Gosip itu penting bagi kerja sama di media sosial

Dibaca: 1128 kali

Ulysis Cababan penasaran. Seorang tetangganya di Kota Cebu, Filipina telah memperingatkannya tentang pedagang makanan kaki lima yang sering mereka datangi. Makanan di carenderia, atau kedai makanan, itu katanya dibuat menggunakan air keran —kendati secara lokal cara ini dianggap tidak aman.

Gosip, atau chika-chika, adalah gaya hidup di Filipina. Tetapi Cababan, yang bekerja di agen visa, ingin memastikan sendiri apakah gosip itu benar. Jadi, sambil berpura-pura mencari tempat untuk cuci tangan, ia melihat-lihat area memasak si pedagang. Ia menemukan ember berisi air yang jelas-jelas didapatkan dari keran, bukannya wadah yang diisi ulang di stasiun air mineral.

Khawatir akan bibit penyakit yang dibawa air keran itu terhadap makanan, ia memperingatkan hal itu kepada istrinya.

“Mungkin karena gosip, ceritanya bisa menyebar lebih cepat daripada kalau saya melaporkannya kepada pihak berwenang,” kata Cababan.

Gosip seringkali dipandang remeh atau dibenci. Tetapi ia dapat berguna untuk kelompok kecil.

Ada perbedaan penting dalam cara sebagian besar dari kita mendefinisikan gosip —sebagai cara untuk membicarakan aib orang lain yang tidak hadir— dan cara para ilmuwan mendefinisikannya. Dalam ilmu sosial, gosip, desas-desus, biasanya didefinisikan sebagai komunikasi tentang orang yang tidak hadir dengan juga melakukan evaluasi terhadap orang itu, baik atau buruk.

Komunikasi informal semacam ini sangat penting untuk berbagi informasi. Gosip diperlukan untuk kerja sama sosial; pembicaraan semacam inilah yang sebagian besar menyematkan ikatan sosial dan memperjelas norma-norma sosial.

Dan meskipun sering dipandang buruk, gosip sebenarnya cenderung tidak negatif — sebaliknya, kebanyakan gosip justru bersifat positif atau netral. Satu studi berpengaruh tentang percakapan di Inggris menemukan bahwa hanya 3-4% dari sampel gosip itu yang bersifat jahat.

Lalu perbedaan penting lainnya antara gosip dan rumor: gosip lebih bersifat personal daripada rumor. Dan seperti yang dijelaskan oleh Jennifer Cole, seorang dosen psikologi sosial di Manchester Metropolitan University, “gosip bukan tentang hal-hal yang terjadi di lingkungan. Tapi tentang orang.”

gosip
Gosip berbeda dari rumor karena gosip biasanya benar.

Pengertian ini berimplikasi pada kredibilitas gosip. “Gosip biasanya benar,” kata Sally Farley, seorang profesor psikologi di Universitas Baltimore. “Jadi, jika itu berita bohong, akan lebih baik digolongkan sebagai rumor.”

‘Me too’

Saya berbincang dengan Farley satu tahun setelah tuduhan pelecehan seksual Harvey Weinstein diterbitkan di surat kabar New York Times. Kasus tersebut membuat kita merenungkan peran jaringan berbasis gosip dalam melindungi perempuan secara informal dari para peleceh seksual, tanpa adanya mekanisme formal yang menanggapi keluhan mereka dengan serius.

Baca:  Polisi Harus Tegas.!! Preman DebtCollector Resahkan Masyarakat

“Orang-orang gagal memahami bahwa gerakan #MeToo sesuai dengan definisi gosip,” kata Farley. “Saya percaya bahwa gerakan ini adalah cara bagi perempuan untuk melawan dan menegaskan kembali kekuasaan.”

Tentu saja, ini juga benar di luar gerakan #MeToo. “Kita selalu ingin mengetahui informasi tentang orang lain,” kata Farley. “Jadi ketika kita tidak mendapatkan akses ke saluran komunikasi formal, biasanya demikian jika Anda seorang individu dengan status yang lebih rendah, kita mengandalkan saluran informal, seperti jaringan gosip.”

Tetapi meskipun ada persepsi lama bahwa perempuan lebih suka bergosip daripada laki-laki, tidak ada bukti yang mendukung anggapan tersebut.

gosip
Laki-laki juga suka bergosip, seperti halnya perempuan, namun caranya berbeda.

