Presiden Donald Trump dan Presiden Putin, berjabat tangan bertemu di Hamburg

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sudah bertemu untuk pertama kalinya di sela-sela pertemuan puncak G20 di Hamburg, Jerman.

Keduanya awalnya berjabat tangan saat acara pembukan resmi, Jumat (07/07) dan setelah itu menggelar pertemuan bilateral, yang disebut ingin memulihkan hubungan yang terganggu dengan dugaan Rusia campur tangan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun lalu.

Presiden Trump mengatakan adalah kehormatan baginya untuk bertemu dengan Presiden Putin, yang pada gilirannya menyatakan gembira bisa bertemu secara langsung dengan Trump.


“Kami melakukan pembicara yang amat, amat baik. Kami berbicara sekarang dan jelas akan terus berlangsung. Kami menanti banyak hal positif yang terjadi untuk Rusia, Amerika Serikat, dan semua yang berkepentingan,” jelas Presiden Trump.

Di balik pertemuan ini, media mencoba membandingkan kedua pemimpin tersebut dalam berbagai aspek.

Jalan menuju puncak kekuasaan

Perbedaan besar antara kedua pemimpin negara adi daya ini adalah pada masa lalu sebelum menjabat presiden.

Vladimir Putin menghabiskan waktunya sebagai mata-mata di masa perang dingin dan sedang bertugas sebagai agen di Jerman Timur ketika negara komunis tersebut ambruk.

Dia biasanya beroperasi di balik panggung dan tetap tidak tampil besar-besaran ketika menjabat wali kota St Petersburg tahun 1990-an, sebelum memimpin badan intelijen FSB dan menjadi presiden, perdana menteri, serta kembai lagi ke kursi presiden.

Praktis berkuasa sejak tahun 2000, Putin memiliki reputasi sebagai ‘pejuang jalanan’ yang bisa dilacak ke masa ketika ia besar di blok perumahan komunal di Leningrad.

Dia mengatakan bahwa tahun-tahun itu mengajarkannya ‘jika perkelahian tak bisa dihindari, Anda harus melepas pukulan pertama’.

Baca:  Ungkap Kasus Novel Baswedan, Kapolri bentuk tim gabungan Polri-KPK

Sebagai perbandingan kontras, Trump lahir dari keluarga berada sebagai putra dari taipan properti di New York.

Dia berhasil bebas dari dinas wajib militer pada masa Perang Vietnam dan memulai bisnis sendiri dengan pinjaman US$1 juta dari ayahnya dengan membangun kerajaan properti, hotel, dan hiburan.

Selalu berupaya menarik perhatian, populartas Trump meroket ketika menjadi pembawa acara TV terkenal, The Apprentice.

Dia kemudian menggunakan popularitasnya sebagai batu loncatan untuk mencalonkan diri sebagai presiden dari Partai Republik.

Walau gayanya di depan umum amat berbeda dengan Putin, yang tampak dingin dan mengendalikan diri, Trump juga sebenarnya tak malu-malu untuk siap berkelahi.

Memulihkan masa kejayaan

Baik Trump maupun Putin sama-sama memiliki ambisi untuk memulihkan perasaan hilangnya kejayaan dari masing-masing negara.

Putin menyebut bubarnya Uni Soviet sebagai ‘bencana geopolitik terbesar pada Abad ke-20’.

Dia masuk ke Ukraina dan juga terlibat dalam perang di Suriah, yang dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan kekuatan maupun pengaruh Rusia pada saat bersamaan memukul ekspansi NATO ke kawasan Eropa timur.

Sementara Presiden Trump berambisi dengan slogannya ‘Membuat Amerika Hebat Kembali’, yang antara lain berarti meningkatkan anggaran militer Amerika Serikat dan menekan sekutunya untuk menyediakan anggaran lebih besar untuk pertahanan masing-masing.

Selain itu, Trump juga mundur dari kesepakatan iklim dunia untuk melindungi lapangan kerja di industri dalam negeri, antara lain di industri batu bara.

Kedua pemimpin pria ini juga sama-sama punya sikap ‘jantan’ yang juga diperlihatkan saat bertemu dengan para pemimpin dunia lain.

Baca:  Mudik Gratis, Bentuk Terimakasih Pemprov Jatim Kepada Masyarakat

Trump menolak bersalaman dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, dalam acara foto bersama pada bulan Maret tahun ini dan menggeser perdana menteri Montenegro dalam pertemuan puncak NATO, Mei lalu, untuk mendapat tempat di depan dan di tengah.

Sementara Vladimir Putin menggunakan cara-cara yang diatur untuk mengintimidasi pemimpin lain, seperti membiarkan anjing labrador-nya ikut dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang takut anjing.

Urusan keluarga

Gedung Putih di bawah Trump sepertinya menjadi urusan keluarga, yang jelas amat berbeda dengan cara Putin memimpin di Kremlin.

Putri Presiden Trump, Ivanka, mendapat kantor di West Wing dan menjadi penasihat ayahnya walau tanpa bayaran.

Suami Ivanka, Jared Kushner, ditunjuk sebagai penasihat senior presiden, sebuah posisi penting di Gedung Putih, dengan tanggung jawab dalam masalah Timur Tengah dan Cina serta reformasi pengadilan dan hubungan dengan Meksiko.

Namun Putin tampaknya amat menutup keluarganya dari perhatian umum.

Dia dan Lyudmila -istrinya selama 30 tahun- mengumumukan perceraian tahun 2013 dan kedua putri mereka tidak banyak diketahui masrayakat umum.

Seperti yang dikutip dari BBC, pada Tahun 2015, laporan media menyebutkan putri bungsunya, Katerina, tinggal di Moskow dengan menggunakan nama yang lain dan mendapat posisi senior di Universitas Moskow. Dia juga merupakan seorang penari akrobat rock ‘n’ roll.

Sedangkan putri sulungnya, Maria, merupakan seorang ilmuwan yang mendalami endocrinology atau ilmu tentang kelenjar dan hormon.

Putin, beberapa waktu lalu, tidak mau menyebutkan nama dan usia dari kedua cucunya. (BBC)

Bagikan berita ini

Baca Lainnya: