Kyai Moh Kholil Bangkalan Tokoh Panutan Umat

Dibaca: 151 kali
0
Situs+Berita+Indonesia+Dunia+Liputan+Indonesia

LiputanIndonesia.co.id.  Bangkalan –     KYAI H MOH KHOLIL yang menjadi tokoh panutan umat semasa hidupnya, dilahirkan
hari selasa, 11 Jumadil Akhir 1225 H (1835 M) di Kampung Pasar Senen, Desa Demangan, Kecamatan Kota Bangkalan.

Beliau adalah anak Kyai Abdul Latief, semasa pemerintahan
Adipati Setjodiningrat III atau dikenal dengan nama Sultan Bangkalan II yang diangkat oleh Raffles. Sejak kecil, KH Moh Kholil oleh ayahnya diharapkan bisa menjadi pemimpin umat, seperti halnya Sunan Gunung Jati yang
merupakan Waliullah, pemimpin dan pejuang Islam terkenal. Dambaan itu mengingat masih ada keturunan dengan Sunan Gunung Jati.

Beliau yang kala itu sudah menunjukkan keistimewaan bila dibanding anak-anak seusianya, dididik sendiri oleh sang ayah dengan pengawasan ketat. Ilmu-ilmu yang diajarkan, terutama Ilmu Fiqih dan Ilmu Nahwu dikuasai dengan luar biasa. Telah hafal dengan baik Nadham Al-fiah Ibnu Malik (1000 Bait Ilmu Nahwu) Mulai Tahun 1850, Kholil mudah belajar ngaji kepada Kyai Muhammad Nur di Pesantren Langitan, Tuban.

Kemudian melanjutkan ke
Pesantren Canga’an, Bangil Pasuruan, dan selanjutnya ke pondok Darus Salam Kebun
Candi, Pasuruan. Selama Kholil muda mondok dipesantren meminta orangtuanya agar tidak mengirim apapun. Maksudnya, agar ia hidup
mandiri. Masjid Syaichona Moh Kholil Martajasah Ban. Semasa mondok di Candi, beliau juga menambah pengetahuan agamanya ke Sidogiri Pasuruan yang berjarak sekitar 7 KM ditempuhnya dengan jalan kaki setiap hari. Dalam perjalanan itu beliau menyempatkan membaca Surat Yasin hingga khatam berkali-kali.

Keinginan untuk menambah ilmu agama diteruskan ke tanah suci Mekkah, sekaligus ingin menunaikan ibadah haji. Untuk itu Kholil muda pindah lagi di pesantren Banyuwangi yang mempunyai kebun kelapa sangat luas. Selama mondok disana beliau bekerja sebagai pemanjat kelapa yang dapat upah 2,5 sen setiap pohonnya.
Dari penghasilan itu uangnya ditabung untuk naik Haji. Bahkan di Pondok pun beliau menjadi juru masak rekan-rekannya sehingga beliau bisa makan bersama. (Kanjenk)

Baca juga:  Saksi Ungkap Gencarnya Lobi Pemondokan Haji
ca-pub-2508178839453084