Orang Rohingya di Myanmar Mendapatkan Perhatian Dunia | Liputan Indonesia

Orang Rohingya di Myanmar Mendapatkan Perhatian Dunia

Advertisement

Dunia, Liputan Indonesia — Gejolak Rohingya di Myanmar tampak dalam rekaman video tersebut, puluhan warga desa duduk berjajar sembari menunduk dengan kondisi kedua tangan dilingkarkan ke leher masing-masing. Seorang polisi berseragam kemudian terlihat memukuli seorang penduduk, sedangkan rekannya menendang wajahnya.

Pemerintah Myanmar menyatakan bakal menyelidiki sebuah rekaman video yang menunjukkan dugaan pemukulan orang-orang Rohingya oleh anggota polisi.

Aksi serupa dilakukan polisi lainnya terhadap penduduk yang sedang duduk menunduk. Komite Informasi, yang merupakan bagian dari kantor Konselor Negara, berjanji tindakan akan diambil terhadap polisi yang melanggar aturan kepolisian.

Pemerintah mengklaim insiden, yang direkam oleh sesama polisi, terjadi di Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, pada November 2016 lalu. Saat itu, polisi sedang melakukan ‘operasi pembersihan’ setelah milisi bersenjata menyerang pos-pos perbatasan di Maungdaw yang menewaskan sembilan polisi pada 9 Oktober.

Imbasnya, sejumlah orang dibunuh dalam operasi militer di Negara Bagian Rakhine. Pemerintah berdalih operasi itu dilancarkan untuk melawan teroris dan membantah laporan mengenai pembunuhan dan penyiksaan terhadap warga sipil Rohingya yang beragama Islam.

Tudingan bahwa terjadi pembersihan etnik juga disanggah pemerintah. Masalahnya, klaim pemerintah tersebut sulit diverifikasi lantaran Negara Bagian Rakhine dinyatakan tertutup untuk wartawan dan penyelidik independen.

Iklan anda Banner Lindo

Penyiksaan aparat

Dikutip dari koresponden BBC news di Myanmar, Jonah Fisher, melaporkan bahwa tayangan video berisi penyiksaan aparat terhadap warga etnik Rohingya terus mengalir dari Rakhine selama tiga bulan terakhir.

Warga Rohingya juga menuding militer melakukan pemerkosaan, pembantaian, pembakaran, dan penjarahan desa-desa di negara bagian itu.

Akan tetapi, pemerintah Myanmar yang diwakili Aung San Suu Kyi tetap bergeming. Bahkan, beberapa rekaman video dari Rakhine yang beredar disebut “berita palsu”.

Padahal, data resmi menunjukkan sedikitnya enam warga Rohingya meninggal dunia di dalam tahanan selama tiga bulan.

Foto satelit lembaga internasional, Human Rights Watch, juga memperlihatkan lebih dari 1.200 rumah diratakan dengan tanah di beberapa kampung tempat tinggal warga Rohingya di Myanmar.

Pemerintah mengatakan bahwa justru orang Rohingya yang sengaja membakar rumah mereka untuk menarik perhatian dunia internasional.

Penulis: (one)

Iklan AndaKepiting Jimbaran


Media Liputan Indonesia Di Terbitkan PT. LINDO SAHABAT MANDIRI - Mengemban Tugas Sosial Kontrol Masyarakat, Bekerja Berdasarkan UU No: 40 Thn 1999 Tentang PERS | Wartawan kami di TKP dilengkapi Kartu Tugas dan ID Card PERS, Jika ada Wartawan kami menerima Suap / Imbalan terhadap narasumber harap laporkan ke Redaksi (Klik Disini) atau 08170226556 & 081259764162, kami butuh Dukungan Saran serta Kritik Anda. Kami ada untuk Anda.
Back to top button
error: ©Liputan_Indonesia...!!
Close