Mohammed bin Salman: Manuver sang putra mahkota memodernisasi Arab Saudi

Putra Raja di tuduh dalang pembunuhan Jamal Khashoggi

Advertisement , #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru
, #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru
Foto: Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.

Liputan Indonesia | Dunia – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, atau dikenal dengan singkatan MBS, mentransformasi dan memodernisasi negerinya yang dikenal sangat konservatif.

Namun di saat yang sama, ia telah menyeret Saudi ke dalam perang di Yaman; memenjarakan para pengunjuk rasa hak-hak perempuan, ulama Islam dan penulis blog; serta diduga menjadi dalang pembunuhan kritikus pemerintah, Jamal Khashoggi, di Istanbul tahun lalu.

Lantas, siapa sebenarnya sosok MBS?

Si tukang catat

Jeddah, September 2013. Di bawah terik matahari Laut Merah, para penjaga istana menyingkir ketika mobil kami melewati gerbang berpengamanan ketat.

                   

Perlu waktu berhari-hari bagi kami hingga akhirnya mendapatkan jadwal bertemu dengan putra mahkota Arab Saudi saat itu – sekaligus menteri pertahanan – Salman bin Abdulaziz.

Beberapa tahun sebelumnya, pada 2004, Pangeran Salman menjabat gubernur Riyadh ketika beberapa orang bersenjata menyergap kami, tim BBC. Mereka menembak saya sampai enam kali – berharap saya tewas – dan membunuh juru kamera saya yang berasal dari Irlandia, Simon Cumbers.

Iklan anda , #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru

Saya diberitahu bahwa sang pangeran menjenguk saya di rumah sakit, tetapi saya tidak mengingat apapun karena pada saat itu masih berada dalam kondisi koma.

Sekarang, Salman sudah menjadi raja Saudi dengan kesehatan yang melemah. Sebenarnya, pada 2013, saya bahkan sudah melihat dirinya bertumpu pada tongkat ketika kami duduk bersama di kursi emas berukir di ruang tamu istana.

Wajahnya yang lonjong dan serius kerap menyunggingkan senyuman ketika ia berbicara perlahan, dalam bahasa Inggris, dengan suara yang dalam dan bertenaga, sambil mengisahkan betapa ia menyukai London.

Riyadh, ibu kota Arab Saudi. 

Dia telah melihat perubahan luar biasa. Sebagai gubernur ibu kota Saudi, Riyadh, selama lima dekade, ia menyaksikan kota itu berubah dari kota padang pasir berpenduduk 200.000 orang menjadi kota metropolitan sesak dengan penduduk lebih dari lima juta jiwa.

Sepanjang pertemuan kerajaan tersebut, saya samar-samar menyadari ada seseorang yang duduk di belakang saya, di tepi belakang ruangan, mencatat dalam diam.

Saya berasumsi – keliru – bahwa ia pasti adalah sekretaris pribadi putra mahkota. Saya melihatnya tinggi dan kekar, dengan janggut yang dipangkas rapi. Ia mengenakan bisht tradisional – jubah yang dihiasi sulaman emas yang menunjukkan pangkat dan kedudukannya.

Saat pertemuan berakhir, saya memperkenalkan diri kepada si tukang catat tadi. Kami bersalaman dan saya menanyakan siapa dirinya.

“Saya Pangeran Mohammed bin Salman,” jawabnya, lalu menambahkan dengan rendah hati, “Saya pengacara. Anda baru saja berbincang dengan Ayah saya.”

Saya benar-benar tidak tahu – di tengah siang hari yang panas di Jeddah, bahwa pemuda berusia 28 tahun dengan tutur kata santun dan tidak banyak dikenal itu akan menjadi salah satu pemimpin paling berkuasa sekaligus paling kontroversial yang pernah ada di jazirah Arab.

Khashoggi

Pada 2 Oktober 2018, pukul 13.14, Jamal Khashoggi memasuki bangunan biasa berwarna krem di daerah Levent, Istanbul, Turki. Itu adalah gedung Konsulat Arab Saudi.

Wartawan terkemuka sekaligus pengkritik vokal MBS itu hanya berkunjung ke sana untuk mengambil akta cerainya yang sudah disahkan.

 Jamal Khashoggi terakhir sebelum nyawanya dihabisi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. 

Namun, selagi ia berada di dalam gedung itu, ia dikelilingi oleh regu pembunuh yang terdiri dari anggota keamanan dan agen intelijen yang dikirim dari Riyadh. Ia kemudian dibunuh, dimutilasi, lalu potongan tubuhnya dibuang dan tidak pernah ditemukan.

Sementara itu, ribuan orang tewas dalam peperangan yang menghancurkan Yaman. Banyak di antara mereka tewas akibat serangan udara yang dipimpin Arab Saudi.

Ratusan warga Saudi yang mengkritik kebijakan MBS lantas dijebloskan ke penjara. Namun pembunuhan sadis Khashoggi lah yang justru membuat sebagian besar dunia menentang sang putra mahkota.

Meski dibantah pemerintah Arab Saudi, badan intelijen Barat yakin bahwa – setidaknya – kemungkinan besar MBS mengetahui rencana operasi untuk membungkam Khashoggi. Menurut sejumlah laporan, CIA bahkan yakin MBS lah yang memerintahkan operasi itu.

Jamal Khashoggi dibunuh di konsulat Arab Saudi di Istanbul 2 Oktober 2018. 

Dalam wawancara program 60 Minutes stasiun televisi CBS yang tayang 29 September lalu, Pangeran MBS sebatas mengatakan “bertanggung jawab sepenuhnya” atas apa yang terjadi.

Dalam wawancara sebelumnya dengan PBS, ia mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi “di bawah pengawasannya”. Meski demikian, pernyataan-pernyataan itu tidak sama dengan mengakui kesalahan – sesuatu yang masih ia dan pemerintahannya sangkal.

Kunci seluruh misteri pembunuhan keji itu adalah salah satu mantan penasihat terdekat MBS, mantan anggota angkatan udara berusia 41 tahun, Saud al-Qahtani.

Hingga akhirnya diberhentikan dari pekerjaannya – segera setelah pembunuhan Khashoggi, atas perintah Raja Salman – ia adalah ‘penjaga gerbang’ sang putra mahkota di lingkungan kerajaan.

Al-Qahtani disebut mengelola strategi pengawasan siber yang memantau warga Saudi baik di dalam maupun di luar negeri, menggunakan program perangkat lunak yang – menurut beberapa laporan – dapat mengubah ponsel seseorang menjadi alat penyadap, tanpa diketahui pemiliknya.

, #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru
Foto: Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.

Siapa saja yang kritis terhadap kebijakan MBS akan mendapati media sosial mereka diserang menggunakan pesan-pesan kasar dan bernada ancaman.

Dengan lebih dari satu juta pengikut di Twitter, al-Qahtani mampu memobilisasi sebuah “pasukan lalat” untuk melecehkan dan mempermalukan mereka yang dianggap musuh.

Satu dari sedikit foto al-Qahtani yang dipajang sebagai foto profil Twitternya. 

Pada musim panas 2017, dengan penangkapan dan pemenjaraan terhadap penulis blog, aktivis demokrasi, pegiat HAM dan warga Saudi lainnya, Jamal Khashoggi tahu bahwa ia pun dalam bahaya.

Pada Juni di tahun yang sama, bulan ketika MBS diangkat menjadi putra mahkota, Khashoggi hengkang dari Arab Saudi selagi bisa dan mengasingkan diri di Amerika Serikat.

Wartawan berusia 59 tahun itu selalu menyebut dirinya patriot Saudi – ia pernah menjadi penasihat bidang media bagi duta besar Arab Saudi di London pada awal tahun 2000-an, dan saya biasa mengajaknya berbincang di kedai kopi pada masa-masa itu.

Namun setelah pindah ke AS, ia menulis kolom Washington Post dengan konten yang semakin kritis terhadap gaya otokratis MBS. Sang putra mahkota pun dibuatnya jengkel.

Khashoggi mulai mendapat telepon dari Riyadh yang mendesaknya untuk kembali ke Saudi, menjanjikannya perjalanan yang aman, bahkan jabatan di pemerintahan.

Khashoggi tidak memercayai semua jaminan itu. Ia memberi tahu teman-temannya bahwa tim al-Qahtani telah meretas surel dan pesan singkatnya, dan membaca percakapannya dengan tokoh-tokoh yang menentang pemerintah.

Khashoggi dan beberapa orang lainnya punya rencana untuk meluncurkan gerakan kebebasan berpendapat di dunia Arab. Ia memiliki 1,6 juta pengikut Twitter dan merupakan salah satu wartawan paling terkemuka di Timur Tengah.

Bagi MBS dan para penasihatnya, Khashoggi dianggap sebagai ancaman nyata, meski lagi-lagi, dibantah sang pangeran dalam wawancaranya dengan CBS.

Seorang polisi Turki berdiri di luar pintu masuk gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul. 

Merunut pada sejarah, sebelumnya pernah terjadi sejumlah kasus di mana pemimpin Arab Saudi menculik warga yang “bandel”, bahkan para pangeran, dan membawa mereka kembali ke Riyadh untuk “mengembalikan mereka ke jalur” yang dianggap benar, seperti yang disebut para pengamat.

Tapi bukan dengan membunuh. Pembunuhan di kota asing adalah pergeseran yang drastis dari modus operandi mereka yang biasanya.

Kematian Khashoggi dengan cepat menjadi skandal internasional.

Setelah penjelasan awal yang ceroboh tentang apa yang mungkin menimpa Khashoggi di Istanbul, pemerintah Arab Saudi telah berusaha keras untuk menjauhkan nama MBS dari skandal tersebut.

Itu adalah operasi jahat, kata mereka, sebuah kasus di mana orang-orang secara berlebihan melampaui perintah yang mereka terima atau menangani masalah yang ada dengan cara mereka sendiri.

Akan tetapi, CIA – Badan Intelijen Pusat AS – dan sejumlah agen mata-mata Barat lainnya, telah mendengarkan sendiri rekaman mengerikan yang direkam diam-diam oleh badan intelijen Turki, MIT, dari dalam gedung Konsulat Arab Saudi.

Dan ketika AS mengeluarkan sanksi terhadap 17 orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut, nama Saud al-Qahtani berada di puncak daftar itu.

Hingga kini, belum ada bukti kuat yang secara tegas mengaitkan MBS dengan pembunuhan itu.

Akan tetapi, sebuah hasil asesmen rahasia CIA yang didapat Wall Street Journal menunjukkan setidaknya 11 pesan singkat yang dikirimkan MBS kepada al-Qahtani pada saat sebelum, ketika, dan sesudah nyawa Khashoggi dihabisi.

Dan, mari kita perjelas. Di negara-negara Teluk Arab, tempat saya tinggal dan bekerja bertahun-tahun, tidak ada yang namanya “operasi jahat”. Hal seperti itu tidak terjadi di sana. Tak ada satu hal pun di Teluk Arab yang dilakukan tanpa ada persetujuan dari atas.

Demonstrasi mengecam pembunuhan Jamal Khashoggi digelar di depan Konsulat Arab Saudi di Waashington DC, AS, 2 Oktober 2019. 

Pada Agustus 2018, sebelum pembunuhan terjadi, Saud al-Qahtani mengunggah sebuah cuitan. Ia mengatakan: “Apa Anda pikir saya membuat keputusan tanpa arahan? Saya adalah pegawai dan pelaksana perintah Raja dan Putra Mahkota.”

Tak ada satu pun yang berpikiran Raja Salman terlibat dalam pembunuhan itu. Namun skenario itu tampaknya dicetuskan tepat dari dalam lingkaran dalam anak kesayangannya itu.

“Tidak bisa dibayangkan,” kata seorang mantan perwira intelijen Inggris, “bahwa MBS tidak tahu tentang (pembunuhan) itu.”

Lantas di mana al-Qahtani dan mengapa ia tidak diadili?

Baru-baru ini, saya menanyakan hal itu kepada duta besar Arab Saudi bagi London yang baru, Pangeran Khalid bin Bandar al-Saud. Ia memastikan kepada saya bahwa al-Qahtani telah dicabut dari jabatannya dan tengah diselidiki. Jika ia diketahui terlibat, ia akan diadili, ujarnya kepada saya.

Akan tetapi, laporan dari Riyadh menunjukkan bahwa meskipun ia tidak menonjolkan diri, al-Qahtani belum ditahan.

“Ia tidak muncul di pengadilan tetapi ia masih terlibat dalam masalah keamanan siber dan sejumlah proyek lainnya,” ungkap salah seorang warga Teluk Arab yang dekat dengan lingkaran MBS. “Ia merunduk, tetapi mereka memanfaatkan keahliannya.”

Ia melanjutkan bahwa bagi orang-orang di sekitar MBS, al-Qahtani adalah orang yang “rela berkorban untuk kepentingan kelompoknya”. “Ya, operasi (di Istanbul) itu berantakan, tetapi ia menjalankan perintahnya.”

Unjuk rasa di luar Kedutaan Besar Arab Saudi di AS, enam hari setelah hilangnya Jamal Khashoggi. 

Pemerintah Saudi telah mengadili 11 orang yang diduga terlibat kasus Khashoggi. Proses persidangan sudah dimulai sejak Januari, namun hingga kini belum ada keputusan maupun hukuman yang dijatuhkan, atau bahkan indikasi kapan persidangan akan berakhir.

Sistem peradilan Arab Saudi dikenal sering kali buram, di mana putusan kerap diserahkan kepada kehendak hakim ketimbang mengikuti hukum pidana yang berlaku.

Salah satu tokoh senior yang diduga terlibat oleh pemerintah adalah Mayor Jenderal Ahmed al-Assiri, wakil kepala intelijen dan sebelumnya merupakan juru bicara kampanye udara kontroversial yang dipimpin Saudi dalam perang Yaman.

Sempat bertemu dengannya pada beberapa kesempatan di Riyadh, bagi saya, al-Assiri tidak tampak seperti seseorang yang akan bergerak sendiri tanpa mendapat persetujuan atasan.

Apapun putusan akhir yang keluar dari proses persidangan keruh itu, satu hal yang pasti – pembunuhan Khashoggi telah mengakibatkan kerusakan besar dan abadi terhadap reputasi MBS maupun Arab Saudi di mata dunia.

“Biar saya perjelas,” ujar duta besar Saudi untuk London kepada saya pada bulan September, dengan keterusterangan yang mengejutkan untuk ukuran seorang anggota senior keluarga yang berkuasa.

“Pembunuhan Khashoggi adalah noda bagi negara kita, pemerintahan kita dan rakyat kita. Saya berharap hal itu tidak pernah terjadi.”

Arab Saudi yang lebih lunak?

Malam hari medio Desember di kota pinggiran, Diriyah, persis di luar ibu kota, Riyadh, kerumunan besar muda-mudi Saudi – yang berpakaian ala Barat – bergoyang mengikuti alunan musik, mengangkat handphone mereka di udara, dengan cahaya laser berselang-seling menyelimuti auditorium. David Guetta, DJ asal Prancis, beraksi di atas panggung.

Di lokasi yang sama, para perempuan mempraktikkan kebebasan yang baru mereka peroleh untuk berkendara sendiri.

Mereka datang ke venue itu dengan menyetir mobil-mobil sports mewah untuk menonton balap Formula E tahunan yang digelar di Riyadh. Juga digelar konser Black Eyed Peas dan Enrique Iglesias.

Ini adalah Arab Saudi baru sebagaimana dibentuk sang putra mahkota yang sedang memodernisasi negerinya. Industri hiburan masuk, ketegangan budaya ditinggalkan.

Bagi siapapun yang tinggal atau pernah mengunjungi Saudi dalam 40 tahun terakhir, transformasi ini sangatlah luar biasa.

Percampuran bebas antar-jenis kelamin dalam suatu pesta sama sekali tak terpikir beberapa saat yang lalu, karena merupakan hal yang dilarang ulama konservatif.

Arab Saudi yang saya tahu dulu memiliki wajah pertapa tanpa nuansa suka cita – sebuah tempat di mana Muttawa, polisi agama, menutup kafe-kafe shisha populer di Riyadh dan memerintahkan toko-toko untuk tidak memutar musik sebagai bagian dari interpretasi ketat mereka atas hukum syariah.

Sejak menjadi putra mahkota pada 2017, MBS telah memutuskan – dengan dukungan raja – untuk membalikkan citra Arab Saudi menjadi kawasan yang menyenangkan dan bebas.

Bioskop, pengendara perempuan, hiburan publik, semuanya kini dibebaskan. MBS mengatakan, ingin membuat negerinya menjadi tempat yang lebih lunak dan lebih baik.

Larangan kerajaan untuk pendirian bioskop baru dicabut tahun 2018. 

“Apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir bukanlah Arab Saudi,” umum MBS pada Oktober 2017. “Setelah revolusi Iran tahun 1979, orang-orang ingin meniru model ini di berbagai negara, salah satunya Arab Saudi. Kita tidak tahu bagaimana menghadapinya. Dan masalah itu menyebar ke seluruh dunia. Sekarang adalah waktunya untuk menyingkirkan itu semua.”

Faktanya, Arab Saudi, negara yang sangat beretnis dan konservatif, tidak pernah menikmati pesona dan distraksi layaknya kota-kota urban Arab yang menjadi wadah bertemunya berbagai budaya, seperti Kairo atau Baghdad.

Terlepas dari itu, apa yang MBS katakan persis dengan apa yang diinginkan Amerika Serikat.

Sejak saat itu, hubungan dekat telah terjalin antara Washington dengan putra mahkota yang baru. Donald Trump memilih Riyadh sebagai negara tujuan kunjungan kepresidenannya yang pertama pada Mei 2017. Menantunya, Jared Kushner, menjalin hubungan kerja yang erat dengan MBS.

Maret 2018: MBS menemui Donald Trump di Gedung Putih. 

Mencoba mengadaptasi “Islam moderat”, MBS mengeluarkan izin diselenggarakannya konser hingga misa Kristen Koptik.

Di negaranya, popularitasnya naik, terutama di kalangan warga muda yang sudah lelah dipimpin oleh para pemimpin yang usianya lebih tua setengah abad dibanding mereka. MBS baru berusia 34 tahun – pemimpin nasional Arab Saudi pertama yang mereka anggap ‘dekat’.

“Ia suka makanan cepat saji seperti hot dog, dan ia sering minum Diet Coke,” ujar seorang pebisnis Teluk Arab yang namanya tak ingin disebut. MBS disebut tumbuh besar bermain gim Call of Duty dan sangat kagum dengan dunia teknologi.

Pada sebuah forum investasi di Riyadh bulan November 2018 lalu, perempuan-perempuan muda Arab Saudi mendekat dan meminta berswafoto dengan sang putra mahkota. Ia terlalu senang, sampai-sampai parasnya yang kaku dan tidak terduga justru menyunggingkan seringai bak bintang film.

“Ia adalah pemimpin yang sudah lama dinantikan di Arab Saudi,” ujar Malek Dahlan, seorang pengacara internasional. “Arab Saudi belum pernah memiliki seseorang dengan karisma sepertinya sejak sang kakek, Raja Abdulaziz.”

Pejalan kaki berlalu lalang di depan poster Raja Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman pada perayaan Hari Nasional Arab Saudi ke-89 di Riyadh, 23 September lalu. 

“Kesan saya,” kata Sir William Patey, yang merupakan duta besar Inggris untuk Riyadh dari tahun 2006 hingga 2010, “bahwa kebanyakan warga Saudi, khusunya yang muda, mendukung putra mahkota dan arah perjalanannya.”

Dalam hal konsentrasi kekuatan MBS yang luar biasa ke dalam genggamannya sendiri, ia menambahkan: “Mereka terbiasa melihat otoritas yang lebih tersebar, namun paham bahwa perubahan besar memerlukan pengambilan keputusan yang lebih tegas.”

Mantan diplomat Inggris lain yang pernah bertemu MBS dalam beberapa kesempatan – namun, seperti kebanyakan, tidak bersedia disebutkan namanya – mengatakan:

“MBS memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Ia seperti sinar matahari. Ia muncul dengan ledakan ide dan energi. Ia kadang terlalu percaya diri dan menampakkan semburat sifat amatirnya.”

Namun, ada juga semburat lain yang sungguh jahat.

Berurusan dengan perbedaan pendapat

Jika harus mengkarakterisasi sikap MBS atas banyaknya reformasi sosial dan ekonomi yang ia jalankan, mungkin seperti ini: “Ikuti jalanku atau enyahlah.” Sederhananya, MBS tidak mengenal perbedaan pendapat.

Para penulis blog, ulama, pengunjuk rasa hak-hak perempuan, hingga orang-orang dari ujung spektrum liberal hingga konservatif, semuanya akhirnya ditangkap di bawah peraturan ‘tangkap semua’ yang tegas dan menghambat munculnya diskusi atau perbedaan pendapat.

Sejumlah perempuan Saudi berjalan di kawasan bisnis Kota Riyadh, 3 September 2019. 

Dalam laporan tahunannya, Human Rights Watch mengungkap bahwa “pemerintah Arab Saudi meningkatkan penangkapan, persidangan dan hukuman sewenang-wenang mereka terhadap para aktivis dan pembangkang yang bertindak damai di tahun 2018, termasuk penumpasan terkoordinir berskala besar terhadap gerakan hak-hak perempuan”.

Tapi, bukankah ini penguasa yang sama yang akhirnya memberikan hak kepada perempuan Saudi untuk mengemudi? Ya, memang. Tapi yang menjadi intinya adalah, menurut para pengamat, bahwa MBS ingin perubahan muncul dari atas ke bawah, dari kerajaan.

Setiap saran untuk melakukan perubahan peraturan ataupun reformasi yang muncul dari gerakan jalanan yang populer, betapa kecil pun itu, dianggap berbahaya di negara yang tidak punya partai politik maupun oposisi itu.

Loujain al-Hathloul, misalnya. Terdidik, cerdas, aktif di media sosial. Ia menghabiskan hari ulang tahunnya yang ke-30 di penjara Jeddah bulan Juli lalu.

Keluarganya mengatakan bahwa satu-satunya kejahatannya adalah berkampanye agar perempuan Saudi diperbolehkan mengemudi dan untuk mengakhiri sistem perwalian ketat yang memberikan pria Saudi kendali besar atas kehidupan istri dan kerabat perempuan mereka.

Kedua aturan itu sekarang sudah diubah – perempuan bisa mengemudi sendiri dan sistem perwalian pun sudah dikendurkan.

Namun, al-Hathloul dan sejumlah aktivis perempuan lain tampaknya sudah membuat jengkel pimpinan Saudi dengan secara publik mengampanyekan suatu isu yang MBS sendiri ingin tangani sendiri. Anda tidak boleh mencoba mendesak laju perubahan di lingkungan kerajaan.

Al-Hathloul pertama kali ditangkap tahun 2014 setelah mengendarai mobilnya dari Uni Emirat Arab (UEA) ke Arab Saudi.

Pada Maret 2018, ketika mengemudikan mobilnya secara legal di UEA, ia dikabarkan diberhentikan oleh konvoi kendaraan gelap, lalu ditangkap dan dibawa kembali ke Riyahd di mana ia ditahan sebentar. Mei 2018, ia ditangkap kembali dalam upaya penumpasan gerakan hak-hak perempuan yang lebih masif.

Al-Hathloul dan aktivis perempuan lainnya mengatakan bahwa mereka telah disiksa dan ditempatkan dalam sel isolasi.

“Pada tiga bulan pertama, selama sesi interogasi, mereka menjadi sasaran penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya termasuk cambuk, sengatan listrik, pelecehan seksual,” kata Lynn Maalouf, dari Amnesty International.

Loujain al-Hathloul

Pemerintah Saudi telah membantah bahwa penyiksaan terjadi di penjara atau sel polisi mereka, dan berjanji untuk menyelidiki. Namun, alih-alih para terduga pelaku penganiayaan dikenai tuntutan, justru para perempuan itulah yang dituntut.

Walid al-Hathloul, saudara lelaki Loujain yang tinggal di luar negeri, mengatakan bahwa jaksa tidak pernah menginvestigasi pengakuan tindak penyiksaan tersebut.

“Kami mengirim tiga keluhan dan mereka tidak pernah menanggapi. Jaksa penuntut mengambil kesimpulannya berdasarkan (investigasi) Komisi HAM Saudi dan bukan berdasarkan investigasi (independen) mereka sendiri.”

Walid al-Hathloul juga mendesak agar Saud al-Qahtani diinvestigasi, mengingat Loujain menuduh Saud secara pribadi terlibat dalam penyiksaannya di tahanan.

MBS ditantang terkait masalah perlakuan buruk terhadap para tahanan perempuan dalam wawancaranya dengan program 60 Minutes. Ia berjanji untuk menyelidikinya secara pribadi.

Lebih dari 30 negara telah meminta Arab Saudi membebaskan para aktivis, beberapa di antaranya kemudian diizinkan dengan jaminan, dan pemerintah AS dan Inggris mengatakan mereka telah mengangkat masalah ini pada level tertinggi.

Namun, pada bulan Agustus 2019, keluarga Loujain al-Hathloul mengatakan bahwa petugas keamanan telah mengunjunginya di penjara dan menekannya untuk menandatangani pernyataan yang menyangkal klaim kerabatnya bahwa ia telah disiksa dalam tahanan. Ia menolak.

Aziza al-Yousef

Aktivis perempuan lainnya yang ditahan termasuk Samar Badawi, ditangkap setelah menentang undang-undang perwalian, Iman al-Nafjan, penulis blog dan aktivis yang mengampanyekan hak perempuan untuk mengemudi, serta Aziza al-Yousef, pensiunan profesor yang telah membantu perempuan melarikan diri dari kekerasan dalam rumah tangga.

Akan tetapi, di negeri itu, tak banyak simpati publik yang mengalir bagi nasib perempuan. Ada sedikit peliputan media dari dalam kerajaan dan kampanye yang menyudutkan dan mengecap mereka sebagai pengkhianat. Pemerintah mengklaim bahwa mereka telah menyampaikan rahasia kepada musuh negara.

Juga terdapat banyak kasus di mana aktivis laki-laki ditangkap dan dijatuhi hukuman.

September 2018, jaksa Saudi mengumumkan penalti berupa penjara selama lima tahun dan denda tiga juta riyal (Rp10,5 miliar) bagi siapa pun yang tertangkap basah membagikan apa pun di media sosial yang dianggap pemerintah dapat memengaruhi nilai moral dan ketertiban umum.

Namun MBS tidak merasa bersalah terkait sikapnya yang tidak bisa mentoleransi perbedaan pendapat.

Dalam beberapa wawancaranya, ia mengakui bahwa banyak orang yang telah ditahan, namun ia menyatakan bahwa hal itu bagaimanapun merupakan harga yang harus dibayar apabila seseorang berusaha menghalangi program reformasi besar-besaran.

Lantas bagaimana ceritanya seorang pria yang hampir tidak dikenal enam tahun lalu sekarang menjadi penguasa paling kuat di Timur Tengah?

Putra negeri

Lahir pada 31 Agustus 1985, Mohammed bin Salman tumbuh – seperti hampir semua pangeran senior Saudi yang diperkirakan berjumlah 5.000 orang – di dalam dunia yang tertutup dan dikelilingi berbagai kenyamanan dan hak-hak istimewa yang luar biasa.

Sebagai salah satu dari 13 anak, masa kecilnya berkisar di dalam istana Riyadh yang berdinding dan dijaga dengan baik di lingkungan Madher. Pelayan, juru masak, sopir dan karyawan asing lainnya melayani setiap keinginannya.

Salah satu dari orang-orang yang mengajarinya di masa-masa awalnya, di pertengahan tahun 1990-an, adalah Rachid Sekkai, yang sekarang bekerja di BBC. Ia menggambarkan pengalamannya dijemput di rumah setiap hari dengan mobil bersopir untuk diantar ke istana.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman. 

“Ketika melewati gerbang yang dijaga ketat, mobil itu akan melaju melintasi serangkaian villa menakjubkan dengan kebun-kebun yang tertata rapi yang dikelola oleh para pekerja berseragam putih,” ujarnya kepada BBC Arabic. “Ada parkir mobil yang dipenuhi unit-unit mobil mewah eksklusif.”

Beberapa pihak mengatakan bahwa MBS adalah murid yang rajin belajar, selalu mencatat dengan hati-hati, namun Sekkai menyatakan bahwa ia melihatnya lebih suka menghabiskan waktu dengan para penjaga istana ketimbang mengikuti kelasnya.

“Tampaknya ia diperbolehkan melakukan apa yang ia mau,” katanya.

Saat ditawari kesempatan oleh ayahnya untuk belajar ke luar negeri, baik AS ataupun Inggris seperti banyak rekannya yang lain, MBS menolak. Alih-alih, ia mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas King Saud. Keputusan yang tidak biasa itu, menurut para pengamat, telah membantu sekaligus menghambatnya.

Bagi banyak warga Saudi, sebuah bangsa yang sangat patriotik, tumbuh kembangnya di lingkungan Saudi yang eksklusif membuatnya menjadi “putra negeri” sejati, seseorang yang mudah dipahami.

Namun sisi buruknya, selama bertahun-tahun, bahasa Inggris MBS sangatlah buruk dan ia tidak pernah benar-benar mendapat semacam pemahaman bawaan tentang mentalitas Barat yang banyak didapat pangeran lain.

Di negara di mana bukan hal aneh bagi seorang lelaki untuk memiliki lebih dari satu istri, MBS memilih untuk hanya mempunyai satu pasangan. Ia menikahi sepupunya – praktik umum di Arab Saudi – Putri Sara binti Mashur bin Abdulaziz al-Saud pada 2009 dan mereka memiliki dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Dalam hal keluarganya, MBS merupakan orang yang sangat menjunjung privasi.

Lantas bagaimana ia bisa berubah begitu cepat dari seorang sarjana hukum yang tidak jelas – dan satu dari ribuan bangsawan Saudi – menjadi putra mahkota yang sangat berkuasa saat ini?

Jawabannya terletak pada perpaduan yang luar biasa dari politik kekuasaan Machiavellian, perlindungan sang ayah dan kekuatan karakternya sendiri.

Ketika MBS kira-kira berusia 23 tahun, segera setelah ia lulus dengan salah satu nilai terbaik di angkatannya, sang ayah mulai mempersiapkannya untuk jabatan senior.

MBS bekerja di kantor ayahnya, ‘membayangi’ pekerjaan ayahnya sebagai gubernur Riyadh. MBS muda dengan penuh perhatian menyaksikan sang ayah, Pangeran Salman, menyelesaikan berbagai perselisihan dan berkompromi. Ia secara efektif mempelajari seni menjadi negarawan Arab Saudi.

