Kenapa sejumlah sel penjara dicat warna pink?

Sheriff Mike Rackley berdiri di dalam satu di antara sejumlah sel tahanan berwarna pink di Buffalo, Missouri, Amerika Serikat, 2006 lalu.
Sheriff Mike Rackley berdiri di dalam satu di antara sejumlah sel tahanan berwarna pink di Buffalo, Missouri, Amerika Serikat, 2006 lalu.
Beberapa tahun lalu, sebuah tren aneh menjalar ke sejumlah penjara di Eropa dan Amerika Utara. Di penjara-penjara tersebut, 
beberapa sel tahanan sengaja dicat warna pink. Tren ini begitu jamak sehingga pada 2014, satu dari lima penjara dan kantor polisi di Swiss setidaknya punya satu sel tahanan yang diberi cat pink flamingo.

Liputan Indonesia || Dunia, - Besi sel penjara cat pink tersebut bukanlah disengaja sebagai pilihan estetika untuk membuat penghuninya merasa lebih nyaman, melainkan pilihan yang didasari kajian ilmiah dari 1970-an.

Kala itu, seorang peneliti bernama Alexander Schauss membujuk sebuah fasilitas tahanan milik Angkatan Laut untuk mengecat beberapa sel tahanan dengan warna pink. Schauss berteori bahwa warna itu bisa mempengaruhi perilaku penghuninya secara positif, menenangkan, dan meredam emosi.

Hasilnya menunjukkan bahwa dia benar. Sebuah memorandum yang ditulis Biro Personalia Angkatan Laut menyatakan, tahanan hanya memerlukan 15 menit di dalam sel pink untuk meredam perilaku agresif dan berpotensi meredakan kekerasan.

Sejumlah tes di fasilitas tahanan lainnya tampak mendukung temuan tersebut. Kemudian begitu kajiannya diterbitkan pada 1979 dan 1981, warna yang digunakan—campuran 473ml cat merah outdoor semi-gloss dan 4.546ml cat latex putih indoor—mulai digunakan di berbagai penjara di seluruh dunia.

Warna pink tersebut—yang secara resmi disebut P-168 tapi dinamai pink Baker-Miller oleh Schauss guna mengenang direktur fasilitas tahanan AL yang menyetujui uji warna di sel-sel—menjadi terkenal. Ada pula pihak lain yang memberi nama "Drunk Tank pink" hingga "cool down pink".

penjara pink

SUMBER GAMBAR,AFP

Keterangan gambar,

Warna pink dinilai bisa mempengaruhi perilaku penghuni penjara secara positif, menenangkan, dan meredam emosi.

Tapi ada satu masalah: Hasil kajian Schauss tidak pernah secara sukses diulang di tempat lain.

“Sebuah kajian pada 2015, yang dilakoni secara layak melalui kondisi terkontrol, tidak menemukan bukti bahwa pink mengurangi agresivitas,” kata Domicele Jonauskaite, peneliti warna dari Universitas Wina di Austria.

Kemudian sebuah studi di Justizvollzugsanstalt Poschwies, Swiss, yang melibatkan 59 tahanan pria menemukan bahwa tidak ada perbedaan antara sel penjara berwarna putih dan pink dalam kaitannya dengan tingkat agresi tahanan.

Walaupun efek menenangkan dari warna pink "Drunk Tank" diragukan, kesiapan menerapkan cat warna tersebut di berbagai penjara berbicara sesuatu yang mendalam soal psikologi manusia terkait kekuatan warna.

Dan mungkin hal itu bukan salah tempat—memang ada bukti bahwa warna bisa mempengaruhi perilaku manusia secara mengejutkan tanpa kita menyadarinya.  

Warna merah mendorong manusia bertindak

Sebagai contoh, beberapa warna bisa digunakan untuk mendorong manusia bertindak. Sebuah riset membandingkan jumlah ketika seseorang di pinggir jalan meminta tumpangan kepada para pengendara yang melintas, karena mobilnya mogok.

