Bersikap Arogan, Kasat Pol-PP Surabaya Tidak Becus Membina Anggotanya

Dibaca: 17498 kali

Surabaya, LiputanIndonesia.co.id – Satuan Polisi Pamong Praja (satpol pp) merupakan pembantu Kepala Daerah dalam menindak lanjuti Pemerintah di bidang Keamanan dan Ketertiban serta menegakkan Peraturan Daerah Kota Surabaya. Juga bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah.

Namun, Arogansi serta melecehkan profesi Wartawan yang dilakukan Satpol PP Kota Surabaya kembali terjadi dan kali ini menimpa kepada Wartawan GerbangNews, Selasa 28 Maret 2017 sekitar pukul 11.45 WIB.

” Satpol PP Pusat Kota Surabaya saat itu melaksanakan tugas di Jalan Kapasari (tempat jualan kaki lima) datang dari arah jembatan rel kereta api, Akan tetapi petugas tidak melakukan penindakan terhadap Pedagang yang dipinggir jalan. ” Ujar Kosimuddin wartawan GerbangNews

Namun, Setelah pertigaan lampu merah semua petugas turun dan langsung mengangkut barang – barang dagangan pedagang tanpa pemberitahuan, padahal dibawah rel juga banyak pedagang di jalanan, Saat itulah wartawan Gerbangnews.com yang sedang membetulkan Jam Tangannya mengambil gambar untuk bahan pemberitaan terkait pemberitaan satpol pp yang giat melakukan penertiban.

Tapi salah seorang petugas Satpol PP Kota Surabaya bernama AMIN menghalang – halangi awak media mengambil gambar, ” Tidak puas disitu AMIN mendatangi lagi awak media seolah mengejek, Pentingnya Satpol PP belajar etika bukan kayak preman.” katanya.

Selanjutnya keterangan korban, Satpol PP bernama HORIRI bersama anggotanya yang lain mendatangi awak media sambil menanyakan Id Card Jurnalis, Setelah ditunjukkan malah langsung di Rampas paksa dan diberikan kepada AMIN sambil berkata suruh ambil di Kantor.

Kosimuddin awak media gerbangnews menambahkan, ” Satpol PP Kota Surabaya sungguh sangat Arogan. Saya sudah memberitahukan bahwa saya dari media, Tapi tetap tidak diperdulikan sama petugas yang bernama AMIN dan HORIRI ” Tambahnya.

” Pada saat itu saya menemukan penegakan Perda oleh Satpol PP Kota Surabaya tebang pilih, Kemudian langsung saya mengambil gambar sebagai bahan pemberitaan. Tapi oleh petugas Satpol PP Kota Surabaya bernama AMIN dan HORIRI malah dihalang – halangi ,” Jelas Kosimuddin.

Pemerintah Kota Surabaya khususnya Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dalam melakukan penegakan PERDA yang dilakukan Satpol PP Kota Surabaya sangat tebang pilih dan tidak merata serta tidak manusiawi juga sikapnya seperti preman.

Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers Pasal 18 Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat  (2) yang berbunyi, Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau  pelarangan penyiaran. Dan ayat (3) yang berbunyi: Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak  mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah). (one).