Pada tahun 2013, di usianya yang baru menginjak 27 tahun, MBS dijadikan kepala pengadilan putra mahkota, yang secara efektif membuka pintu kekuasaan dan pengaruh baginya. Pada tahun berikutnya, ia dipromosikan menjadi menteri kabinet.

Lalu pada tahun 2015, karier MBS beralih ke posisi teratas.

Ketika Raja Abdullah meninggal pada bulan Januari tahun yang sama, posisinya digantikan saudara tirinya, Salman, dari cabang keluarga Sudairi yang memiliki kekuatan cukup besar.

Raja yang baru, hampir berusia 80 tahun ketika ia menduduki singgasananya, kini bebas untuk memilih siapa yang akan membantunya. Anak kesayangannya, MBS, dengan segera diangkat menjadi menteri pertahanan sekaligus sekretaris jenderal Pengadilan Kerajaan.

Saat ini Arab Saudi sedang menghadapi krisis yang meningkat di sisi selatan perbatasannya. Di Yaman, kelompok Houthi – yang terdiri dari sekelompok suku dari pegunungan utara – turun ke jalan di ibu kota Sanaa, lalu menggulingkan presiden terpilih dan pemerintahannya, kemudian mengambil alih kekuasaan di hampir seluruh bagian barat negara itu yang lebih padat penduduk.

Hubungan ideologis dan keagamaan Houthi dengan Iran mengusik amarah Saudi.

Pada Maret 2015, tanpa berkonsultasi dengan sejumlah pangeran utama dan hampir tanpa memperingatkan sekutunya, MBS membentuk koalisi 10 negara dan memimpin negaranya ke medan perang udara melawan kelompok Houthi.

Tujuan resminya yaitu mengembalikan pemerintahan yang digulingkan – namun diakui PBB – di Yaman. Sementara tujuan tersembunyinya adalah untuk mengirim pesan terbuka kepada Iran bahwa Arab Saudi tidak akan membiarkan milisi proksi yang didukung Iran mengambil alih tetangga sebelah selatannya.

Tindakan itu seharusnya menjadi intervensi militer yang singkat dan tegas terhadap pasukan pemberontak yang dipersenjatai dengan senjata era Soviet.

Sebaliknya, hal itu justru berubah menjadi rawa yang mengorbankan darah pasukan Saudi sekaligus kekayaan negara, yang juga menghancurkan Yaman.

Perang Yaman di Sana’a. 

Koalisi yang dipimpin Arab Saudi hanya membuat sedikit kemajuan di medan perang. Hampir lima tahun berjalan, Yaman hancur, dengan ribuan warganya tewas. Malnutrisi, kolera dan penyakit banyak diderita masyarakat, sementara sekitar 20 juta orang, sekitar dua pertiga populasi Yaman, memerlukan bantuan.

Tetapi di negerinya sendiri, permulaan perang melambungkan popularitas nama MBS. Ia tidak memiliki latar belakang militer apapun namun televisi Saudi menampilkan “pangeran prajurit” yang bertindak tegas untuk kepentingan negaranya.

Negara-negara Barat pada awalnya sangat mendukung. AS menyediakan bantuan intelijen dan pengisian bahan bakar, demikian juga berbagai perangkat keras. Sementara Inggris menyediakan kebutuhan logistik dan teknis, sekaligus masukan kepada pasukan bersenjata Saudi tentang peralatan yang dibeli mereka dari BAE Systems.

Dua pemimpin skuadron RAF ditempatkan di dalam Pusat Operasi Koalisi Udara di Riyadh untuk memantau prosedur penargetan Saudi, meskipun Kementerian Pertahanan bersikeras bahwa mereka tidak memilih target.

Ternyata, prosedur penargetan Angkatan Udara Kerajaan Saudi sudah sering cacat.

Rumah sakit, pemakaman, permukiman dan bus-bus sekolah ikut hancur berkeping-keping, di samping target-target serangan militer yang seharusnya. PBB memperkirakan sebagian besar korban sipil di Yaman disebabkan oleh serangan udara pimpinan Arab Saudi. Mereka dituduh menggunakan bom klaster di kawasan penduduk.

Kelompok Houthi pun dituduh melakukan kejahatan perang, karena telah meletakkan ranjau tanpa pandang bulu, mempekerjakan tentara anak, menembaki rumah-rumah dan menahan bantuan.

Hingga September 2019, menurut pemerintah Saudi, kelompok Houthi telah menembakkan lebih dari 260 rudak balistik dan 50 drone peledak melintasi perbatasan. Namun semua itu dikerdilkan oleh superioritas angkatan udara yang luar biasa dari koalisi yang dipimpin Saudi.

Dipimpin kelompok-kelompok pegiat HAM seperti Amnesty International, telah muncul kekhawatiran yang terus berkembang dari dunia Barat atas korban di Yaman.

Dalam kurun waktu lima tahun, Yaman mengalami krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Kekuasaan dan persepsi

Pada 20 Juni 2017, sesuatu terjadi di balik pintu berlapis emas di istana kerajaan di Mekah, yang secara efektif mengubah arah sejarah Arab Saudi.

Putra mahkota kala itu, Mohammed bin Nayef, dipanggil oleh raja dan diperintahkan untuk menyingkir demi sepupunya yang jauh lebih muda: MBS.

Selama bertahun-tahun, Pangeran Mohammed bin Nayef yang sudah veteran merupakan orang yang dipercaya dapat melakukan berbagai tugas dengan baik dan tanpa cela.

Selama tahun 2000-an, sebagai kepala kontra-terorisme dan kemudian sebagai menteri dalam negeri, ia menjadi otak dari upaya mengalahkan pemberontakan al-Qaeda. Ia disukai dan dipercayai Amerika dan – meskipun bukan sosok yang dinamis – dianggap pilihan mantap sebagai sosok yang berada dalam garis takhta berikutnya.

Namun kabarnya ia belum benar-benar pulih dari upaya pembunuhan yang gagal terhadap dirinya tahun 2009 lalu, ketika al-Qaeda berhasil menyelundupkan seorang pengebom bunuh diri ke dalam ruangan tempatnya berada.

Raja Salman telah membuat keputusan tentang siapa yang ia inginkan untuk meneruskan suksesi dan itu adalah anak kesayangannya, MBS.

Di Arab Saudi, kekuasaan raja itu bersifat absolut – tak bisa dibantah, tak boleh dilawan. Mohammed bin Nayef sejak saat itu menghilang sepenuhnya dari mata publik.

