Diduga Mal Administrasi, Jurnalis gabungan klarifikasi Polrestabes Surabaya – Liputan Indonesia | berita hari ini, informasi harian terbaru terkini

Diduga Mal Administrasi, Jurnalis gabungan klarifikasi Polrestabes Surabaya

Surabaya – Pekerja pencari berita yang dikenal sebagai jurnalis tergabung dari berbagai perusahaan pers di Jawa Timur serta didukung Organisasi Pers Sindikat Wartawan Indonesia (SWI) juga dikawal Ormas Laskar Merah Putih Markas Surabaya, mendatangi Polrestabes Surabaya, guna klarifikasi adanya Mal Administrasi atau rekayasa fakta dalam penyidikan kasus pemukulan dan pengeroyokan wartawan beritaTKP.

Dalam klarifikasi gabungan wartawan dari berbagai perusahaan pers di Jatim mengatasnamakan ” Aksi Solidaritas ” melakukan Konfirmasi dan Klarifikasi secara serempak ke Polrestabes Surabaya, terkait proses penyidikan dari Polsek Simokerto yang diduga mal administrasi atau rekayasa fakta, menaikan status Wartawan media Berita TKP, Syamsul Arifin menjadi tersangka, yang sebelumnya adalah korban. Senin, (19/2/18).

Sekitar 100 Wartawan dijatim yang tergabung dalam Aksi Solidaritas melakukan konfirmasi secara serempak   terhadap jajarannya yaitu Penyidik Polsek Simokerto, yang diduga menetapkan status tersangka tanpa dua alat bukti yang kuat. Bahwa Syamsul yang menjadi korban malah menjadi tersangka dalam penyidikan, hal tersebut diduga terjadi banyak penyimpangan dalam proses hukumnya serta kuat dugaan adanya pesanan dan rekayasa yang dilakukan WCS selaku bos pemilik cafe karaoke Santoso.

Dalam Aksi Solidaritas di ikuti lebih dari 100 wartawan, saat hendak masuk, sempat tidak diperbolehkan masuk oleh Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar. “Jangan masuk semua, cukup perwakilan saja” ujar Lily didepan portal masuk Polrestabes Surabaya.

ADVERTISEMENT

Permintaan Humas Polrestabes Surabaya Kompol Lily tidak diterima para wartawan. Para wartawan tetap mau masuk dan menemui Kapolres untuk klarifikasi tentang kasus yang menimpa wartawan Syamsul. Namun Kapolrestabes tidak berkenan menemui para wartawan dan di wakilkan kepada Kasat Intelkamnya.

“Kami disini bukan demo, kami disini melakukan tugas jurnalis, kami para wartawan mau konfirmasi dan klarifikasi kepada Kapolres tentang kasus yang menimpa saudara kami sesama jurnalis, wartawan dan polisi adalah mitra, kenapa polisi tidak memperkenankan kami masuk, apakah polisi tidak lagi menghargai mitranya” tutur Agus, ketua aksi dengan lantang.

Baca juga:  Anies-Sandi Unggul Dalam Quick Count KPU

Aksi solidaritas ini akhirnya diterima walaupun oleh AKBP Beni Pramono selaku Kasat Intelkam Polrestabes Surabaya, Sekitar 30 menit para wartawan berdialog dengan pihak kepolisian  dan menerangkan tujuan aksi solidaritas adalah melakukan tugas jurnalis untuk konfirmasi dan klarifikasi tentang kasus wartawan Syamsul dan setelah para wartawan berdiskusi, dan mengambil sikap bersama bahwa jika Polrestabes Surabaya tidak memperkenankan masuk, aksi akan digeser ke Polda Jatim, baru para wartawan diperkenankan masuk.

“Kami disini para jurnalis, melaksanakan tugas jurnalis melakukan laporan serta konfirmasi dengan dugaan mal administrasi dan juga rekayasa fakta yang dilakukan oleh penyidik Polsek Simokerto, jika tidak diperkenankan masuk berarti pihak Polrestabes telah melanggar UU No.40 Tahun 1999 Tentang Pers, menghalang halangi wartawan melakukan tugasnya, kita tunggu 15 menit, jika tidak diperkenankan masuk, aksi akan digeser ke Polda Jatim”, ujar Agus ketua aksi solidaritas Jurnalis dan juga Kepala Bidang Aksi Jurnalis Sindikat Wartawan Indonesia.