Ketika orang tersebut, yang sejatinya anggota tim riset, memakai baju merah, dia diizinkan menumpang lebih sering ketimbang saat dia memakai baju warna lain.

Merah, dalam penelitian tersebut, tampak menghasilkan respons emosional secara langsung. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh Teori Berlin-Kay, yang dicetuskan dua akademisi AS pada 1960-an.

Sederhananya, mereka menemukan merah selalu menjadi warna ketiga yang berkembang dalam hampir 100 bahasa yang mereka kaji, setelah putih dan hitam. Semakin panjang kata untuk menamai sebuah warna, semakin banyak pula keterkaitannya, artinya, dan nuansanya. Melalui cara ini, warna tersebut menimbulkan dampak lebih banyak.

Di sisi lain, warna juga bisa digunakan untuk menurunkan daya juang. Salah satu ruang ganti di stadion Universitas Iowa dicat pink—termasuk toilet—guna mengikis semangat tim lawan dalam berkompetisi. Lagi-lagi, metode ini didasari oleh eksperimen peneliti Alexander Schauss

Seberapa efektif cara ini masih menjadi pertanyaan. Statistik tampak mengindikasikan bahwa ketika ruang ganti pink digunakan, tim Universitas Iowa memiliki tingkat kemenangan tinggi saat berlaga di kandang—meski banyak alasan lain mengapa demikian (mungkin memang mereka tim yang lebih kuat, sebagai salah satu contoh).

Sebagian besar riset mengenai bagaimana warna bisa mempengaruhi perilaku manusia adalah kontradiktif. Beberapa kajian mengindikasikan bahwa warna bisa mempengaruhi segalanya, mulai dari suasana hati dan emosi, seberapa cepat detak jantung, hingga kekuatan fisik.

Warna merah menyala, misalnya, diketahui bisa meningkatkan rangsangan dan mengusir kantuk. Beberapa eksperimen juga mengindikasikan tugas-tugas monoton, seperti memeriksa karya tulis, bisa lebih efektif jika dikerjakan di ruangan berwarna merah. Adapun tugas kreatif, seperti menulis esai, lebih baik dilakukan di ruangan berwarna biru. 

Akan tetapi, studi lain memperlihatkan bahwa merah dan biru juga bisa mengganggu perhatian ketika seseorang sedang menyelesaikan suatu tugas.

minuman

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES

Keterangan gambar,

Mana minuman yang lebih manis?

Warna menandakan rasa

Kontradiksi-kontradiksi ini membuat sejumlah peneliti untuk mewanti-wanti agar publik jangan terlalu fokus pada klaim-klaim mengenai manfaat psikologis dan terapeutik dari warna-warna. Alasannya, bukti-buktinya belum cukup untuk menopang klaim-klaim tersebut.

Namun ada beberapa area di mana warna dilaporkan jelas berpengaruh pada otak kita. Contohnya, warna bisa mengacaukan cara kita menggunakan indera perasa atau bahkan preferensi musik kita.

Satu hal yang jelas disampaikan warna merah dengan cukup konsisten adalah rasa manis. Sebuah kajian yang meneliti 5.300 orang di seluruh dunia menemukan bahwa minuman berwarna merah amat mungkin dipandang sebagai minuman manis—tidak peduli dari mana responden berasal.

Marie Wright, kepala ahli rasa dari ADM Nutrition yang bergerak di bidang prosesor makanan dan minuman, mengingat sebuah tes produk perasa stroberi yang dikembangkan perusahaannya. Para relawan susah payah mendeteksi perubahan rasa manis pada produk tersebut.

Namun ketika Wright dan koleganya mencerahkan warna merah pada produk, bukan meningkatkan kandungan gulanya, para responden mulai melaporkan peningkatan rasa manis.

“Kami menemukan bahwa Anda bisa membuat sesuatu terasa lebih manis jika warnanya dicerahkan. Seperti apel merah cerah, sebelum Anda menggigitnya, Anda berharap apel itu terasa lebih manis,” papar Wright.

