Proyek Paving dan Saluran CV. WILCOR, Bulak Banteng Lor Bhineka XI Resahkan Warga | Liputan Indonesia
, #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru

Proyek Paving dan Saluran CV. WILCOR, Bulak Banteng Lor Bhineka XI Resahkan Warga

Advertisement , #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru

SURABAYA, Liputan Indonesia –  Warga jalan Bulak Banteng Lor Bhineka XI  Rt. 06 Rw.08 kini resah. Penyebabnya, proyek pavingisasi dan saluran senilai Pagu Rp. 637.674.000.00,- HPS Rp.543.185.000.00,- sedangkan harga penawaran Rp.430.678.000.00,- CV.WilCor sebagai pemenang lelang dalam pengerjaannya asal-asalan. Rabu, (28/12/2016).

Saat tim investigasi LSM Indonesia Social Control survey lokasi di Bulak Banteng Lor Bhineka XI  Rt. 06 Rw.08 , terlihat pemasangan tidak sesuai Bestek, RAB, BOQ. Dan Box Culvert banyak yang pecah atau retak, kemiringan letak paving serta selokan tidak sesuai aturan yang ditentukan, sehingga saat hujan air tidak jalan, hanya menggenang dan luber ke rumah warga.

Pekerjaan proyek di Bulak Banteng Lor Bhineka XI  Rt. 06 Rw.08 adalah proyek yang mengerjakan Struktur Saluran dan Paving dengan finishing diplester dan acian. Lubang saluran yang telah direncanakan dalam bestek gambar, juga paket yang dikerjakan jalan baru dengan material paving stones (pavingisasi).

Proyek ini seharusnya dikerjakan dengan teknik penggarapan yang benar dan disyaratkan sesuai aturan pemkot. Namun ironisnya justru kampung tersebut menjadi kubangan air lumpur, licin, membahayakan pengendara sepeda motor dan pejalan kaki merasa tak nyaman. Kampungnya menjadi tidak asri, justru menjadi kampung lumpur Bulak Banteng Lor Bhineka XI  Rt. 06 Rw.08.

Masih pantauan LSM Indonesia Social Control dan Tim Media Liputan Indonesia, pekerjaan saluran dikerjakan terburu buru akibatnya warga menjadi korban oleh kontraktor nakal, saluran itu pun tidak dapat berfungsi sempurna. Karena saluran tersumbat dengan kisdam (penyumbatan air sementara) saat pekerjaan saluran dikerjakan, tapi tidak dapat mengalir sempurna, tetap menggenang dengan warna air yang hitam pekat.

Saluran yang dikerjakan berangsur rusak pada strukturnya, keropos dan ambrol. Karena saat pekerjaannya tidak dikerjakan dengan benar, termasuk pada campuran spesi (luluh), diduga banyak pengurangan bahan dan volume.

Iklan anda , #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru

Di lapangan tampak campuran luluh yang ngawur sehingga gampang keropos, dan ambrolnya saluran yang baru dikerjakan, Demikian pula dengan urugan gelar sirtu pada lokasi garapan, tidak diurug dengan tanah sirtu, hanya dengan tanah lumpur bekas galian yang meluber saat menumpuk di lokasi, terkena imbas banjir di lokasi setiap hujan turun.

Tampak pula pada pasangan anyaman paving yang telah sempat terpasang, hanya anyaman paving yang tidak berkualitas, tampak renggang, bergelombang, tidak rata. Salahnya dalam pemasangan Box Culvert di tepi pada jalan, menambah rentetan penderitaan warga sekitar.

Demikian pula dengan urugan sirtu pada landasan tanah sebelum dipasang paving, tidak memiliki tebal urugan yang benar, juga tanah yang dibuat urugan bukan tanah sirtu yang disyaratkan.

Warga sekitar kepada mengatakan,  ” menuntut keadilan kepada Pemkot Surabaya, khususnya Dinas PU. Bina Marga Dan pematusan (DPUBMP). Rencananya warga sekitar proyek akan ngelurug ke Dewan Kota dan ke Pemkot Surabaya dalam waktu dekat ini. ” Kata abd salam selaku warga masyarakat.

Bapak Samsul, salah satu pengamat proyek asal Surabaya mengatakan, amburadulnya beberapa proyek di Kota Surabaya, membuktikan adanya dugaan bahwa proses penunjukan pemenang tender dalam naungan Dinas PU. Bina Marga Dan Pematusan Pemkot Surabaya, selalu saja menyisahkan aroma Korupsi.

Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil akhir pekerjaan para rekanan proyek yang awalnya mengatakan sangat sanggup melaksanakan tanggung jawabnya, kenyataannya hasil di lapangan malah sebaliknya, yakni hanya menyisakan masalah baru.

Dengan hasil yang amburadul, tidak sesuai bestek, spesifikasi mutu bahan dan langkah kerja teknik yang seharusnya dipatuhi, bukan sebaliknya, dikerjakan asal-asalan, mencari keuntungan, namun sangat merugikan anggaran APBD yang terserap.

“ Yang diherankan, dinas terkait tidak mengambil tindakan tegas. Sehingga dapat seenaknya kontraktor tak melanjutkan garapannya, meninggalkan tanggung jawabnya, dengan berbagai alasan yang tidak dapat diterima oleh nalar. Modus yang sering sekali terjadi sudah seharusnya tersentuh hukum, dan ada yang bertanggung jawab,” Tambahnya.

Penulis: (can/one/timbp)

Iklan Anda, #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru


Media Liputan Indonesia Di Terbitkan PT. LINDO SAHABAT MANDIRI - Mengemban Tugas Sosial Kontrol Masyarakat, Bekerja Berdasarkan UU No: 40 Thn 1999 Tentang PERS | Wartawan kami di TKP dilengkapi Kartu Tugas dan ID Card PERS, Jika ada Wartawan kami menerima Suap / Imbalan terhadap narasumber harap laporkan ke Redaksi (Klik Disini) atau 08170226556 & 081259764162, kami butuh Dukungan Saran serta Kritik Anda. Kami ada untuk Anda.
Back to top button
error: ©Liputan_Indonesia...!!
Close