Masyarakat Indonesia tidak puas akan kinerja Jokowi – JK

Dibaca: 148 kali
0
Situs+Berita+Indonesia+Dunia+Liputan+Indonesia

Jakarta, LiputanIndonesia.co.id - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio memaparkan hasil survei kelompok diskusi dan kajian opini publik Indonesia (Kedai KOPI) terkait kinerja satu tahun pemerintahan Jokowi-JK.

Menurut surveinya secara umum 54,7 persen masyarakat Indonesia yang menjadi respondennya tidak puas dengan kinerja kedua pemimpin negara tersebut beserta kabinetnya.

Ketidakpuasan terhadap kinerja itu antara lain kekecewaan karena harga bahan pokok yang tinggi sebanyak 35,5 persen, lemahnya nilai tukar rupiah 23,7 persen, serta lambannya penanganan kabut asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan sebesar 11,8 persen.

“Sisanya publik tidak puas karena harga BBM mahal, susah dapat kerja, kinerja menteri yang tidak bagus, tidak puas karena biaya kesehatan yang tidak terjangkau,” kata Hendri Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 18 Oktober 2015.

Hendri mengatakan, jika melihat faktor yang menyebabkan tingginya ketidakpuasan publik atas kinerja Jokowi-JK, maka kemungkinan perombakan kabinet jilid II bakal terjadi.

“Kan ada beberapa menteri terkait yang disorot, karena harga bahan pokok, rupiah, kabut asap, dan tak ketinggal soal BBM,” ungkap Hendri.

Sementara itu bidang ekonomi mendominasi ketidakpuasaan publik terhadap kinerja Jokowi-JK yakni sekitar 71,9 persen masyarakat tak puas. Disusul bidang hukum 50,8 persen, bidang politik 50,3 persen serta kemaritiman sebesar 33,9 persen.

“Jumlah tidak puasnya memang tipis dengan jumlah responden atau publik yang merasa puas, sebesar 44,3 persen dengan kinerja Jokowi-JK,” kata Hendri.

Kedai KOPI sendiri melakukan survei terhadap 384 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan rincian 52 persen responden di Jawa dan 48 persen responden di luar Jawa.

Responden merupakan pengguna telepon yang dipilih secara acak dengan metode sampel acak sistematis.

Baca juga:  Menkes Hadiri 35 Tahun Yayasan Jantung Indonesia

Pengumpulan data dilakukan sejak 14-17 September melalui wawancara telepon, menggunakan kuesioner terstruktur. Respon berusia 17 tahun ke atas baik yang belum atau sudah menikah. Dengan Margin of Error kurang lebih sebesar 5 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.(vivanews)

ca-pub-2508178839453084