‘Persebaya dan Mafia Bola’, Sinyo Devara: Bonek geram dengan Dhimam Abror

Dibaca: 1277 kali
 Foto: Sinyo Devara
Foto: Sinyo Devara

SURABAYA – Supporter klub sepakbola Persebaya Surabaya, yang dikenal dengan sebutan Bonek, rupanya geram dengan artikel tulisan mantan wartawan Jawa Pos Dhimam Abror. Yang isinya dinilai memperkeruh iklim pengelolaan klub kebanggaan mereka. Pasalnya, tulisan Abror tersebut meluncur di tengah gugatan hukum yang diajukan klub tersebut kepada harian Jawa Pos atas tulisan harian tersebut yang dinilai merugikan The Green Force.

“Sebaiknya Dhimam Abror fokus saja menjadi caleg, jangan cari panggung di Persebaya. Sebab tulisan Abror dengan judul ‘Jawa Pos, Persebaya dan Mafia Bola’ itu bukannya menjadi solusi, tapi seperti memancing di air keruh. Bahkan memperkeruh suasana. Karena menulis juga latar belakang Persebaya yang ternyata tidak semua tepat,” ungkap pentolan Bonek Sinyo Devara kepada awak media di Surabaya, Rabu, (9/1/19).

Seperti diketahui, manajemen Persebaya pada 7 Januari 2019 melaporkan harian Jawa Pos ke polisi atas investigasi harian itu pada 6 Januari 2019, yang menyebut adanya indikasi pengaturan skor yang dilakukan klub Bajul Ijo tersebut. Dugaan match fixing itu, disebut terjadi saat Persebaya bertemu Kalteng Putra, di putaran Liga 2 silam. Manajemen klub pun menganggap penulisan laporan tersebut mengandung unsur fitnah dan pencemaran nama baik.

Baca:  Walikota Madiun dilantik, Gubernur Ingatkan Akuntabilitas Anggaran

Dikatakan Sinyo, dirinya dan para bonek mania berharap polemik ini segera selesai, demi masa depan klub kebanggaan arek suroboyo ini. Ia pun berharap, tidak ada lagi orang semacam Abror lain, yang memanfaatkan situasi ini dengan mencari “untung” dengan membuat sensasi. Apalagi dalam tulisannya, Abror menyinggung adanya konflik di Persebaya yang dipicu oleh trio, Saleh Mukadar, Cholid Goromah dan La Nyalla Mahmud Mattalitti. “Bagi kami suporter, selisih paham antar beliau itu tidak ada soal. Toh tujuannya satu, untuk kebaikan Persebaya. Dan buktinya, hasil akhirnya, Persebaya sudah satu, dan bermain di Liga Indonesia PSSI,” urainya.

“Asal Abror tahu, kami lah yang memperjuangkan agar Persebaya kembali menjadi satu, dan bermain di Liga Indonesia. Saat itu kami menemui PSSI, saat ketuanya Pak La Nyalla. Dan beliau setuju. Bahkan dimasukkan ke agenda di kongres Ancol. Tapi saat dibahas, anggota PSSI Haruna Soemitro melakukan interupsi menolak. Dan meminta dibicarakan di kongres berikutnya. Kami mencatat semua perjalanan sejarah itu,” urai Sinyo.

Baca:  Puluhan Korban Penipuan Haji PT. Global Access Demo di PN Surabaya

Kasus Stikosa-AWS

Dirijen Bonek ini juga mengingatkan Abror untuk fokus pada masalah yang menerpa dirinya. Terkait skandal penjualan lahan milik Yayasan Stikosa-AWS di Nginden, Surabaya. Sebab, dirinya sempat mengikuti pemberitaan yang santer di tahun 2011 silam itu. Hampir semua media menulis tentang kisruh penjualan aset tersebut. dimana Abror di Yayasan itu menjabat sebagai ketua harian.

“Saya pernah baca di harian Surabaya Pagi, bahkan ditulis bahwa penjualan aset tersebut sudah memenuhi unsur pidana. Tapi rupanya aparat hukum belum bertindak sampai hari ini. Saya juga baca di media, mahasiswa dan alumni Stikosa-AWS sampai menggelar unjukrasa meminta tanggung jawab saudara Abror. Sebaiknya Abror fokus di situ saja lah, daripada campuri urusan internal Persebaya,” tandasnya. (red)