Polsek Bubutan, Hadirkan Saksi HaHeHo Narasumber Dari " Katanya " | Liputan Indonesia

Polsek Bubutan, Hadirkan Saksi HaHeHo Narasumber Dari ” Katanya “

Advertisement

Surabaya, Liputan Indonesia – Sidang lanjutan perkara praperadilan Sapto Peristiawan Yudho Nugroho dengan No. Register Perkara 46/praper/2016/PN.Surabaya yang digelar di ruang sidang Tirta 1 dengan agenda pembuktian dari pihak Termohon Polsek Bubutan Surabaya diwarnai kericuhan.

Pasalnya pihak Termohon Polsek Bubutan tidak menghadirkan Penyidik yang menangani perkara Sapto Peristiawan Yudho Nugroho, malah menghadirkan M. Choiri yang memberikan kesaksian tidak berdasarkan fakta terjadinya tindak pidana yang disangkakan.

Peristiwa ini  di duga terjadi hari Rabu tanggal 21 September 2016, namun saksi yang dihadirkan Termohon Polsek Bubutan tidak mengetahui apapun pada hari dimana terjadinya tindak pidana. Saksi hanya mengetahui kejadian pengeroyokan Tersangka Sapto.

” Saya tidak tau menau siapa yang ambil motor Jaka pada hari rabu, saya taunya “katanya” jaka bahwa yang ambil motornya itu si Sapto alias Nur atau Black” ujar M.Choiri selaku saksi dalam memberikan keterangan.

Diketahui penyebutan Nur bukan merupakan nama panggilan dari Sapto Peristiawan Yudho Nugroho, hal ini semakin mengindikasikan bahwa Sapto merupakan korban salah tangkap (error in persona).

Atas dasar hal tersebut tim kuasa hukum Sapto mengajukan keberatan atas saksi yang dihadirkan pihak Termohon Polsek Bubutan.

Iklan anda Banner Lindo

” Saksi yang dihadirkan bukanlah saksi fakta, saksi memberikan kesaksian hanya berdasar “katanya” hal ini tidak dibenarkan secara hukum, Penetapan tersangka hanya berdasarkan “Katanya” ucapan kesaksiannya M.Choiri dalam fakta mengatakan tidak seirama, dengan fakta di lapangan, seharusnya pihak Polsek Bubutan Profesional dalam menentukan saksi, kejadian ini makin mempermalukan nama baik polisi “. Tutur kuasa hukum HERI FIRNANDO, SH.

Terlebih, asas yang paling mendasar dalam hukum pembuktian adalah keterangan saksi yang mendengar, melihat dan menyaksikan sendiri. Saksi yang memberikan keterangan berdasar “katanya” itu termasuk testimonium de auditu dan itu tidak dibenarkan dalam hukum pembuktian. ” Tambah kuasa hukum satu HERI FIRNANDO, S.H.

Sebenarnya pembuktian dalam perkara praperadilan adalah sederhana. Menguji tindakan penyidik sah atau tidak. Jadi, saksi kunci untuk menjelaskan perkara dimaksud adalah penyidiknya itu sendiri.

Kuasa Hukum Dua, ERICK IBRAHIM WIJAYANTO, SH menambahkan, Sidang kali ini menjadi lucu ketika saksi mengucapkan ” Katanya ” yang diajukan saat sidang praperadilan Kepolisian Sektor Bubutan, akan tetapi, kemudian malah hanya mengajukan Saksi yang bukan merupakan saksi fakta.” Tuturnya.

” Bilamana sidang ini ricuh disebabkan oleh kesaksian korban yang lucu, masak ada saksi fakta, kok ternyata hanya bernarasumber ” Katanya” apakah ini yang disebut negara hukum, kurang profesionalnya kinerja Polsek Bubutan menjadikan Citra Polisi makin menjadi buruk. Kalau seperti ini kan kasihan polisi yang baik baik, ini sudah jelas Polsek Bubutan mempermainkan Hakim hingga majelis Hakim geram serta membubarkan sidang, gara gara ulah saksi lucu ” Imbuh Kuasa Hukum Dua ERICK IBRAHIM WIJAYANTO, SH (Red/tim)

Iklan AndaKepiting Jimbaran


Media Liputan Indonesia Di Terbitkan PT. LINDO SAHABAT MANDIRI - Mengemban Tugas Sosial Kontrol Masyarakat, Bekerja Berdasarkan UU No: 40 Thn 1999 Tentang PERS | Wartawan kami di TKP dilengkapi Kartu Tugas dan ID Card PERS, Jika ada Wartawan kami menerima Suap / Imbalan terhadap narasumber harap laporkan ke Redaksi (Klik Disini) atau 08170226556 & 081259764162, kami butuh Dukungan Saran serta Kritik Anda. Kami ada untuk Anda.
Back to top button
error: ©Liputan_Indonesia...!!
Close