Menurutnya, mencerahkan warna bisa mengelabui otak sehingga Wright dan koleganya bisa menurunkan kadar gula pada sejumlah resep hingga 10%-20%. Meski demikian hasil rangkaian tes ini belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah manapun.

Penting untuk berhati-hati terhadap warna dan nutrisi karena terdapat beberapa bukti warna bisa mengubah cara kita menikmati makanan, walau tidak serta-merta mempengaruhi taraf konsumsi kita dalam jangka panjang.

Charles Spence, seorang psikolog dari Universitas Oxford yang mengkaji cara indera kita berinteraksi satu sama lain sekaligus penulis buku mengenai sains di balik cara khalayak menyantap makanan, menilai pengaruh antara warna, rasa, dan rasa di dalam mulut muncul dari koneksi sosial yang tertanam sepanjang hidup kita.

Sebagian besar muncul dari pemasaran dan kemasan produk, tapi juga pengalaman menyantap makanan setiap hari, menurutnya.

 

Warna tertentu dikaitkan dengan kelembutan

Satu hal yang jelas, kita makan pertama kali melalui mata. Ketika kita melihat sajian yang diwarnai secara artifisial, kita merembukkan segala asumsi dan ekspektasi di dalam otak sebelum makanan itu masuk ke mulut. Misalnya, kita mungkin mengharapkan es loli berwarna biru cerah akan terasa seperti raspberry karena kita dilatih untuk berharap demikian dari es loli sejenis yang pernah kita makan.

Ketika koki atau perusahaan makanan bermain-main dengan keterkaitan otomatis tersebut, hal itu bisa mengacaukan cara kita menikmati makanan, kata Spence.

Jika es loli biru terasa seperti jeruk, misalnya, kemungkinan kita akan memerlukan waktu lebih lama untuk mengidentifikasi rasa tersebut. Apakah cara ini bisa mengubah intensitas rasa yang kita alami, sejumlah literatur ilmiah masih memperdebatkannya.

Kajian lain mencermati bagaimana warna label botol anggur mempengaruhi cara para responden mempersepsikan rasa anggur merah di dalam botol. Label merah dan hitam, misalnya, membuat para responden mengira minuman anggur itu bakal terasa masam.

Anehnya, warna juga bisa menyampaikan tipe informasi sensual. Bayangkan sebuah iklan handuk muncul di laman ini, maka Anda akan membayangkan kelembutan yang terpancar dari layar monitor atau gawai Anda.

Kelembutan yang muncul dalam pikiran Anda amat mungkin disebabkan warna pastel dari handuk yang diiklankan, menurut kajian Atefeh Yazdanparast, seorang professor di Fakultas Manajemen, Universitas Clark di Worcester, Massachusetts, AS.

“Saat saya menutup mata dan berpikir tentang kelembutan, warna-warna tertentu muncul dalam pikiran. Biasanya warna muda, seperti pink muda dan biru muda. Itulah pertanyaan yang saya pikirkan: apa kaitan antara pandangan mata dan indera sentuhan?”

Sederhananya, apakah warna bisa menyampaikan kelembutan atau kekasaran tanpa kita menyentuhnya secara langsung dengan tangan?

Berangkat dari pertanyaan itu, Yazdanparast dan koleganya, Seth Ketron, melakukan sejumlah tes. Ketron meneliti perilaku konsumen dan marketing sensori di Universitas North Texas.

Mereka meminta para responden menuliskan warna yang muncul dalam pikiran ketika membayangkan kelembutan. Hasilnya sama dengan apa yang dibayangkan Yazdanparast, warna-warna muda.

Kedua peneliti tersebut lantas meminta para responden menatap warna-warna yang berbeda, tiga kali pada tiap-tiap warna. Masing-masing punya saturasi atau intensitas yang sama, tapi bervariasi dari muda hingga gelap. Ketika diminta menjelaskan, warna muda dipilih sebagai yang paling lembut sebanyak 91,2%.

