malam, tak ada yang bisa dilakukan.

Saat itu, sebagian besar paus masih berada di tepi pantai dan ombak masih terus datang. Liz dan Julian pun memutuskan kembali ke lokasi kemah dan berharap semoga saat esok tiba paus-paus itu sudah berhasil kembali ke laut.

Whales stranded on a beachJULIAN RIPOLL

 

Keesokan paginya, yang mereka saksikan justru lebih mengerikan.

Air surut dan mereka terdampar di atas pasir yang kering. Beberapa di antaranya telah mati dan sisanya terbaring kesakitan terpanggang matahari.

“Mereka berair mata,” ungkap Liz. “Mereka tampak seperti menangis dan mengeluarkan suara sendu.”

Baca juga:  Keluarga Korban Pesawat JT 610 Gugat Boeng, Bukan Lion Air

Pada titik itu ia sadar bahwa tak ada satu pun paus yang bisa diselamatkan.

Whales stranded on a beachJULIAN RIPOLL

 

Butuh sekitar lima orang hanya untuk mendorong satu paus, dan pantai itu – bahkan pulau itu sendiri – sangat terpencil hingga tak ada harapan agar bala bantuan datang tepat waktu. Hanya ratusan orang saja yang tinggal di pulau tersebut.

Untuk itu, para petugas jagawana pun terpaksa membuat keputusan yang menyayat hati , yaitu ‘mematikan’ paus-paus yang tersisa.

Satu-satunya cara yaitu meninggalkan mereka mati secara perlahan dan menyakitkan dalam beberapa hari.

Departemen Konservasi Selandia Baru (DOC) menyatakan bahwa mereka akan membiarkan bangkai-bangkai paus itu tetap berada di pantai tempat mereka mati dan membiarkan alam bekerja.

Seperti dikutip BBC Indonesia, DOC sendiri tak tahu pasti mengapa paus-paus tersebut mendamparkan diri. Pendamparan diri “adalah hal yang lumrah terjadi di pesisir pantai Selandia Baru”, tapi yang dilakukan secara massal, langka.

Salah satu kemungkinannya, kelompok paus tersebut salah mengartikan lereng dangkal dari pantai tersebut , dan lantas berenang terlalu dekat ke tepian. Kemungkinan lainnya, paus-paus tersebut sakit.

Paus Pilot juga dikenal sebagai hewan yang bersifat sosial. DOC pun tak menutup kemungkinan bahwa bisa saja “saat satu paus tersesat dan terdampar, kelompoknya datang untuk membantu.” (red)