Antara Saya, Selfie dengan Jokowi dan La Nyalla Academia

Dibaca: 1224 kali
0
Situs+Berita+Indonesia+Dunia+Liputan+Indonesia

By : Ani Sulastri

Secara jujur saya adalah kelompok yg disebut swing voter ( golput ). Sepak terjang perpolitikan saya dimulai dari menjadi Relawan militansi Prabowo Subianto. Boleh dibilang didunia media sosial saya ini pembunuh cebong no wahid. Jarang ada yg beradu argumentasi dg saya menang.

Dulu thn 2014 saya suka berkumpul di jln Fatmawati 200 dan bergabung dg wartawan wartawati senior pendukung 08. Sebut saja nama Naniek S Deyang, Linda Djalil dll.

Saya menjadi teamses untuk Anies Sandi di pilkada Jakarta thn lalu.

Sampai perjalanan saya bertemu dan berkenalan dg La Nyalla karena saya diminta membantu pemenangan beliau pada pilkada Jawa Timur. Namun apalacur, takdir berkata lain. Dg liku Sandiwara akhirnya rekomendasi LNM tidak turun dr partai yg paling bergengsi saat ini.

Hal ini membuka mata saya untuk bermain logika dan nurani. Saya mulai merapat ke pak Nyalla sebagai teman diskusi politik.
Lumayan juga karena pengetahuan beliau yg meski kadang terkesan liar tp masuk akal dg keadaan saat ini.

Meski pak Nyalla sudah memproklamirkan mendukung Jokowi dg menjadi founder di Rumah Rakyat Jokowi, saya tetap netral karena entah hati saya masih gamang. Saya bergabung dalam organisasi beliau yg diberi nama La Nyalla Academia. Dan saya diminta untuk menjadi team cyber anti hoak. Alhamdulillah karena pada dasarnya saya memang tidak suka membaca, mendengar berita hoax. Tapi kalau untuk memvote Jokowi, tungguh dulu. Saya masih belum yakin.

Siang ini Allah memperlihatkan pd saya sebuah kenyataan. Saya hadir sebagai pencari warta di La Nyalla media centre pada acara deklarasi dukungan untuk Jokowi di tugu pahlawan Surabaya.
Saya melihat dan merasa dr hati ke hati bahwa ini Jokowi yg apa adanya. Berbicara ,berpidato ,bersalaman tanpa beban. Beliau asyik membawah kita pada manusia yg dimanusiakan tanpa sekat ,tanpa perasaan takut.

Baca juga:  Jerman membantah suap Piala Dunia 2006

Pada sesi foto” bahkan saya masih enggan mengeluarkan kamera saya. Saya malah asyik mentertawakan ibu” sebelah saya yg teriak” pak jokowi…pak jokowi panggung belakang panitia mau selfie juga. Saya pikir ndeso ini orang sampai segitunya. Namun pak Jokowi mundur juga untuk menyalami kami di panggung belakang tempat panitia dan pers . Banyak yg mengeluarkan ponsel nya untuk minta berfoto. Mungkin karena kecapekan beliau berkata sudah” , anehnya pak Jokowi malah menoleh pada saya dan meminta ponsel saya untuk wefie. Antara percaya dan tidak saya malah terdorong yg lain ketika moment itu terjadi. Kemudian beliau menyerahkan ponsel saya kembali sambil mengangguk dan tersenyum ala Jokowi.

Ya Allah, inikah orang yg saya benci. Mendekat begitu dekat. Jika ada niat buruk bisa saja hal terjelek terjadi .
Dan saya pun mulai menulis disecarik kertas welcome to the cebongs family ani.
Ah biarlah mereka akan mengatakan saya dungu.
Yg pasti nanti di akhirat pertanyaannya bukan seberapa pintar kamu, namun seberapa berat kadar iman mu
Biarlah Rocky Gerung and the gank mengagungkan otak ketemu otak namun klo tanpa hati buat apa.
To menjadi pintar ala dia mendekatkan diri pada atheisme. Membutakan nurani karena semua yg indah dianggap fiksi.

Diakhir tulisan ini, saya mulai berfikir untuk lebih welcome dan secara obyektif menilai Jokowi.

ca-pub-2508178839453084