Meski temuan mereka belum dipublikasikan dan sedang ditinjau oleh sesama akademisi sebagai bagian dari kajian ilmiah yang lebih besar, Yazdanparast merujuk kajian serupa dengan para responden Turki dan Lebanon yang menghasilkan temuan serupa.

Kali ini, Yazdanparast dan Ketron mengkaji para responden dari AS. Jika hasil kajian mereka bisa dipertahankan, maka kelembutan bisa diindikasikan memiliki keterkaitan struktural dengan warna-warna muda ketimbang linguistik.

“Semakin gelap warna yang kita lihat, semakin intens sensasi sentuhannya,” kata Yazdanparast.

Dalam konteks evolusi, bisa jadi warna-warna gelap bertindak sebagai semacam peringatan terhadap nenek moyak kita sehingga “mendorong mereka untuk mengamankan diri”, tambahnya, berspekulasi.

Jika diperluas, penelitian Yazdanparast berfokus pada pengambilan keputusan konsumen. Sehingga dia ingin melihat bagaimana jika temuan-temuannya diterapkan di luar laboratorium.

Dia dan rekannya kembali melakukan tes. Kali ini para responden diminta menatap produk-produk pada sebuah layar secara berpasangan. Setiap produk berwarna sama, tapi satunya lebih muda.

Yang dimunculkan secara sengaja adalah produk-produk di mana faktor sentuhan menjadi hal penting dalam keputusan membeli—seperti handuk, seprei, dan sofa.

“Kami melihat bahwa warna muda menghasilkan tingkat antisipasi kelembutan yang lebih tinggi. Ini kemudian diterjemahkan menjadi niat membeli yang lebih tinggi.”

Para responden juga bersedia membayar lebih untuk barang-barang yang dianggap lebih lembut.

Yang tampaknya terjadi adalah otak kita memakai warna sebagai sinyal visual untuk mengompensasi sentuhan. Dan itu digunakan oleh para penjual, misalnya, tisu toilet. Biasanya produk itu dibungkus plastik di supermarket.

Walau kita tidak bisa menyentuhnya secara langsung, tapi hampir bisa dipastikan produk tersebut berwarna pastel muda.

“90% peninjauan produk yang kita lakukan awalnya berdasarkan warna,” kata Yazdanparast.

warna merah

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES

Keterangan gambar,

Warna tertentu kerap punya makna tertentu dalam berbagai budaya.

Warna dipakai untuk menyampaikan informasi

Ketika warna muda mengindikasikan kelembutan, intensitas warna mengindikasikan kuantitas, menurut Karen Schloss, seorang psikolog dari Universitas Wisconsin-Madison dan salah satu peneliti warna yang terpandang.

Dia membantu mengembangkan teori valensi ekologi yang menjelaskan mengapa kita menjadikan warna tertentu sebagai warna favorit.

Dia menunjuk pada grafis data mengenai warna. Intensitas warna tertentu mungkin diniatkan untuk dipakai memanipulasi cara Anda menerjemahkan informasi.

“Orang-orang mengaitkan warna gelap dengan kuantitas besar. Ini banyak digunakan pada banyak peta pandemi yang saya lihat. Makin banyak kasus, atau kematian, maka warnanya semakin gelap,“ ujarnya. 

Pengaitan seperti ini bisa memunculkan masalah, kata Schloss mewanti-wanti.

Jika data disajikan dengan menggunakan warna-warna muda untuk mewakili kuantitas besar, orang-orang bisa salah paham terhadap apa yang mereka lihat.

Jika sebuah peta muncul di layar sepersekian detik, “Anda akan menerjemahkan bahwa gelap berarti lebih banyak, bukan warna muda—walaupun bukan itu yang benar-benar ditunjukkan data,” jelasnya.

keranjang sampah

SUMBER GAMBAR,ALAMY

Keterangan gambar,

Keranjang sampah dengan warna tertentu bisa menyampaikan informasi kepada khalayak.

Schloss menunjukkan bahwa warna bisa dipakai demi kebaikan—seperti mendorong perilaku bermasyarakat yang lebih baik.

