Dokter Moestidjab Lakukan Mal Praktek, Dilaporkan IDI dan Polda Jatim Melempem

Dibaca: 15083 kali

Dokter Moestidjab Lakukan Mal Praktek, Berlindung ke IDI dan Polda JatimSurabaya, LiputanIndonesia.co.id – Tatok Poerwanto yang didampingi anaknya Condro Wiryono Poerwanto selaku Direktur PT. UBITAL beralamat di jl. Ubi 2 no: 23 Surabaya, Pasien yang menjadi korban kelalaian serta diduga mal praktek hingga buta permanen setelah gagal operasi tersebut, Korban geram dan melakukan Demo bersama korban lainnya.

Dokter Moestidjab yang membuka praktek di Poliklinik kawasan jl. Jemur Sari Surabaya yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini, tapi ternyata mengajukan gugatan abal – abal, untuk menutupi kelalaian dan kebohongannya. Kendatipun sudah dilaporkan kasusnya ke polda Jawa Timur dan ke Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ) Surabaya masih belum ada tindakan kepastian hukum.

Dokter Moestidjab Lakukan Mal Praktek, Berlindung ke IDI dan Polda Jatim

Kasus ini sudah berlangsung lama 1 tahunan, Hingga saat ini belum ada pemanggilan untuk disidangkan kode etik terhadap Dokter Moestidjab dan juga Polda Jatim belum ada tindakan guna kepastian sangsi hukumnya.

Karena dianggap melakukan tindak pidana dugaan kelalaian dan kebohongan, ternyata dokter senior dan spesialis mata yang bernama Dokter Moestidjab mengajukan gugatan perdata abal-abal ke pengadilan negeri Surabaya, guna menutupi kelalaian dan kebohongannya yang sudah dimintakan permohonan maaf.

Warga dan para korban Demo serta menuntut Dokter Nakal itu, terkait mengoperasi pasien yang mengakibatkan buta permanen. Korban berkoordinasi dengan warga lain melakukan unjuk rasa serta menuntut Ikatan Dokter Indonesia, begini isi tuntutannya:

1. Cabut MoU Polri dan IDI demi kesamaan dalam hukum untuk semua Rakyat Indonesia.

2. Organisasi IDI jangan jadi pelindung dokter-dokter nakal dan bermasalah.

3.kembalikan fungsi Mahkamah Kode Etik IDI sebagai organisasi mulia perlindungan pasien korban, bukan sebaliknya membela dokter nakal yang seenaknya sendiri melakukan Mal Praktek yang tidak sesuai dengan kode etik Dokter.

Condro Wiryono Poerwanto selaku anak korban mengatakan, ” Sudah dua pasien yang menjadi korban, namun tidak berani mengadu, diharapkan IDI bisa profesional menyikapi dokter nakal yang dibawah naungannya. Dan juga bisa menindak tegas serta mengeluarkan dari IDI jika terbukti bersalah, kalau tidak profesional mending dicabut saja ijin kelembagaannya. Saya minta keadilan ” Tuturnya.

Hingga saat ini Pasien Tatok Poerwanto yang menjadi korban buta permanen, masyarakat dan korban minta keadilan. Kasus korban ini sudah dilaporkan ke IDI serta sudah berjalan satu tahun.

Masih anak korban ” Kasus bapak saya sudah saya laporkan ke IDI dan ke Polda Jatim mas Media, namun tidak ada kepastian hukum ataupun tindakan pemanggilan guna menyelesaikan perkara ini. Saya sangat kecewa dengan kinerja perwakilan rakyat yaitu pihak IDI dan Polisi Polda Jatim ” Tutupnya.
Penulis: (one/red)