Nocturno, Elisyus : Buku ini berisi seberapa jujurkah menulis diri kita?

0
177
Buku Nocturno @Karya Elisyus

Surabaya – Sebagian besar puisi-puisi yang ada dalam buku Nocturno karya Elisyus ini berbicara tentang keakuan. Tentang kata hati, tentang perasaan; cinta, gundah, sepi, luka, rindu. Jika perasaan itu ibarat rumah, dia ingin tinggal dan belum mau pergi.

Lalu, apakah puisi-puisi jenis begini akan dinilai lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan jenis puisi-puisi yang mengulas segala hal yang ada di luar diri kita? Jawaban kita akan tergantung dari bagaimana cara kita memaknai puisi-puisi keakuan yang pernah kita ciptakan.

Apa yang terjadi jika kita memilih untuk tidak pergi lalu sibuk dengan diri sendiri? Kemungkinan ada dua hal yang akan dilakukan. Pertama, kita akan terpuruk dan semakin jatuh dalam permasalahan yang kita hadapi. Dan yang kedua, kita akan berkontemplasi untuk menemukan cara bagaimana kita bertindak selanjutnya. Meski keduanya sama-sama memilih untuk tetap tinggal namun sebenarnya akan sangat berbeda dalam pengejawantahannya.

Kondisi terpuruk akan membawa kita pada situasi buruk dan tak berkehendak untuk bangkit. Sedangkan berkontemplasi, meski kita berada dalam situasi apapun selalu memikirkan bagaimana caranya menjawab masa depan dengan bijak.

Baca juga:  Pakde Karwo Paparkan Kesiapan Pilkada di Jatim, kepada DPD RI

Seberapa jujurkah kita menulis tentang diri kita? Pertanyaan inilah yang penting. Karena, sebenarnya kita dapat melihat seberapa arifnya kita membaca keadaan yang ada di luar diri kita dapat dilihat dari seberapa jujur kita membaca diri kita sendiri. Tingkat kejujuran itu akan membawa kepada seberapa bijak kita membaca keadaan dari segala hal yang ada di luar kita itu. Jadi sebenarnnya bukan masalah puisi-puisi itu berbicara sesuatu yang ada di dalam atau di luar diri kita tapi yang lebih penting apakah benar puisi-puisi itu dibuat dengan kejujuran. Jujur dalam menilai keadaan.

Dan saya melihat puisi-puisi keakuan Elisyus ini adalah usahanya untuk mengulas diri secara jujur dan proporsional. Dan hendaknya kita patut untuk menghormatinya. Saya juga tidak melihat adanya indikasi bahwa Elisyus tidak mampu membuat puisi-puisi yang bertema di luar dirinya. Dari pembacaan puisi-puisi itu justru saya menangkap bahwa Elisyus sedang berusaha keras mengenali dirinya secara baik melalui puisi. Dan saya menilai hal itu berhasil. Seperti keberhasilan dia dalam mengungkap makna cinta yang tidak melulu berarti bersih dan sehat ke dalam puisi yang berjudul: puisi dan kamu, cinta; selalu saja puisimu/ bercerita tentang cinta, air mata/ terkadang harapan, dan tak jarang/ kegagalan dan kecewa. entah sebelah mana darimu, atau mungkin/ puisimu/ yang aku cintai/ namun, pahitnya dari itu…/ senikmat kopi tubruk yang menguapkan kepalaku. dan selalu saja/ malam menuntun/ mengantarkanku ke pelataran kegundahanmu/ bersama puisi-puisimu yang menghantu/ menyihirku untuk selalu kembali/ kembali…/ menggauli air matamu. (blok e, desembar 2012, halaman 34).

Keberhasilan Elisyus membaca diri pastinya akan membawa dampak baik terhadap bagaimana nanti dia akan membaca hal yang ada di luar dirinya. Bukankah ada sebuah pepatah yang mengatakan, sebelum kita mampu menilai hal yang ada di luar diri kita, alangkah baiknya lebih dulu kita harus bisa menilai diri kita secara jujur dan proporsional? Jadi menurut saya, buku puisi ini adalah langkah awal yang baik bagi penulis dalam perjalanan kepenyairannya nanti.

Baca juga:  Rekonsiliasi Budaya Akhiri 661 Tahun Pemasalahan Sunda - Jawa
Elis Yusniyawati (Elisyus), Mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya.

Namun begitu, bila saya cermati lebih teliti, saat membaca buku puisi sepenjang 79 halaman ini sebenarnya ada satu puisi yang membuat saya tergelitik. Puisi ini tiba-tiba seperti membawa saya pada dunia yang lain. Puisi ini berjudul: si minah jadi lonte. Bisa saja, satu puisi ini sebagai contoh dari penulis untuk mencoba melihat satu episode kecil yang terjadi di luar dirinya.

Terakhir sebagai penutup, ketika saya membaca puisi-puisi Elisyus secara keseluruhan, saya kerap mengamini bahwa apa yang dia ungkap dan bagaimana cara dia mengungkap perasaan itu terasa pas. Kata-kata itu dapat dengan mudah masuk begitu saja dan menjadi singkron dengan apa yang saya pikirkan. Dan hebatnya hal itu juga berlaku bagi beberapa hal yang terkadang secara harafiah belum pernah saya bayangkan. Oleh karena itulah saya setuju dengan apa kara Radhar Panca Dahana dalam salah satu pendapatnya yang tertera dalam backcover buku tersebut. Beliau mengatakan bahwa Elisyus adalah salah satu dari sekian penulis berbakat yang memiliki diksi kuat dan cukup orisinil. Banyak hal yang nyaris tak saya sangka dalam tulisannya. Begitu kuat rasa hati Elisyus dapat saya baca dan rasa dari beberapa puisinya.

Judul Buku : Nocturno (Kumpulan Puisi). Penulis : Elisyus.

Judul Buku : Nocturno (Kumpulan Puisi).
Penulis : Elisyus.
Penerbit: Bellsica Sinar Prima.
Cetakan/tahun: I/September 2014
Halaman: 79 hal.

Baca juga:  Ngaku bisa gandakan uang, ditangkap Satreskrim Polres Sampang

Sumber: yuditeha

Bagikan berita ini

Berita Video

#infolinksbanner_dapatduitonline
hak-jawab-hak-koreksi-hak-tolak-lindo iklan-adsense
#infolinksbanner_dapatduitonline