Hakim Tolak Salaman Dengan Terdakwa Pencabulan Mantan Perawat National Hospital

Dibaca: 11051 kali

Usai Sidang Hakim Tolak Salaman Dengan Terdakwa Pencabulan Mantan Perawat National Hospital

SURABAYA – Zunaidi Abdilah (ZA) mantan perawat National Hospital terdakwa dalam perkara dugaan pelecehan seksual kepada pasiennya kembali dipersidangkan hari ini Senin, (4/6/18).

Sidang tertutup yang digelar diruang Tirta 2 dengan agenda pembacaan pledoi (nota pembelaan), dibacakan langsung oleh terdakwa. Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Agus Hamzah dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo.

Dari pantauan diluar ruang sidang, suasana menjadi haru saat terdakwa ZA menangis membacakan pledoinya di ikuti tangisan Istri dan kuasa hukum terdakwa. Dalam pledoi nya terdakwa mengatakan tidak bersalah, oleh karena itu terdakwa mengharapkan keadilan dan kemurahan hati Majelis Hakim agar membebaskan dirinya.

Seusai persidangan kuasa hukum terdakwa Elok Dwi Kadja mengatakan bahwa terdakwa dalam pledoinya mengaku tidak bersalah. Karena merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan kepadanya. Terdakwa berharap dirinya di bebaskan karena masih mempunyai anak yang masih kecil dan sering sakit-sakitan.

Menurut Elok, kuasa hukum merasa yakin bahwa kliennya tidak bersalah. Perkara ini seperti di rekayasa. Menurut kuasa hukum korban hanya mengalami halusinansi. Karena berdasarkan saksi ahli kejiwaan yang di datangkan JPU maupun saksi ahli anestesi mengatakan bahwa pasien yang baru saja di operasi di bagian kewanitaan akan mengalami halusinasi seksual. Karena pada saat itu ZA lah yang di dekat korban maka secara otomatis korban menuduh terdakwa.

” Menurut ahli kejiwaan yang didatangkan oleh JPU dan saksi ahli anestesi dari kami sebagai kuasa hukum terdapat keterangan bahwa dari 300 pasien yang di operasi sebanyak 52 akan mengalami halusinasi, dan 19 pasien akan mengalami halusinasi seksual setelah di operasi bagian kewanitaannya.” jelasnya.

Dilain pihak Damang Anubowo (JPU) mengatakan bahwa dirinya tetap pada tuntutan awal yakni 1,5 tahun. Dia menilai apa yang ada dalam pledoi belum memenuhi unsur untuk diringankan.

” Tetap pada tuntutan awal, ” ucap Damang

Di akhir sidang ZA yang bangkit dari kursi pesakitan hendak menjabat tangan Ketua Majelis Hakim Agus Hamzah hanya bisa terdiam saat Agus menolak berjabat tangan dengan terdakwa. Sungguh di sayangkan sikap ketua hakim tersebut. Niat baik ZA tak dianggap Agus Hamzah.

Sidang di lanjutkan Rabu 06 Juni 2018 dengan agenda sidang putusan oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya. (awr)