Putra mahkota Pangeran Mohammed bin Nayef berpidato di Majelis Umum PBB, 2016 lalu. Kini, dia menghilang sepenuhnya dari mata publik. 

MBS dan ayahnya berhasil melakukan kudeta istana yang spektakuler dan tanpa pertumpahan darah.

Dengan sangat ambisius dan bertekad untuk membentuk ulang negerinya, MBS segera mempersiapkan diri untuk memperkuat kekuasaannya.

Menjelang malam pada hari Sabtu, 4 November 2017, perintah dikeluarkan untuk menangkap sekitar 200 pengaeran terkemuka, pemimpin bisnis dan lainnya. Tidak ada dakwaan, tidak ada pemenjaraan – yang ada justru mereka ‘ditahan’ di Hotel Ritz-Carlton nan mewah, beberapa bahkan selama berbulan-bulan.

Tindakan itu disebut sebagai upaya anti-korupsi dan para “tamu” baru hotel itu diperintahkan untuk menyerahkan uang miliaran riyal – dalam dugaan penghasilan yang tidak pantas – sebagai harga yang harus dibayar untuk dibebaskan.

Namun kritikus MBS berpendapat bahwa hal itu bukan tentang korupsi. Alih-alih, itu merupakan permainan kekuasaan terbuka untuk menetralisir siapa pun yang mungkin akan menentangnya.

Pada saat yang sama, MBS bergerak melawan para pangeran senior dari cabang keluarga mendiang Raja Abdullah. Sejak itu ia menguasai ketiga elemen barisan pertahanan dan keamanan negaranya: Garda Nasional, Kementerian Dalam Negeri serta Militer. Kekuasaan MBS tampak absolut.

Penangkapan Ritz-Carlton menyebabkan gelombang keterkejutan di dunia usaha dan mengguncang investor asing. Bagaimana mungkin orang bisa tahu siapa yang aman untuk diajak berbisnis? Siapa selanjutnya?

Kawasan Jabal Omar di Mekah, pada 2012 lalu. Sebagian warga Saudi masih hidup di bawah garis kemiskinan. 

Namun bagi banyak orang Saudi, langkah itu dipuji. Negara itu memang produsen minyak terbesar di dunia, tapi sejumlah besar penduduknya masih hidup dalam kemiskinan, terutama mereka yang tinggal di sisi selatan negeri.

‘Pemandangan’ betapa banyaknya pedagang dan pangeran yang sebelumnya tidak pernah ‘tersentuh’ kemudian ‘diguncang’, membuat MBS mendapatkan lebih banyak dukungan di negerinya.

Faktor kunci lain yang membuat popularitas dalam negerinya baik adalah upayanya untuk mentransformasi perekonomian Saudi dengan cara mendiversifikasi bisnis jauh dari industri minyak, dan mengubah negaranya menjadi pusat investasi dan menyediakan lapangan kerja yang berarti bagi jutaan pemuda Saudi yang sulit mendapat pekerjaan.

Rencana Visi 2030 adalah rencana yang ambisius, yang membayangkan bahwa di masa depan yang tidak terlalu jauh, Arab Saudi menjadi pusat dunia yang menghubungkan Eropa, Asia dan Afrika.

Rencana itu termasuk alokasi dana sebesar AS$64 miliar (Rp908 triliun) untuk mengembangkan industri hiburan dan bertujuan untuk menciptakan sejuta pekerjaan baru di industri pariwisata dalam negeri.

April 2016: MBS meluncurkan Visi 2030 di Riyadh.

Namun dalam hal ini, pembunuhan Khashoggi juga membayangi. Beberapa – jika bukan semua – investor asing telah mengurangi atau bahkan membatalkan minat mereka untuk mendukung rencana sang putra mahkota, karena khawatir dikaitkan dengan sosok yang masih berada dalam kecurigaan dunia internasional atas dugaan keterlibatannya dengan kasus pembunuhan tersebut.

Namun Visi 2030 tetap berlanjut, termasuk proyek futuristik dan luar biasa bernama NEOM – singkatan dari Neo-Mustaqbal alias Masa Depan yang Baru.

Jauh di sudut sebelah barat laut Arab Saudi, di mana perairan Laut Merah yang nyaman membasahi pesisir Mesir, Yordania dan Israel, sebuah rencana sedang dijalankan untuk menciptakan sebuah kota besar abad ke-21.

Di lokasi di mana kini hanya ada pasir dan batuan hitam vulkanis yang tersapu angin, padang pasir di mana TE Lawrence dan pasukan Arab berperang melawan Turki dalam Perang Dunia I, rencananya akan dibangun proyek lintas batas senilai Rp7.000 triliun yang membentang seluas 26 ribu kilometer persegi.

NEOM dimaksudkan menjadi kota yang didominasi oleh drone, mobil tanpa pengemudi, asisten robot, kecerdasan buatan, rumah kaca bertenaga surya, “internet of things” dan bioteknologi.

Resminya, rencana itu akan berjalan pada tahun 2025. Namun sejumlah ekonom meragukannya.

“Tidak, hal itu tidak realistis,” kata salah seorang di antaranya. “NEOM selalu menjadi fantasi dan ini menunjukkan jarak antara ambisi dan kenyataan yang menjadi ciri khas cara MBS memandang dunia.”

Meski demikian, MBS sangat percaya diri dengan proyek tersebut, di mana saya diberitahu bahwa ia yakin NEOM akan menjadi rival Palo Alto, ‘rumah’nya teknologi di California.

Arab Saudi tidak memiliki rekam jejak yang bersinar terkait pembangunan kota-kota baru dengan tujuan pembangunan tertentu.

“Ambil contoh Kota Ekonomi Raja Abdullah,” ungkap ekonom Teluk Arab lainnya, baru-baru ini. “Seharusnya ia akan disesaki dua juta orang tahun 2020 ini. Sekarang baru 8.000 orang. Maka itu, tidak. Ia mungkin tidak bisa mewujudkan impian ekonomi itu.”

Progres pembangunan Kota Ekonomi Raja Abdullah dikatakan berakhir mengecewakan. 

NEOM kemungkinan besar tetap akan dibangun, namun dalam kecepatan yang lebih lambat dari yang direncanakan. Terlalu banyak yang dipertaruhkan saat ini. Namun, tentang apakah kota itu akan bisa menarik investasi asing dan menghasilkan banyak lapangan pekerjaan, masih sangat diragukan.