Risetnya baru-baru ini menyelisik berbagai makna yang kita sematkan pada warna-warna.

“Kita ingin memahami bagaimana pengaitan terhadap warna yang orang-orang buat mempengaruhi ekspektasi mereka—sehingga kami bisa mengantisipasinya dan mendesain untuk mencocokkannya dan membuatnya lebih mudah untuk diterjemahkan,” paparnya.

Dia dan sejumlah koleganya membuat tempat sampah daur ulang sebagai dasar eksperimen tertentu.

Bayangkan enam tempat sampah, masing-masing sama ukuran dan bentuknya. Tapi setiap tempat sampah dialokasikan untuk kategori berbeda, seperti “gelas”, “logam”, “kompos”, dan sebagainya.

Schloss berpendapat bahwa mengubah warna tempat sampah bisa menyampaikan maksud kategori sampah yang ditampung kepada khalayak sehingga dapat mengatur perilaku manusia dan meminimalisasi kesalahan dalam pendauran ulang.

Ketika dia dan rekan-rekannya memperlihatkan enam tempat sampah dengan warna berbeda kepada para responden dan meminta mereka melabeli setiap tempat sampah, sebuah pola muncul.

Beberapa warna dikaitkan dengan kategori tertentu. Misalnya, cokelat dan kuning langsung dikaitkan dengan sampah. Warna lainnya tidak demikian. Merah, misalnya, tidak langsung dikaitkan dengan kategori tertentu—walau ada sedikit responden yang mengaitkannya dengan “plastik“.  

Dengan demikian, makna warna kontekstual, kata Schloss.

Sebuah keranjang putih mungkin mengindikasikan itu adalah penampung sampah kertas. Sedangkan keranjang merah sedikit maknanya.

Akan tetapi jika dikedepankan secara bersama, keenam keranjang warna bisa mengomunikasikan lebih banyak hal dan lebih subtil.

Penelitian lain menunjukkan bahwa warna dapat berdampak langsung pada kinerja, terutama di kalangan anak-anak.

Ketika anak berusia delapan dan sembilan tahun melakukan serangkaian tugas di hadapan warna yang berbeda, akademisi mendapati kinerja mereka secara keseluruhan lebih buruk secara signifikan di sekitar merah dan abu-abu, yang digunakan sebagai dasar.

Dan, lupakan pemikiran langit biru, cobalah pemikiran ruang hijau – setidaknya jika satu studi kreativitas kredibel, yang menunjukkan korelasi antara kreativitas di kalangan anak-anak dan keberadaan warna hijau, atau benda warna hijau seperti tanaman.

Dan jika Anda ingin seorang anak berkonsentrasi, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengecat ruang kelas dengan warna cerah sehingga meningkatkan nilai membaca mereka.

”Semua hal ini menunjukkan warna lebih kuat dari yang kita kira,” kata Schloss.


Penulis :one
Source: bbc indonesia


Media Liputan Indonesia

DIATUR OLEH UNDANG - UNDANG PERS
No. 40 Thn. 1999 Tentang Pers


HAK JAWAB- HAK KOREKSI-HAK TOLAK


Kirim via:

WhatsApps / SMS:
08170226556 / 08123636556
Email Redaksi:
NewsLiputanIndonesia@gmail.com

PT. LINDO SAHABAT MANDIRI
Tunduk & Patuh Pada UU PERS.



Komentar

Baca Juga:




Pengunjung Hari ini
Isi Pemberitaan Tanggung Jawab Wartawan Masing-masing, PT. Lindo Sahabat Mandiri penerbit Media Liputan Indonesia hanya memberikan bantuan Hukum bilamana melanggar / tidak sesuai dengan Kode Etik Jurnalis sesuai UU Tentang Pers no. 40, Tahun 1999. Wartawan Liputan Indonesia Wajib Tunduk dan Patuh serta Bekerja Berdasarkan Kode Etik Jurnalis dan UU Tentang Pers No: 40 Thn 1999. Liputan Indonesia, Berita Terbaru, Berita Utama
toko online zeirshopee
Nama

