Kuburan Tua Di Bong Cina Tanjung Rema Diteliti

Dibaca: 1486 kali
0
Situs+Berita+Indonesia+Dunia+Liputan+Indonesia
Foto : Disbudpar Kabupaten Banjar lakukan penelitian makam tua keturunan Tionghoa, Senin (01/04/2019).p

Liputan Indonesia | Martapura – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar melakukan penelitian terkait makam tua yang berada dilokasi pemakaman bong Cina Tanjung Rema Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar, Senin (01/04/2019).

“Kuburan tua yang diperkirakan mulai ada sejak tahun 1.800an Masehi tersebut rencananya akan dijadikan situs cagar budaya”.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, Haris Rifani menjelaskan pihaknya sudah menurunkan 6 orang tim ahli untuk memeriksa kuburan tua yang diperkirakan berusia ratusan tahun dilokasi bong cina tanjung rema. “Enam orang tim ahli sudah kita minta untuk memeriksa kuburan tua tersebut bersama petugas dari arkeolog atau kepurbakalaan,” ujar Haris Rifani, (01/04).

Kemudian, lanjutnya apabila kuburan tua tersebut memenuhi syarat untuk dijadikan situs cagar budaya baik secara usianya yang ratusan tahun maupun sejarah dari makam tua tersebut, maka Disbudpar Banjar akan melakukan langkah untuk memeliharanya.

“Kami masih menunggu hasil penelitian dari tim ahli bersama tim Arkeolog, jika memenuhi syarat untuk dijadikan cagar budaya maka akan kita pelihara,” terangnya.

Makam tua dengan bentuk arsitektur identik kuburan orang cina dipekuburan bong cina tanjung rema ini sudah ada sebelum pemindahan kuburan Cina di jalan Ahmad Yani atau yang sekarang dibangun Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Banjar pada tahun 1975.

“Kuburan tua ini lebih dulu ada sebelum pemindahan kuburan cina di jalan ahmad yani yang sekarang berdiri kantor kejaksaan kabupaten banjar pada tahun 1975,” ungkap Husin penjaga kuburan cina.

Ditambahkannya, awalnya dilokasi bong cina tersebut hanya beberapa makam yaitu makam tua dengan arsitektur bentuk kuburan warga tionghoa dengan ornamen dua singa yang melambangkan penjaga, ornamen bunga teratai serta kolam berukuran diameter 8 meter. Satu lagi berdekatan ada makam yang bentuknya mirip kuburan muslim.

Baca juga:  Abrasi Meluas, Dewan Tinjau DAS Peusangan Bireuen

“Dulunya cuma ada beberapa makam disini yaitu kuburan tua ini yang sebelahnya sekitar sepuluh meter ada kuburan muslim yang kemudian diketahui keturunan tionghoa bernama N.Katung atau Siti Aisyah,” ceritanya.

Ketua Yayasan Persatuan Penolong Kematian atau Perpek Martapura, Mahrudin Hasan atau Ian mengungkapkan pihaknya sempat meneliti kuburan tua tersebut dengan mengirim tulisan yang ada dibatu nisan namun ada beberapa tulisan yang sudah rusak akibat usia sehingga sulit diterjemahkan.

“Kami sempat meneliti untuk mengetahui identitas kuburan tua tersebut dengan mengirim tulisan dibatu nisan, namun ada beberapa tulisan yang tidak terbaca karena rusak termakan usia, untuk tahunnya bisa diketahui 1800an,” ungkapnya.

Ditambahkannya, untuk kuburan dengan bentuk kuburan muslim yang disamping kuburan tua diketahui bernama N.Katung atau Siti Aisyah didapatkan setelah pihak yayasan mencari informasi hingga ke dalam pagar Kecamatan Martapura Timur.

“Siti Aisyah atau N.katung merupakan warga Tionghoa muslim, informasi identitas ini kami dapat dari warga dalam pagar yang masih kerabat dan mengetahui silsilahnya,” bebernya.

Sementara itu, siapa yang dimakamkan dikuburan tua dengan arsitektur identik kuburan warga Tionghoa tersebut. Selentingan kabar menyebutkan penghuni pusara tersebut adalah warga Tionghoa bernama Syekh Mahmud bin Latief yang masih kerabat dekat dari go hwat neo atau tuan go hwat istri Syekh Arsyad Albanjari atau Datu Kalampaian. Syekh Mahmud bin Latief diceritakan warga Tionghoa yang beragama muslim dan N.Katung atau Siti Aisyah adalah kerabat dekat atau pengabdi yang selalu membantu semua urusannya hingga akhir hayat. (apri)

ca-pub-2508178839453084