Buntut kejadian

Pada September 2018, Boris Johnson menghabiskan tiga hari kunjungan ke Arab Saudi yang semua biayanya sudah ditanggung negara minyak itu. Seluruh biaya yang dihabiskan adalah Rp244 juta – semuanya diberitahukan kepada parlemen. Johnson tak tahu apa-apa tentang apa yang akan terjadi, tapi kunjungan itu adalah dua minggu sebelum peristiwa pembunuhan Jamal Khashoggi.

Sebelum kejadian itu, penangkapan banyak aktivis tidak banyak diberitakan di luar Arab Saudi, dan nilai MBS di mata para pemimpin dunia Barat sangatlah tinggi.

Setelahnya, kunjungan ke negara lain hampir tidak terpikirkan.

Sekarang, dunia Barat di mana MBS sempat diposisikan sebagai reformis visioner dan perintis untuk reformasi sosial, sebagian besar menjauhinya, setidaknya di depan umum.

“Pembunuhan Khashoggi mendorong Arab Saudi ke Klub Para Pembunuh,” ujar seorang pengamat Teluk Arab, yang seperti lainnya, tidak bersedia disebutkan namanya. “Tampaknya mereka menempatkan MBS dalam kategori yang sama seperti Gaddafi, Saddam dan Assad. Ini adalah klub yang tak pernah ‘diikuti’ dari Arab Saudi.”

Secara pribadi, bisnis dengan Arab Saudi tetap berjalan – perekonomian Saudi terlanjur terlalu besar dan kontrak yang ada terlalu menguntungkan untuk diabaikan oleh bisnis dunia Barat. Presiden Trump pun tetap menjadi sekutu yang tabah.

Kongres AS telah mencoba – meski gagal – menghentikan penjualan senjata bernilai miliaran dolar ke Arab Saudi, namun Presiden Trump menolaknya, baik dengan alasan strategis maupun finansial.

Pasar Arab Saudi yang besar, ditambah dengan nilai strategisnya yang dianggap sebagai benteng perlawanan ekspansi Iran, bermakna bahwa kritik dari pemerintahan Barat kemungkinan akan selalu bisa dikendalikan. Namun, kutukan yang jelas diungkapkan dunia Barat atas kecacatan hak asasi manusia di Arab Saudi telah membuat mereka khawatir.

Pemerintah Saudi tengah mencoba untuk mengalihkan fokus. Perwakilan Saudi yang baru untuk Washington DC adalah Putri Reema binti Bandar al-Saud, duta besar perempuan pertama negara tersebut sekaligus seorang pengusaha wanita yang telah bertahun-tahun tinggal di AS.

Reema akan menjadi wajah diplomasi Arab Saudi di Amerika di mana para anggota kongres dan pihak lainnya tengah dengan serius mempertanyakan validitas kemitraan AS dan Saudi.

Putri Reema binti Bandar al-Saud, duta besar perempuan pertama negara tersebut sekaligus seorang pengusaha wanita yang telah bertahun-tahun tinggal di AS 

Meski demikian, Arab Saudi juga secara aktif menjajal hubungannya dengan partner strategis lainnya, seperti Rusia, China dan Pakistan, di mana tak satu pun mempertanyakan rekam jejak HAM mereka.

Selama 12 bulan terakhir, sejumlah pernyataan dan tuduhan yang memberatkan muncul ke permukaan – terutama dari pejabat intelijen AS dan pelapor khusus PBB Agnes Callamard – yang mengingatkan dunia bahwa kecurigaan Barat masih jatuh pada sosok MBS sebagai orang yang telah memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

Callamard tetap berkeras bahwa ia lah yang harus bertanggung jawab pada akhirnya atas pembunuhan tersebut.

Namun di negerinya sendiri, popularitas MBS justru meningkat.

“Berbicaralah pada siapapun yang berusia antara 16-25,” kata seorang pengamat di Teluk Arab, “maka mereka akan menganggapnya sebagai seorang pahlawan. Mereka menyukai perubahan sosio-kultural yang diciptakannya, menekan kekuasaan para fundamentalis agama.”

Tak banyak pertanda baik kalau di bawah kekuasaan MBS, Arab Saudi akan mengambil langkah nyata menuju demokrasi. Semua pertanyaan publik, apalagi kritik, terhadap keluarga penguasa dan kebijakan yang mereka bawa berisiko hukuman penjara.

Selama bertahun-tahun, MBS telah menikmati dukungan sang ayah, Raja Salman, dan tak ada penantang yang tampak akan menggulingkannya.

Di dalam lingkaran Kerajaan MBS, ada pandangan bahwa ‘badai’ di dunia Barat terkait dugaan perannya dalam pembunuhan Khashoggi pada akhirnya akan mereda. Mereka mungkin benar.

Dalam banyak hal, MBS adalah Arab Saudi. Ia bukan seorang demokrat, ia bukan tokoh reformasi politik – bagi banyak orang, ia hanyalah seorang diktator.

Namun tanpa diragukan lagi, MBS adalah sosok yang memodernisasi kondisi perekonomian dan sosial Arab Saudi. Dan pada usia 34 tahun, ia tahu bahwa ketika sang raja wafat, maka ia akan menerima tampuk kekuasaan negara terbesar di Timur Tengah, bukan hanya untuk satu dekade, melainkan untuk 50 tahun ke depan.

 

Sumber: BBC Indonesia

🔴 Baca Lainnya:

Advertisement , #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru
Iklan Anda, #1 Situs berita Indonesia terkini, kabar hari ini, informasi terbaru


Media Liputan Indonesia Di Terbitkan PT. LINDO SAHABAT MANDIRI - Mengemban Tugas Sosial Kontrol Masyarakat, Bekerja Berdasarkan UU No: 40 Thn 1999 Tentang PERS | Wartawan kami di TKP dilengkapi Kartu Tugas dan ID Card PERS, Jika ada Wartawan kami menerima Suap / Imbalan terhadap narasumber harap laporkan ke Redaksi (Klik Disini) atau 08170226556 & 081259764162, kami butuh Dukungan Saran serta Kritik Anda. Kami ada untuk Anda.
Back to top button
error: ©Liputan_Indonesia...!!
Close