#BeritaViral,154,Advertorial,311,BAIS,5,Berita Utama,2037,Berita-Terkini,1164,BIN,9,BNNK,8,BNNP,5,Capres 2024,3,Covid-19,131,Destinasi-Wisata,66,EkoBis,379,Galeri-foto-video,151,Gaya-Hidup,119,Hak Jawab,4,Hoax / Fakta,5,Hobby,58,HuKrim,1312,Info Haji,19,Internasional,346,Internet,78,Kesehatan,512,Kicau Mania,21,KPK,6,Kuliner,14,Laporan-Masyarakat,402,Lindo-TV,114,Liputan Haji Indonesia,5,Liputan-Investigasi,371,Lowongan Kerja,3,Melek-Hukum,67,Nasional,1657,Olahraga,85,Opini Rakyat,157,Otomotif,12,Pemerintah,1087,Pendidikan,124,Peristiwa,609,PERS,3,Pilpres 2024,1,Politik,543,POLRI,1454,Pungli,30,Regional,3666,Religi,190,Sejarah,56,Selebritis,74,Seni-Budaya,88,ShowBiz,101,Technology,132,Tips-Trick,114,TNI,717,
ltr
item
Berita Utama, Informasi Terbaru, Kabar Terkini, Indonesia dan Dunia - LiputanIndonesia.co.id: Kenapa sejumlah sel penjara dicat warna pink?
Kenapa sejumlah sel penjara dicat warna pink?
Liputan Indonesia || Dunia, - Besi sel penjara cat pink tersebut bukanlah disengaja sebagai pilihan estetika untuk membuat penghuninya merasa nyaman
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQWIjMZ-TtHhtYIsqxLjyoO0qsC31LNCVri3ypTG_261CMHEl0J5ndiNIoeyyU-G1-oNwCz8nNH25CqWb41jhl2muUemiE0Iv_I0qbbFZKynd5o8FyhpSuP7uBViEnXVbeE1DV_SB4qquZAYeIC5zcF3KBz-KT9MwkQhWq9nGw03FoqbFlFqmu0wM2AA/w640-h360/Sheriff%20Mike%20Rackley%20berdiri%20di%20dalam%20satu%20di%20antara%20sejumlah%20sel%20tahanan%20berwarna%20pink%20di%20Buffalo,%20Missouri,%20Amerika%20Serikat,%202006%20lalu..webp
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQWIjMZ-TtHhtYIsqxLjyoO0qsC31LNCVri3ypTG_261CMHEl0J5ndiNIoeyyU-G1-oNwCz8nNH25CqWb41jhl2muUemiE0Iv_I0qbbFZKynd5o8FyhpSuP7uBViEnXVbeE1DV_SB4qquZAYeIC5zcF3KBz-KT9MwkQhWq9nGw03FoqbFlFqmu0wM2AA/s72-w640-c-h360/Sheriff%20Mike%20Rackley%20berdiri%20di%20dalam%20satu%20di%20antara%20sejumlah%20sel%20tahanan%20berwarna%20pink%20di%20Buffalo,%20Missouri,%20Amerika%20Serikat,%202006%20lalu..webp
Berita Utama, Informasi Terbaru, Kabar Terkini, Indonesia dan Dunia - LiputanIndonesia.co.id
https://www.liputanindonesia.co.id/2022/08/kenapa-sejumlah-sel-penjara-dicat-warna.html
https://www.liputanindonesia.co.id/
https://www.liputanindonesia.co.id/
https://www.liputanindonesia.co.id/2022/08/kenapa-sejumlah-sel-penjara-dicat-warna.html
true
2214155929705458232
UTF-8
Buka semua Berita BERITA TIDAK ADA BUKA SEMUA BACA JUGA BALAS Cancel saja HAPUS Penulis NEWS HALAMAN ARTIKEL BUKA SEMUA Penting Dibaca.. BERITA UTAMA Arsip CARI SEMUA BERITA YANG KAMU CARI TIDAK ADA BRO.. Kembali saja.. Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content