Kursi Menpora, Presiden Jokowi tunjuk Hanif Dhakiri gantikan Imam Nahrawi | Liputan Indonesia

Kursi Menpora, Presiden Jokowi tunjuk Hanif Dhakiri gantikan Imam Nahrawi

Advertisement
Menaker Hanif Dhakiri ditunjuk Presiden Jokowi sebagai pelaksana tugas Menpora, menggantikan Imam Nahrawi yang mengundurkan diri setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh KPK.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai pelaksana tugas (Plt) Menteri Pemuda dan Olah raga, menggantikan Imam Nahrawi yang telah mengundurkan diri setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

“Tadi bapak presiden sudah menandatangani keppres pemberhentian Imam Nahrawi sebagai Menpora dan mengangkat Saudara Hanif Dhakiri sebagai Plt Menpora,” kata Mensesneg Pratikno di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (20/09) siang.

“Jadi pak Hanif merangkap dalam sebulan terakhir ini. Selain sebagai Menaker, tapi juga Menpora,” tambahnya.

Tentang alasan penunjukan Hanif, Pratikno mengaku sudah melalui berbagai pertimbangan, diantaranya karena kursi Menpora adalah jatah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), salah-satu partai koalisi pendukung Jokowi.

“Ada beberapa pertimbangan, karena ada beberapa menteri dilantik anggota DPR pada 1 Oktober,” paparnya.

Ditanya wartawan apakah latar belakangnya sebagai sesama politikus PKB merupakan salah-satu petimbanganya, Pratikno membenarkan. “Iya, salah satunya itu,” ungkapnya.

Iklan anda Banner Lindo

Sebelumnya, Imam Nahrawai, yang juga politikus PKB, ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga menerima uang suap sebesar Rp26,5 miliar sebagai bentuk comitment fee pengurusan proposal yang diajukan KONI kepada Kemenpora.

Atas sangkaan itu, Imam Nahrawi pada Rabu (18/09) malam mengharapkan agar status itu murni dilatari aspek hukum dan bukan politik.

“Yang pasti semua proses hukum harus kita ikuti karena ini negara hukum, dan sekali lagi harapan saya jangan ada unsur-unsur di luar hukum,” kata Imam. Dikutip dari BBCNews Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, dia juga berulangkali menepis sangkaan KPK tersebut.

Kasus suap dana hibah KONI berawal dari operasi tangkap tangan KPK terhadap sembilan orang di Kementerian Pemuda dan Olahraga pada Desember 2018.

Mereka terdiri dari pengurus KONI dan pejabat Kemenpora, termasuk Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Mulyana. Dalam operasi tersebut, KPK juga menyita uang sebesar Rp300 juta serta kartu ATM berisi ratusan juta rupiah.

KPK menduga ada “kickback” ke sejumlah pengurus KONI dalam setiap pencairan dana hibah Kemenpora ke badan olahraga tersebut. Dalam penyelidikan kasus ini, KPK sempat menyegel tiga ruangan di Kemenpora.

KPK kemudian menetapkan lima orang dari OTT tersebut sebagai tersangka kasus suap: Deputi IV Kemenpora Mulyana serta dua staf Kemenpora Adhi Purnomo dan Eko Triyanto sebagai terduga penerima suap, dan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy serta Bendahara Umum KONI Johnny E. Awuy sebagai pemberi suap.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan lembaga antirasuah itu menduga telah terjadi kesepakatan antara pihak Kemenpora dan KONI untuk mengalokasikan fee sebesar 19,13 persen dari total dana hibah Rp 17,9 miliar, yaitu sejumlah Rp 3,4 miliar.

Setelah menetapkan lima orang sebagai tersangka, penyidik KPK menggeledah kantor Menpora Imam Nahrawi dan menyita dokumen hibah. KPK beralasan Menpora mengetahui alur pengajuan proposal hibah dari KONI itu.

Imam beserta asisten pribadinya, Miftahul Ulum, juga dipanggil sebagai saksi dalam persidangan untuk terdakwa Deputi IV Kemenpora Mulyana.

Pada 11 September, KPK mengkonfirmasi telah menahan Miftahul Ulum tanpa terlebih dahulu mengumumkan penetapannya sebagai tersangka. (gung)

Iklan AndaKepiting Jimbaran


Media Liputan Indonesia Di Terbitkan PT. LINDO SAHABAT MANDIRI - Mengemban Tugas Sosial Kontrol Masyarakat, Bekerja Berdasarkan UU No: 40 Thn 1999 Tentang PERS | Wartawan kami di TKP dilengkapi Kartu Tugas dan ID Card PERS, Jika ada Wartawan kami menerima Suap / Imbalan terhadap narasumber harap laporkan ke Redaksi (Klik Disini) atau 08170226556 & 081259764162, kami butuh Dukungan Saran serta Kritik Anda. Kami ada untuk Anda.
Back to top button
error: ©Liputan_Indonesia...!!
Close