Kombes Pol. Rudi Setiawan: Unsur medis kasus dugaan pelecehan kopilot tak terbukti

Dibaca: 192 kali

LIPUTAN SURABAYA – Upaya penyidikan kasus dugaan pelecehan terhadap PJ, kopilot sebuah maskapai nasional berakhir. Setelah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi dan gelar perkara, penyidik memutuskan menghentikan kasus tersebut.

Alasannya, penyidik tak menemukan unsur pidana dalam tindakan medis yang dilakukan oleh BA, oknum dokter di RSU Dr Soetomo terhadap kopilot tersebut.

Penghentian penyidikan kasus tersebut dibenarkan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran, Senin (31/12). Penghentian itu dilakukan lantaran dari pemaparan penyidik dan berdasarkan keterangan sejumlah saksi yang diperiksa, pihaknya tak menemukan adanya unsur pidana atas laporan korban dan kuasa hukumnya.

“Terlapor sudah menjalankan proses medis sesuai dengan SOP (Standard operational procedure),” ungkap Sudamiran. Penghentian kasus yang sempat heboh dan viral di Surabaya ini juga didukung dengan keterangan sejumlah ahli yang diperiksa. Seperti ahli kedokeran, ahli IT dari Ditjen Kominfo pusat, ahli agama dan ahli psikologi. Semua saksi memastikan jika apa yang dilakukan oleh BA tak menyalahi aturan.

“Termasuk juga tindakan yang menyebarkan foto ke grup WA, itu sebagai tindakan medis agar lebih cepat. Grup WA tersebut juga masih dalam lingkup dokter itu,” terangnya.

Baca:  La Nyalla: Berfikir Positif, Sudahi Polemik Debat Capres Berbahasa Asing

Menurut Sudamiran, sebelumnya korban melaui kuasa hukumnya melaporkan adanya dugaan tindak pidana pornografi dan pelanggaran UU ITE. Namun, dua unsur tindak pidana tersebut tak terbukti. Sehingga kasus ini dinyatakan dihentikan dan selanjutnya polisi akan segera menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3).

“Meski demikian, surat SP3 tersebut masih dalam proses. Selanjutnya akan kami kirim ke kuasa hukum pelapor,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan membenarkan adanya penghentian kasus tersebut. Dia mengatakan, memang tak ada unsur pidana dalam proses penanganan medis seperti yang dilaporkan pelapor.

“Intinya kami sudah melakukan tahapan-tahapan untuk menangani kasus tersebut. Kalau memang tak ada unsur pidana, kenapa harus dipaksakan ada tersangkanya,” terangnya.

Perwira dengan tiga melati di pundak ini juga mengatakan lebih baik melepas seorang yang bersalah daripada menghukum orang yang tak bersalah. Dalam kasus ini, penyidik sudah melakukan penanganan maksimal.

“Intinya dihentikan. Nantinya kalau pelapor tidak terima tentu bisa melakukan upaya hukum lain. Mekanismenya sudah jelas. Kami siap,” tegasnya.

Baca:  Jurnalis Jatim Bentuk 'JURKUM' Junjung Etika dan Profesional Kerja

Kasus dugaan pelecehan tersebut berawal saat korban PJ yang merupakan kopilot salah satu maskapai nasional dirawat di RSUD Dr Soetomo usai mengalami kecelakaan mobil di perempatan Balai Pemuda. Namun saat dirawat, dia diduga difoto oleh seorang dokter berinisial BA dalam posisi telanjang. Foto tersebut disebarkan di salah satu grup WA.

Pelapor melalui kuasa hukumnya melaporkan kasus ini ke Polrestabes Surabaya dengan bukti laporan LP/B/1099/X/2018/Jatim/Restabes Sby. Dalam laporan itu, BA dianggap telah melakukan tindak pidana pornografi dan melanggar UU ITE. (one/samu)