Demo Ahok 4 November, Satu Korban Meninggal Dunia

Dibaca: 171 kali
0
Situs+Berita+Indonesia+Dunia+Liputan+Indonesia
Diduga oknum non muslim yang menjadi Provokator 


Jakarta, Liputan Indonesia — Aksi Demo besar-besaran kemarin yang dilakukan oleh massa dari rakyat muslim di Indonesia diwarnai dengan kericuhan, yang diduga Ditunggangi oleh aktor politik dan non muslim. saat aksi demo Jum’at, 4 November 2016, pada akhirnya satu korban, seorang lelaki tua wafat karena tembakan gas air mata yang dilakukan Polri di depan Istana merdeka. Diduga sesak nafas akibat kekurangan oksigen. Sabtu, (5/11/16).

M.Syahrie Korban Demo Ahok, Saat Dimakamkan

M. Syahrie bin Umar yang menutup usia pada umur 65 tahun pada saat membela Agamanya di depan Istana Presiden RI.

Berikut kami kutip sebuah tulisan dari fans page Genarasi Pemuda Islam di sosial media Facebook.

M. Syahrie atau PAK OYE YANG SAYA KENAL
Saat tim media liputan Indonesia meliput dan menyusuri jalan sempit paving blok perumahan Binong Permai blok F14 No 24. 51 meter di Mushola Bina Ihsani, lantunan kalimat Thoyyibah mengumandang. Diselingi suara gemuruh Takbir yang bergema beberapa kali. Jenazah M. Syahrie bin Umar disholatkan.

“ Saudara-saudara sekalian, hari ini kita akan menyolatkan jenazah seorang Mujahid. Kita yakin, almarhum ini mati syahid…” suara orang yang mewakili keluarga almarhum.

“ Saudara Saudara kita menjadi saksi, orang yang ada di hadapan kita ini mati Syahid. Karena ia mati dalam membela Agama, membela Al Qur’an…! Lanjut si pembuka prosesi sholat jenazah itu lantang. “Allahu Akbar…, Allahu Akbar….!” Berkali-kali Takbir berkumandung menyambut ” Tambah Imam saat pimpin acara pemakaman.

Diduga Oknum Politik dan Provokator yang menunggangi Demo Ahok

Ketika sholat jenazah dimulai, diimami oleh Ustadz Sulaiman, isak tangis para jama’ah pun pecah Mereka haru mengiringi kepergian Mujahid gagah tersebut.

Baca juga:  Polsek Bubutan Surabaya Menetapkan Tersangka Tanpa Barang Bukti dan Terkesan Kejar Target

Korban Demo Ahok yang bernama M.Syahrie Oy, dikenal Sederhana, periang, ramah dan amat bersemangat. Di Musholla Bina Ihsani ia dikenal sebagai dedengkotnya. Lantaran amat rajin membina kaum ibu dan remaja. Almarhum yg sehari-harinya disapa Pak Oye itu, amat bersemangat memfasilitasi setiap kegiatan dakwah, para kadernya.

“ Ibu-ibu jangan lupa ya, dukung pak Sultoni,” ujarnya bersemangat di hadapan ibu-ibu yang berhasil dikumpulkannya di musholla Bina Ihsani, ketika berkampanye. ” Tutur salah satu ibu-ibu kenang almarhum semasa hidupnya

Salah satu jamaahnya Achmad  mengatakan, ” 51 meter setelah saya beranjak dari makamnya, saya masih saja tak sanggup menahan sesegukan isak tangis saya. Haru, bangga dan bercampur malu. Saya yang lebih muda dari almarhum, kenapa tak berani berada di barisan depan saat Aksi Bela Islam 4 November 2016? Saya ini kan lebih muda? Tak mengidap penyakit seperti beliau? Lebih segar, lebih sehat, lebih lincah? Tapi kenapa almarhum yang jauh lebih tua, berpenyakit asma, lebih sepuh, justru lebih gagah semangat jihadnya membela kemuliaan Al Qur’an? Saya tercenung. Air mata saya berjatuhan, tak sanggup saya tahan.” Tutur Achmad selaku tetangga almarhum.

Rep: agung
Editor: one

ca-pub-2508178839453084