Yang jelas adalah bahwa laki-laki dan perempuan bergosip dengan cara berbeda. Gosip laki-laki lebih cenderung bersifat promosi diri, dan laki-laki lebih cenderung menyebutnya ‘bertukar informasi’ atau ‘saling berkabar’.

Perempuan juga cenderung membuat gosip lebih menghibur, dengan banyak detail dan nada bicara yang lebih bersemangat. Jadi percakapan antara laki-laki mungkin tidak terdengar seperti gosip — meskipun seringkali merupakan gosip.

Gosip selebritas

Meskipun gosip biasanya merujuk kepada orang-orang yang kita kenal dengan baik, gosip selebritas tetaplah gosip — selebritas tertentu yang nampang di mana-mana serta liputan media tentang mereka membuat kita merasa seperti kita mengenal mereka secara pribadi. Lagipula, mereka sering dipanggil dengan nama pertama mereka, dari WillKat sampai Khloe.

Gosip semacam ini berperan lebih dari sekadar hiburan. Salah satu fungsinya, gosip selebritas adalah cara untuk menguji identitas dan afiliasi yang berbeda, terutama jika identitas dan afiliasi tersebut terpinggirkan. Misalnya, beberapa selebritas Taiwan yang queer menggunakan skandal seks untuk membuka percakapan yang sulit tentang seksualitas mereka.

gosip selebritas
Kolumnis gosip Hollywood Sheilah Graham pada 1955; gosip selebritas juga memainkan peran penting.

“Saya benar-benar melihat gosip selebriti sebagai semacam gerbang/pintu masuk untuk membocorkan informasi pribadi yang mungkin tidak nyaman dilakukan oleh seseorang jika mereka mengungkapkannya secara langsung,” kata Andrea McDonnell, seorang profesor komunikasi dan media di Emmanuel College, Boston.

Ini juga mengungkapkan tren yang lebih besar — seperti wabah berita palsu. Ketika McDonnell mulai meneliti majalah gosip selebriti Amerika selama kepresidenan Obama, respondennya mengatakan kepadanya bahwa kepalsuan majalah adalah aspek yang mereka nikmati. Mereka merasa berdaya dengan memecahkan teka-teki apa yang akurat dan apa yang dibuat-buat.

“Sebagaimana ide kebohongan dan kepalsuan telah berpindah dari berita tabloid ke berita utama, kami juga melihat budaya selebriti bergerak dari dunia tabloid ke dalam lanskap politik Amerika,” kata McDonnell.

Baca:  Kombes Pol. M.Iqbal Berjanji Ungkap Paguyuban Preman Pasar Sememi Benowo Surabaya

Bahayanya, tentu saja, adalah apa yang terjadi ketika ide-ide itu memasuki “lanskap jurnalistik yang seharusnya tidak hanya untuk bersenang-senang. Sekarang kita dilanda krisis legitimasi seputar informasi yang dibutuhkan publik, “katanya.

gosip selebritas
Berita palsu yang awalnya merupakan ciri khas tabloid kini telah merembes ke masyarakat luas.

Kampanye diam-diam

Salah satu implikasinya adalah bahwa kelompok-kelompok yang secara tradisional tertutup dari kekuasaan dan pengaruh dapat menemukan pemberdayaan melalui saluran dan interpretasi mereka sendiri tentang kebenaran.

Ini bisa bermanfaat — seperti halnya perempuan yang saling memperingatkan tentang para peleceh yang memimpin kerajaan media. Atau bisa jadi hal yang buruk — seperti dalam kasus gosip palsu yang mengarah pada rusaknya reputasi dan kekerasan.

Salah satu tantangannya adalah orang-orang lebih percaya gosip bahkan daripada pengamatan langsung mereka sendiri, sebagian karena gosip berasal dari orang yang kita kenal.

Anggaplah Facebook sebagai sumber berita populer. Teman masa kecil atau paman Anda belum tentu memeriksa artikel politik yang mereka bagikan, tetapi Anda masih lebih mungkin memercayainya karena berasal dari sumber terpercaya. Fakta bahwa kita makhluk sosial membuat kita mudah dimanipulasi.

Tetapi gosip yang buruk biasanya cepat dibungkam. Kita cenderung secara bawah sadar membuat penilaian cepat tentang motivasi para tukang gosip. Dan orang-orang yang menyebarkan gosip negatif yang terkesan hanya menguntungkan diri sendiri kurang dihormati dan kurang disukai.