Klarifikasi sekitar 15 menit para wartawan kemudian dipersilahkan masuk dengan di temui Kasat Intellkam Polrestabes Surabaya AKBP Beni Pramono di dampingi Humas Polrestabes Surabaya Kompol Lili Djafar, Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati dan Kanitreskrim Polsek Simokerto Iptu Suwono, Kanit Jatanras Polrestabes Kompol Agung dan Kanit Propam Polrestabes  Kompol Kuncoro.

Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati Saragih memberikan keterangan kepada para wartawan  bahwa pihak Polsek melalui tahapan – tahapan yang sesuai prosedur “Kami sudah gelar perkara dan sudah melakukan pengembangan terkait status tersangka yang mana saudara Syamsul ketika di periksa di dampingi oleh kuasa hukumnya”, jelas Masdawati.

Kasat Intelkam Polrestabes Surabaya AKBP Beni Pramono meminta supaya rekan – rekan jurnalis menyampaikan harapannya untuk mencari titik temu permasalahan dan agar Surabaya kondusif dengan bersinergi bersama media, dan harapan para wartawan akan di sampaikan ke pemimpin dalam hal ini adalah Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi.

Baca juga:  Pakde Karwo : Gelorakan Kegotong Royongan Dalam Pembangunan

“Silahkan teman – teman media menyampaikan maksud kedatangan nanti akan kita sampaikan kepada pimpinan, di sini ada beberapa Kanit, juga sudah mengetahui permasalahan terkait perkembangan kasus ini, dan di harapkan supaya ada titik temu agar kasus ini secepatnya selesai,’’ ujar Beni.

Ada 4 point yang di sampaikan peserta aksi solidaritas Jurnalis.

Pertama, para wartawan meminta klarifikasi atas penyidikan dari pelaporan Syamsul kepada Wong Che Siu yang menjadi tersangka, semula dengan jeratan pasal 170 Kuhp tentang pengeroyokan berubah menjadi pasal 351 Kuhp tentang pemukulan.

Kedua, meminta status Syamsul Arifin sebagai tersangka di hentikan dari tuduhan tersangka yang dinilai cacat dalam proses hukumnya serta diduga pesanan juga rekayasa fakta.

ketiga, meminta kasus ini di lakukan gelar perkara secara terbuka agar menemui fakta dan kebenaran dalam menindak lanjuti fakta.

Keempat, agar penyidik di ganti dan di limpahkan kasus ini ke Polrestabes Surabaya.

Sementara itu, Kuasa hukum BeritaTKP Eko Santoso.SH mengatakan, “Bahwa dalam hal perkembangan kasus ini penyidik tidak bisa menunjukkan minimal dua alat bukti yang menjadikan Syamsul sebagai tersangka, dengan menunjukkan berita acara pemeriksaan sebagai tersangka, pada saat berselang tiga hari setelah kejadian saya mendatangi Polsek Simokerto dengan klien saya, untuk meminta segera melakukan olah TKP guna untuk mengamankan barang bukti berupa CCTV yang ada di kafe Santoso, namun di jawab oleh Kanitreskrim Polsek Simokerto bahwa Penyidik sedang luar kota”. terang Eko.

Setelah aksi Solidaritas Jurnalis, para wartawan akan menunggu kabar dari Polrestabes Surabaya, terhitung dimulai (Senin, 19/2/18), karena kasus tersebut dipinta oleh semua wartawan untuk dilimpahkan dari Polsek Simokerto ke Polrestabes Surabaya, dan meminta segera dilakukan gelar perkara secara terbuka seperti janji dari Kasat intelkam Polrestabes Surabaya. (tim)

Bagikan berita ini

hak-jawab-hak-koreksi-hak-tolak-lindo iklan-adsense
Baca Lainnya

error: Hak Cipta © PT. Lindo Sahabat Mandiri ..!!