2 Anak Miskin Putus Sekolah, Progam Wajib Belajar Tak Merata di Sidoarjo

0
644

SIDOARJO – Terkait gencar gencarnya program pemerintah wajib belajar tampaknya tidak merata di kabupaten Sidoarjo, Pasalnya, kedua anak ini yang bernama Mirathul Aufa (11) siswi kelas V dan Rini Nur Cahyati (4) siswi kelas I SDN Glagaharum, Porong, Sidoarjo harus putus sekolah lantaran kedua orang tuanya terhimpit ekonomi dan ditambah anak ke tiganya yang balita sakit.

Kedua anak putus sekolah ini adalah putri pasangan Fathul Mubin dengan Indri Tri Novelia, tidak punya biaya dan  harus menjaga serta merawat adiknya bernama Fatimah 3,5 tahun yang menderita hydrocephalus. Ibunya meninggalkan rumah sejak dua bulan lalu, sang bapak berjualan sayur keliling kampung. Senin, (3/9/18).

Hasil wawancara pada salah satu anak ini, bercerita dengan lugu menjelaskan kepada wartawan, ” Saya dan saudara tidak sekolah, bapak gak punya biaya dan harus menjaga adik yang sakit. Karena ibu pergi dari rumah. Bapak mencari nafkah untuk keluarga, berjualan sayur keliling kampung.” jelas Mirathul Aufa, siswi kelas V yang putus sekolah.

Lanjutnya “Ibu meninggalkan rumah saat saya dan adik pergi ke sekolah. Karena tidak ada yang merawat dan menjaga, saya dan adik berhenti sekolah sejak ibu pergi meninggalkan rumah, bapak gak punya biaya. ” kata Mira.

Baca juga:  DPUPR Sampang Menjual Proyek ke Kontraktor

Keluarga miskin ini, diketahui Fathul Mubin tercatat asal RT 04 RW 06 Desa Besuki Kec. Jabon, dan kini berdomisili di RT 13 RW 03 Desa Glagaharum Kec. Porong, Sidoarjo.

Terpisah, saat awak media menemui Pj Kepala Desa, Besuki Jema’in mengakui bahwa keluarga Fathul Mubin asal Besuki Kec. Jabon pindah ke Glagaharum Kec. Porong karrna terkena dampak lumpur.

Jema’in mengakui anak ketiga pasangan Fathul Mubin dengan Indri ada yang menderita hydrocephalus. Hal itu kata Jemain, kondisi Fatimah sudah masuk data dan tercatat dalam program Dinas Sosial Sidoarjo.

Namun bantuan yang diharapkan, sampai kini tak kunjung ada realisasinya. “Sampai sekarang belum ada realisasi dan sampai kapan bantuan dari Dinsos Kab. Sidoarjo, itu terwujud, kami belum tahu pasti,” tutur Jema’in selaku kepala desa.

Lanjutnya, Jema’in mengakui sudah dua kali bertandang ke rumah Fathul Mubin, tapi tidak ketemu dengan Fathul Mubin sendiri. Jemain dan stafnya itu hanya ketemu sama Mira dan Rini serta Fatimah adiknya yang dijaga.

Baca juga:  Komjen Pol. Drs. Unggung Cahyono Sebagai Irup Upacara Apel OPS Mantap Brata Di Polda Jatim

Pihaknya terus memantau dan melakukan pengawasan terhadap keluarga tersebut sambil berkoodinasi dengan instansi terkait di Kecamatan Jabon.

“Sebelumnya Fathul Mubin sudah pernah saya sarankan untuk segera mengurus surat pindah dari Desa Besuki Jabon ke Desa Glagaharum Porong. Namun saya dan Puskesmas Jabon terus memantau perkembangan Fatimah,” tambah Jema’in.

Sementara, Plh Desa Glagaharum Anfas Djauhar melalui Sekretaris Desa Zainul Taufiq menjelaskan, awal pindahnya Fathul Mubin ke Desa Glagaharum karena terdampak lumpur. Seharusnya ada perpindahan tempat supaya nantinya pendataan pindah tempat ada status bertempat tinggal yang jelas.

Sedangkan Fatkul Mubin pernah mendatangi Balai Desa Glagaharum minta surat untuk berobat anaknya. Terus tidak ada kabar lagi dari keluarganya. Sebab meminta surat keterangan dokter itu sesuai domisili dan identitas yang dimiliki.

“Apalagi kondisinya Fatimah perlu pengontrolan lebih intensif agar tidak menjadi kendala pada bagian adminitrasibya,” imbuh Anfas.

Keluarga Fathul Mubin masih tercatat sebagai penduduk Desa Besuki. Dan di Desa Glagaharum tidak tercatat memiliki Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. (one)

Bagikan berita ini

Berita Video

#infolinksbanner_dapatduitonline
hak-jawab-hak-koreksi-hak-tolak-lindo iklan-adsense
#infolinksbanner_dapatduitonline