“Orang yang pintar menyadari bahwa orang-orang yang sering bergosip kemungkinan juga akan bergosip tentang mereka, dan kesadaran itu masuk dalam persepsi mereka,” kata Farley.

“Dan terutama jika informasi yang mereka sampaikan umumnya negatif, orang-orang tidak berpikir positif tentang orang lain yang menghabiskan banyak waktu untuk membicarakan aib orang lain. Jadi, singkatnya, orang menghormati orang lain yang selektif dengan gosip mereka.”

gosip
Kita cenderung menghormati orang yang selektif dalam bergosip.

Tetap saja, itu tidak mudah.

Kepercayaan akan ilmu hitam di bagian-bagian tertentu Afrika sub-Sahara menunjukkan bagaimana gosip dapat berujung pada kepanikan dan kekerasan. Di Tanzania, antropolog Simeon Mesaki mengatakan bahwa hubungan saudara perempuan dan bibinya menjadi renggang setelah seorang peramal menyalahkan sang bibi atas cacat perkembangan keponakannya. Dalam perkembangan gosip ini, ibunya juga terjerat dalam perselisihan keluarga.

Mesaki, dari Universitas Dar es Salaam, menunjukkan bahwa konsekuensinya bisa lebih parah daripada kerenggangan. Baru-baru ini, katanya, “beberapa peneliti dibunuh di distrik Chamwino karena dianggap sebagai chinja chinja atau mumiani [makhluk mirip vampir] yang ingin menguras darah dari penduduk setempat. Ini adalah gosip jahat. “

Baca:  Ketua DPRD Tindak Lanjuti Jeritan Rakyat, Terkait Sengketa GrandCity Mall

Dalam situasi ekstrem seperti ini, terutama di mana literasi sains rendah dan kondisi keuangan rentan (dan ketika pembunuh bayaran, dukun, dan lain-lain mencari untung), gosip bisa jadi sangat berbahaya.

Tapi ia masih bisa menjalankan fungsi sosial yang bermanfaat sebagai cara untuk memperkuat idealisme egalitarianisme. Seseorang yang memperoleh kekayaan secara tiba-tiba dan misterius, misalnya, adalah sasaran gosip. Sangat menggoda untuk percaya bahwa kekayaan mereka berasal dari kekuatan jahat. Tapi meredakan kecurigaan ini dengan berbagi informasi bisa baik untuk harmoni sosial.

Gosip juga bisa membantu mengurangi stigma. Bianca Dahl, seorang antropolog di Universitas Toronto, memberi contoh tentang orang Tswana di Botswana yang bergosip tentang infeksi HIV. Selama tidak dilakukan dengan cara yang menjelek-jelekkan orang yang kabarnya terinfeksi – sekali lagi, ada perbedaan antara bagaimana sebagian besar dari kita menganggap suatu gosip sebagai negatif, dan bagaimana ilmuwan sosial mendefinisikannya – gosip dapat mengurangi penghakiman tentang perilaku seksual orang yang terinfeksi.

Jadi bagaimana kita bisa memaksimalkan manfaat gosip — dan mengurangi kerugiannya?

gosip
Untuk membuat gosip yang bermanfaat, ada beberapa prinsip yang perlu kita ikuti.

Cole menyarankan empat prinsip: menjaga kerahasiaan dalam bergosip, membuat gosip yang berguna, tidak berbohong, dan berhubungan dengan pendengar. Menghindari anonimitas juga dapat membantu.

Lebih umum, Dahl menyarankan pemahaman tentang alasan gosip dan misinformasi. Di pedesaan Bostwana, alasan itu mungkin keinginan untuk menghindari stigma penularan HIV. Di kota kecil Amerika, mungkin ketakutan akan perubahan sosial yang menjadi alasannya.

“Anda harus mulai dengan menangani akar emosional dari suatu keyakinan, dan dengan mengeksplorasi ‘kegunaan’ keyakinan tersebut bagi orang-orang,” kata Dahl. “Pokoknya, kita berpegang pada suatu keyakinan sebagian karena kebenaran emosional yang ditawarkannya.”

Dikutip dari BBC Indonesia, Gosip bisa jadi eksklusif dan berbahaya. Tapi ia tidak bisa dihindari — dan bisa menjadi hal yang baik. Memahami apa yang orang-orang dapatkan dari gosip adalah salah satu cara untuk memerangi keyakinan yang berbahaya.